Tawassul Kepada Nabi yang Disyari’atkan dan yang Tidak Disyari’atkan - TSABITMEDIA.COM
News Update
Loading...

Tuesday, June 1, 2021

Tawassul Kepada Nabi yang Disyari’atkan dan yang Tidak Disyari’atkan

 

Tawassul Kepada Nabi yang Disyari’atkan dan yang Tidak Disyari’atkan
Fatwa no. 1/1
 
Judul : Tawassul Kepada Nabi yang Disyari’atkan dan yang Tidak Disyari’atkan
Mufti : Syaikh Bin Baz rahimahullah
Sumber : al-Fatawa asy-Syar’iyyah fii al-Masa’il al-‘Ashriyyah min Fatawa ‘Ulama’ al-Balad al-Haram, hlm. 29 – 30.
 

Pertanyaan: “Apa hukum bertawassul kepada Sayyidul Anbiya (pemimpin para nabi)*, dan adakah dalil-dalil yang mengharamkannya?”
 
Jawaban: Berkaitan dengan tawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat perincian mengenai hal ini.
 
    Apabila tawassul yang dimaksud adalah dengan cara ber-ittiba’ (mengikuti) kepada beliau, mencintai beliau, melakukan apa yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang, serta ikhlas di dalam beribadah kepada Allah – Subhanahu wa Ta’ala -, maka inilah Islam, agama Allah yang dengannya Allah utus para nabi, yang menjadi kewajiban atas seluruh mukallaf**, dan merupakan wasilah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
 
    Adapun tawassul dengan cara memimta kepada beliau, ber-istighatsah kepada beliau, memohon pertolongan kepada beliau untuk mengalahkan musuh-musuh, dan meminta kesembuhan kepada beliau dari penyakit, maka hal ini adalah syirik akbar (syirik besar). Dan ini adalah agamanya Abu Jahal dan yang semisal dengannya dari para penyembah berhala (paganism). Dan begitu pun apabila dilakukan kepada selain beliau, baik kepada para nabi, jin, para malaikat, pepohonan, bebatuan atau pun kepada berhala-berhala.
 
    Dan ada jenis ketiga dari bentuk tawassul, yang banyak dilakukan oleh manusia, yaitu bertawassul dengan jah (kedudukan) beliau, hak atau sosok beliau, sebagaimana yang diucapkan oleh seseorang: “Aku memohon kepada-Mu Ya Allah, melalui Nabi-Mu, atau melalui kedudukan Nabi-Mu, melalui hak Nabi-Mu, atau melalui kedudukan para Nabi-Mu, melalui hak para Nabi-Mu, atau melalui kedudukan para aulia-Mu dan orang-orang shalih”, dan yang semisal dengannya, maka ini adalah bid’ah dan termasuk sarana yang membawa kepada kesyirikan. Tidak boleh melakukan hal ini, baik kepada beliau ataupun kepada selain beliau. Karena Allah – Subhanahu wa Ta’ala – tidak pernah mensyari’atkan hal tersebut, sedangkan ibadah itu bersifat tauqifiyyah (harus ada dalil yang memerintahkan, -pent.), maka tidak boleh melakukan salah-satu darinya kecuali telah terdapat dalil yang menunjukkan (memerintahkan atau membolehkan, -pent.) kepada hal tersebut dari syari’at yang suci ini.
 
    Adapun tawassul yang dilakukan oleh seorang sahabat yang buta kepada Nabi ketika beliau masih hidup. Maka yang dilakukannya adalah bertawassul kepada beliau, agar beliau mendoakannya dan memohon syafaat kepada Allah sehingga penglihatannya dapat kembali normal. Jadi, bukan bertawassul dengan dzat (sosok) beliau, jah (kedudukan) beliau, atau hak beliau. Sebagaimana hal ini dapat diketahui melalui konteks hadits***, dan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama as-Sunnah ketika menjelaskan hadits tersebut.
 
    Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah memaparkan panjang lebar mengenai hal tersebut di dalam kitab-kitab beliau yang banyak dan bermanfaat, di antaranya adalah kitab beliau yang berjudul “al-Qa’idah al-Jalilah fii at-Tawassul wa al-Wasilah.” Ini adalah kitab yang sangat bermanfaat dan layak untuk dirujuk dan dipelajari.
 
    Dan hukum tawassul seperti ini diperbolehkan kepada orang yang masih hidup selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti misalnya Anda berkata kepada saudara Anda, kepada ayah Anda, atau kepada seseorang yang Anda pandang baik: “Berdo’alah kepada Allah untuukku agar Allah menyembuhkan penyakitku”, atau “agar Allah mengembalikan penglihatanku”, “atau agar Allah memberikan kepadaku keturunan yang shalih”, atau semisalnya. Hal semacam ini diperbolehkan berdasarkan ijma’ para ulama. Wallahu waliyy at-Taufiq.
Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah, Syaikh Bin Baz rahimahullah, Juz 5, hlm. 322 – 323.
Diterjemahkan oleh Fauzan al-Banjary 21/05/21.
______________________________
Catatan kaki:
(*). Sayyidul Anbiya (سيّد الأنبياء) artinya adalah pemimpin atau penghulu para nabi, dan yang dimaksud adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan sabda beliau,
((أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ، وَ مَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَاءِيْ وَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ)).
“Aku adalah pemimpin anak adam pada hari kiamat dan aku tidak sombong, dan di tanganku bendera al-Hamd dan aku tidak sombong, dan tidak ada seorang Nabi pun, tidak pula Adam juga yang lainnya ketika itu kecuali semua di bawah benderaku, dan aku orang pertama yang keluar dari tanah/kubur dan aku tidak sombong.” (HR. at-Tirmidzi no. 3614).
(**). Mukallaf artinya seseorang yang dibebani oleh hukum syari’at.
(***). Hadits yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin Hunaif: “Bahwasanya datang kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- seorang lelaki yang buta dan berkata: ‘Berdo’alah kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepadaku kesehataan’. Lalu beliau bersabda: ‘Jika engkau mau aku akan berdo’a untukmu sekarang atau aku urungkan dan itu kebaikan untuk mu, engkau dapat memilihnya.’ Lelaki itu berkata: ‘Berdo’alah kepada-Nya sekarang’. Maka beliau menyuruhnya untuk berwudhu’, lalu ia pun berwudhu’ dengan sempurna, kemudian shalat dua raka’at dan berdo’a dengan do’a ini,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ فَتَقْضِي لِي اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu, Muhammad, Nabi yang penyayang. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabb-ku melalui engkau dalam hajatku ini, sehingga engkau dapat memutuskannya untukku.”
(HR. Imam Ahmad (8/138), dan at-Tirmidzi dalam ‘Kitab ad-Da’awat’ (3578), an-Nasa’i dalam ‘Kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah’, hlm. 204, dan Ibnu Majah dalam ‘Kitab Iqamah ash-Shalah’, no. 1385).

Share with your friends

Give us your opinion

Notification


لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kalian bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmat pada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat Allah, maka pasti azab Allah sangat pedih

(QS. Ibrahim Ayat 7)

Done