Pengertian Badal | Macam Badal | Nahwu Praktis - TSABITMEDIA.COM
News Update
Loading...

Sunday, June 24, 2018

Pengertian Badal | Macam Badal | Nahwu Praktis

Pengertian Badal, Macam-Macam Badal, Contoh Badal Dalam Al-Qur'an dan Perbedaan Badal Dengan 'Athaf Bayan

السلام عليكم ورحمة الله
إنَّ الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد
Apa pengertian badal? Adakah syarat-syarat untuk badal? Ada berapa jenis badal? Apa Perbedaan badal dengan ‘athaf bayan?
Sebagai pendekatan untuk menerapkan kaidah tersebut Pengertian Badal | Macam Badal | Nahwu Praktis

Badal,- Secara harfiah, Pengertian badal adalah 'pengganti', diambil dari بَدَلَ يَبْدُلُ بَدَلًا artinya 'menggantikan'. Sedangkan menurut istilah nahwu, badal adalah:
البَدَلُ هُوَ التَّابِعُ الْمَقْصُوْدُ بِالْـحُكْمِ بِلَا وَاسِطَةٍ
“Badal adalah tabi’ (kata yang mengikuti kata sebelumnya) yang dimaksud oleh hukum (predikat) tanpa perantaraan (huruf atau apapun)” 
Sebagai pendekatan untuk menerapkan kaidah tersebut, dalam bahasa Indonesia: Seseorang bermaksud mengatakan bahwa Zaed telah datang  tapi dia mengucapkan: Kuda, eh Zaed telah datang. Maka kata Zaed disebut badal, sebab yang dimaksud oleh hukum/predikat “datang” adalah Zaed, bukan kuda. 
Demikian pula contoh: Muhammad, ilmunya bermanfaat bagi kita. Kata “ilmunya” adalah yang dimaksud oleh hukum/predikat “bermanfaat”, bukan kata “Muhammad”. Sekalipun, antara ilmu dan Muhammad itu ada kaitan yang tidak bisa dipisahkan. Namun, Fokus pembahasan kalimat tersebut bukan “Muhammad”, tapi ilmunya. Semoga kedua contoh ini mendekatkan kita pada pemahaman kaidah badal tersebut di atas.
Jika dirubah menjadi bahasa Arab contoh kedua kalimat tersebut menjadi:
جَاءَ الْفَرَسُ زَيْدٌ
نَفَعَنَا مُحَمَّدٌ عِلْمُهُ
Kata زَيْدٌ pada contoh pertama dan kata عِلْمُهُ pada contoh kedua adalah kata yang dimaksud oleh hukum (predikat) istilahnya dikenal dengan badal/mubdal sedangkan kata الْفَرَسُ dan مُـحَمَّدٌ disebut dengan mubdal minhu
Kalimat: “Zaed tidak berdiri tapi Amar” (لاَ يَقُوْمُ زَيْدٌ بَلْ عَمْرٌو), memang Amar yang dimaksud oleh hukum ‘berdiri’ (يَقُوْمُ) tapi Amar tidak bisa disebut badal, sebab menggunakan perantara huruf yaitu ‘tetapi’ (بَلْ). Demikian pula kalimat: جَاءَ زَيْدٌ وَ عَمْرٌو (Zaed dan Amar datang). Amar tidak disebut badal sekalipun dimaksud oleh hukum جَاءَ, karena menggunakan perantaraan huruf وَ. Sedangkan badal adalah kata yang dimaksud oleh hukum (predikat) tetapi tanpa menggunakan perantaraan haraf, tidak seperti 'athaf, taukid ataupun na'at

Apa ada syarat suatu kata disebut badal?

Ya, syarat tersebut adalah:
1. Tidak boleh membuat badal tanpa mubdal minhu
2. Badal harus mengikuti mubdal minhu dalam segi i’rob-nya saja
3. Tambahan: Mubdal minhu bukan hanya berupa isim saja, tetapi juga bisa berupa fi’il.  

Ada berapa jenis badal itu?

