Setiap Amal Bernilai Ibadah - TSABITMEDIA.COM
News Update
Loading...

Wednesday, April 17, 2019

Setiap Amal Bernilai Ibadah



Para ulama menjelaskan bahwa ibadah meliputi segala sesuatu yang disukai dan diridhai Allah, baik itu perkataan maupun perbuatan, yang tampak atau yang tersembunyi. Dengan demikian, berarti segala aktivitas yang kita lakukan sehari-hari dapat bernilai ibadah disisi-Nya.
Terkait hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَفِي بِضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
"Dan menggauli istri juga termasuk sedekah." (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, beliau ﷺ juga bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ

"Sesungguhnya, tidaklah engkau mengeluarkan nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah, kecuali engkau diganjar dengan pahala atasnya, hingga sesuatu yang engkau suapkan ke mulut istrimu." (HR. Bukhari)

Dalam kitab Fat-hul Bari, al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan: "Yang dimaksud hadits tersebut adalah sabda Rasulullah: 'Yang dengannya engkau mengharap--yakni mencari--wajah Allah.'

Dari redaksi tersebut, Imam an-Nawawi menarik kesimpulan bahwa jika sebuah aktifitas berupa kesenangan duniawi selaras dengan kebenaran ukhrawi, maka itu tidak mengurangi nilai pahala dari aktivitas tersebut sama sekali (apabila niatnya ibadah).

Sebab menyuapkan makanan ke mulut istri biasanya dilakukan ketika bercanda. Tentu saja hal ini tidak luput dari dorongan nafsu syahwat. Walaupun begitu, apabila tujuannya mengharap wajah Allah, niscaya ia memperoleh pahalanya dengan karunia ilahi.

Ibnu Hajar melanjutkan: "Dalam hadits lain disebutkan lafadz yang lebih gamblang daripada sekedar menyuapkan makanan ke mulut istri. Yaitu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Dzar, bahwasannya di situ disebutkan: 'Dan hingga seseorang berhubungan intim dengan istrinya juga terhitung sedekah!' 
Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, apa seseorang yang melampiaskan syahwatnya juga mendapatkan ganjaran berupa pahala?'
'Bagaimana menurut kalian jika orang itu melampiaskan syahwatnya pada perkara yang haram?" Demikianlah beliau menanggapi pertanyaan mereka. 

Imam an-Nawawi berkata: "Jika demikian keadaannya--mendapat pahala dalam perkara yang dikehendaki nafsu--maka tentu akan lebih layak lagi apabila pahala diberikan pada perkara yang tidak didorong oleh nafsu pribadi?" 

Imam an-Nawawi melanjutkan: "Tujuan perumpamaan 'menyuapkan makanan ke mulut istri' adalah mempertegas kaidah tentang adanya pahala di balik semua aktivitas kita yang diniatkan untuk beribadah. Sebab apabila menyuapkan makanan ke mulut istri sekali saja sudah berpahala, niscaya pahala lebih layak diberikan kepada yang memberi makan orang-orang yang  membutuhkan makanan, atau mengerjakan amalan ketaatan yang tingkat kesulitannya lebih besar daripada menyuapkan nasi ke mulut istri.
Lebih dari itu, dapat dikatakan: Jikalau pahala yang diberikan kepadanya karena ia memberi makan istrinya, yang tentunya ia juga akan memperoleh keuntungan dari hal itu, sebab makanan itu menjadikan tubuh istrinya semakin cantik, dan biasanya nafkah yang diberikan kepada istri itu lebih banyak didorong oleh faktor nafsu. Maka hal ini jelas berbeda dengan bersedekah kepada orang lain yang lebih banyak menuntut pengorbanan, wallahu a`lam."

Dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa seluruh perbuatan mubah yang kita kerjakan seperti tidur, makan , mencari rezeki, dan lainnya dapat dijadikan bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Sehingga cara itu memberi peluang bagi seorang muslim untuk memperoleh beribu-ribu kebaikan dengan syarat niatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Semua perbuatan yang kita kerjakan d iatas semakin bertambah nilai pahala serta keutamaannya apabila kita bersungguh-sungguh menerapkan sunnah Rasulullah sebagai bukti cinta kita kepada beliau dan sikap ittiba` kita yang tulus kepada ajaran beliau.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification


لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kalian bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmat pada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat Allah, maka pasti azab Allah sangat pedih

(QS. Ibrahim Ayat 7)

Done