Jenis badal dalam kitab al-Ajurumiyah ada empat:
1. بَدَلُ شَيْئٍ مِنْ شَيْئٍ
Disebut juga badalul kulli minal kulli atau badalul muthobiq. Adalah badal yang mubdal minhu merupakan badal itu sendiri atau badal adalah mubdal minhu itu sendiri (itu-itu juga). Contoh:
الإِمَامُ أَحْمَدُ أَهْلُ الْحَدِيْثِ
“al-Imam, Ahmad adalah seorang ahli hadits”
رَأَيْنَا أُخْتَكَ فَاطِمَةََ 
“Kami melihat saudarimu, Fatimah”
Kata yang dimaksud dalam kalimat itu adalah أَحْمَدُ dan فَاطِمَةُ, maka dari itu, أَحْمَدُ dan فَاطِمَةُ disebut badal/mubdal, الإمَامُ dan أُخْتَ disebut mubdal minhu.  
Contoh dalam al-Qur’an:
اهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيمَ () صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (الفاتحة: 6-7)
يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ... (البقرة: 102)
ذَالِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِـلْمُتَّقِيْنَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ (البقرة: 2-3)
وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ الَّذِيْنَ إذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إنَّا للهِ وَإنَّآإلَيْهِ رَاجِعُوْنَ (البقرة: )
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ... (البقرة: 126)
قَالُوا نَعْبُدُ إِلـهَـكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (البقرة: 133)
Semua contoh tersebut merupakan sebagian contoh badal muthobiq/Badal syai minassyai/badal kull minal kull. Dalam al-Qur’an sangatlah banyak contoh badal jenis ini. Untuk klarifikasi, sobat pembaca bisa membuka tafsir al-Jalalain
2. بَدَلُ الْبَعْضِ مِنَ الْكُلِّ atau بَدَلُ الْبَعْضِ
Pengertian badalu alba’dli min al-kulli adalah badal yang mubdal merupakan bagian dari mubdal minhunya dari tinjauan kuantitas. Oleh karena itu, badal ini mesti ada dlomir yang kembali pada mubdal minhunya, baik dengan cara idlofat atau selainnya. Contoh:
أَكَلْتُ الرَّغِيْفَ نِصْفَهُ
“Saya memakan roti, setengahnya”
الطُّلَّابُ بَعْضُهُمْ يَنْصُرُ بَعْضًا
“Pelajar, sebagiannya menolong sebagian lain”
Kata نِصْفَهُ dan بَعْضُهُمْ adalah badal/mubdal yang merupakan bagian dari mubdal minhunya, yakni kata: الرَّغِيْفَ dan الطُّلَّابُ
Contoh lain dalam al-Qur’an:
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ... (البقرة: 251)
وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُـوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (المائدة: 71)
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا () نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (المزّمّل: 2-3)
3. بَدَلُ اشْتِمَالٍ
Badal isytimal adalah hampir sama dengan badalul ba’dli minal kull. Hanya saja, badal isytimal lebih mencakup nilai/kualitas/substansi yang terkandung dalam mubdal minhunya, yang mana, nilai atau kualitas tersebut tidak bisa dipisahkan dari mubdal minhunya. Oleh karena itu, tidak bisa dikatakan bahwa badal/mubdal itu adalah mubdal minhu itu sendiri, juga tidak bisa dikatakan bahwa badal merupakan bagian dari mubdal minhunya secara kuantitas. Perhatikan contoh yang kedua sebelum pembagian badal yakni kalimat: 
نَفَعَنَا مُحَمَّدٌ عِلْمُهُ
Kata عِلْمُهُ adalah badal dari kata مُحَمَّدٌ, badalnya termasuk badal isytimal. Tidak bisa dikatakan badalu syai minassyai, tidak juga badalul ba’dli minal kull. Karena tidak bisa dikatakan bahwa ilmunya adalah Muhammad itu sendiri, juga tidak bisa dikatakan bahwa ilmunya adalah bagian dari Muhammad secara kuantitas. Tapi antara ilmunya dan Muhammad memiliki keterkaitan berupa nilai/kualitas/substansi yang erat dan tidak bisa dipisahkan. Atau contoh lain:
اِتَّقِ اللهَ عَذَابَهُ
“Takutlah pada Allah, azabnya”
Kata عَذَابَهُ adalah badal isytimal dari mubdal minhu; الله. Kenapa disebut badal isytimal?. Karena tidak bisa dikatakan bahwa azab itu adalah Allah, atau azab itu bagian berupa kuantitas dari Allah. Tapi antara azab dan Allah ada keterkaitan nilai/kualitas/substansi yang tak bisa dipisahkan.
Untuk memudahkan pemahaman kita tentang badal isytimal, boleh juga dikatakan: Badal isytimal itu adalah jika badal bukan mubdal minhu itu sendiri, juga badal bukan bagian dari mubdal minhunya secara kuantitas. 
Contoh lain dalam al-Qur’an:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ... (البقرة: 217)
Yakni nilai yang terkandung dalam peperangan yang terjadi di bulan haram, bukan bulan haram itu sendiri juga bukan bagian dari bulan haram
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (يس: 13)
Yakni nilai yang terkandung dalam kedatangan rosul kepada penduduk kampung itu
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ... (الأعراف: 172) 
وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ... (الأحقاف: 21) 
Contoh badal dari sebuah fi’il:
وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا (الكهف: 63)
4. بَدَلُ الغَلَطِ
Badal gholath adalah badal yang merupakan ralat dari mubdal minhu seperti pada contoh pertama sebelum pembagian badal. Badal jenis ini jarang ditemukan dalam bentuk tulisan, apalagi contohnya dalam Al-Qur’an. Karena badal gholath ini sering terjadi dalam pengucapan saja. Agar lebih jelas, perhatikan contoh lain berikut (umpamanya seseorang berkata):
أَشْرَبُ القَهْوَةَ الْمَاءَ
“Saya meminum kopi, (eh) air”
Dari kalimat tersebut kita bisa faham bahwa sebenarnya yang dimaksud si pembicara adalah air bukan kopi. Pengucapan kopi hanyalah kesalahan saja. Jadi, pengucapan kata ‘air’ disebut badal/mubdal dan pengucapan ‘kopi’ disebut mubdal minhu, pengucapan kalimat seperti itu disebut badal gholat.
Sekali lagi, badal gholat ini jarang ditemukan dalam bentuk tulisan. Kecuali untuk mencontohkan saja seperti yang ada dalam kitab-kitab nahwu atau bahkan ketika Anda baru saja membaca kalimat tersebut dalam artikel ini.
Terakhir, mungkin Sobat yang sudah tahu tentang ‘athaf bayan akan bertanya-tanya, apa perbedaan ‘athaf bayan dengan badal?, karena secara sepintas, badal dan ‘athaf bayan itu sama saja.
Saya coba jawab di sini:
Secara sederhana, setiap yang disebut ‘athaf bayan, bisa disebut badalul kulli minal kulli. Hanya badalul kulli minal kull, tidak jenis badal yang lain. Tapi tidak bisa setiap badal bisa disebut ‘athaf bayan, karena memang jenis badal itu ada empat sebagaimana telah dijelaskan. 
Selain itu, yang menjadi maksud pembicaraan dalam badal adalah mubdalnya (kata yang berada setelah mubdal minhu) sedangkan yang menjadi fokus pembicaraan ‘athaf bayan adalah ma’thuf alaihnya (kata yang pertama). Contoh:
أَكْرَمْتُ أَبَا حَفْصٍ عُمَرَ
“Saya telah memuliakan Abu Hafshin, Umar”
Kalimat tersebut boleh disebut ‘athaf bayan, boleh juga disebut badal. Jika disebut ‘athaf bayan berarti yang jadi maksud pembicaraannya adalah ‘Abu Hafshin’-nya, sedangkan jika dianggap badal berarti ‘Umar’ adalah maksud pembicaraannya. 
Tapi kalimat ini أَكَلْتُ الرَّغِيْفَ ثُلُثَهُ, hanya bisa dikatakan badal dan tidak bisa disebut ‘athaf bayan. Karena kata ثُلُثَهُ bukanlah الرَّغِيْفَ itu sendiri, melainkan hanya berupa bagiannya saja. Juga, Karena fungsi ‘athaf bayan hanya untuk meperjelas ma’thuf ‘alainya sesuai dengan namanya; بَيَانٌ (penjelas)
Lebih lengkapnya, Sobat pembaca bisa merujuk pada kitab Syarhul al-Fiyyah lil Hazimi. Dalam kitab tersebut disebutkan ada sekitar 8 hal yang mencegah ‘athaf bayan bisa dikatakan badal berikut penjelasannya. 
Kesimpulan pembagian badal adalah:
Sebagai pendekatan untuk menerapkan kaidah tersebut Pengertian Badal | Macam Badal | Nahwu Praktis
Barangkali itu saja yang bisa saya tulis mengenai pengertian badal, pembagian, contoh badal dan perbedaan badal dengan ‘athaf bayan dalam artikel ini. Meskipun jauh dari kesempurnaan, semoga bermanfaat bagi pembaca yang ingin mempelajari Bahasa Arab terutaa al-Qur’an dan Hadits yang merupakan pedoman bagi umat islam. Atas ketidak sempurnaan itu, saya mohon maaf
Terim kasih
والسلام عليكم ورحمة الله

Share with your friends

Give us your opinion

Notification


لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kalian bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmat pada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat Allah, maka pasti azab Allah sangat pedih

(QS. Ibrahim Ayat 7)

Done