Istisna | Contoh Istisna | Nahwu Praktis - TSABITMEDIA.COM
News Update
Loading...

Wednesday, June 13, 2018

Istisna | Contoh Istisna | Nahwu Praktis

Pengertian Istisna, Pembagian Istisna dan Contoh Istisna Dalam Al-Qur'an

 Pembagian Istisna dan Contoh Istisna Dalam Al Istisna | Contoh Istisna | Nahwu Praktis
Assalamu'alaikum wr.
Segala pujian hanya milik Allah atas segala karunia yang tak terhingga. Sholawat salam atas baginda Nabi sang pencerah, penerang jalan, semoga kelak, kita berada di barisan umatnya
Apa kabar hari ini?. Semoga para pembaca selalu sehat dan bahagia...
Di antara pembaca pasti ada yang sudah mengenal pengertian istitsna, huruf-huruf istitsna dan cara kerja istitsna. Namun barangkali ada pula yang belum mengetahui apa itu istitsna dan contoh istitsna dalam al-Qur'an
Maka, dalam artikel ini akan dibahas tentang pengertian istitsna, komponen istitsna, huruf-huruf istitsna, pengelompokkan huruf istitsna, cara kerja setiap huruf istitsna dan contoh istitsna dalam al-Qur'an
Dalam al-Ajurumiyah tidak disebutkan pengertiannya secara jelas. Imam as-Shonhaji langsung memulai pembahasa istitsna dengan menyebutkan huruf-hurufnya:
وحُرُوْفُ الاِسْتِثْنَاءِ ثَمَانِيَةٌ ، وَهِيَ: إلَّا، وَغَيْرُ، وَسِوَى، وَسُوى، وَسوَاءٌ ، وَخَلاَ، وَعَدَا، وَحَاشَا 
"Huruf istitsna itu ada 8: إلاّ، غَيْرُ، سِوَى، سُوَى، سَوَاءٌ، خَلاَ، عَدَا dan حَاشَا"
Jika demikian, apa pengertian istitsna?
Pengertian istitsna, menurut al-'Aashimiy dalam kitab Hasyiyah al-Ajurumiyah adalah:
الاِسْتِثْنَاءُ لُغَةً: مُطْلَقُ الإِخْرَاجِ، وَاصْطِلَاحًا: الإِخْرَاجُ بِإلاَّ أَوْ إِحْدَى أَخَوَاتِهَا
"Istitsna menurut bahasa adalah pengecualian secara mutlaq. Sedangkan menurut istilah nahwu, istitsna adalah pengecualian dengan menggunakan إلاَّ dan teman-temannya"
Definisi in sangat singkat dan padat. Maksudnya, jika ada kalimat yang terdapat إلّا dan huruf istitsna yang lain, maka kalimat itu dinamakan kalimat istitsna. Dalam Bahasa Indonesia, jika ada kalimat yang mengandung 'kecuali, selain, melainkan' maka disebut kalimat pengecualian.
Sebagai pendekatan, semoga lebih mendekatkan pada pemahaman, saya beri contoh kalimat pengecualian dalam Bahasa Indonesia. Misalnya:
Para  siswa pergi ke sekolah kecuali Zaed
Kalimat tersebut disebut kalimat pengecualian karena beberapa struktur kalimat yang terkandung di dalamnya, yaitu meliputi: Kata yang dikecualikan, kata yang dijadikan pengecualian darinya, dan kata yang digunakan untuk mengecualikan. Ketiga komponen itu pun sama dalam bahasa Arab hanya saja berbeda istilah.
Jadi, Komponen Istitsna itu ada tiga, yaitu:
- الْمُسْتَثْنَى sama dengan yang dikecualikan (harus merupakan bagian/ jenis/macam dari mustatsna minhu) dan selalu berada setelah huruf istitsna.
- الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ sama dengan yang dijadikan pengecualian mustatsna darinya. Berada sebelum huruf istitsna (jika ada)
- آلَةُ / آدَةُ الإسْتِثْنَاءِ sama dengan kata yang digunakan untuk mengecualikan
Kemudian, jika kalimat 'Para siswa datang ke sekolah kecuali Zaed' diterjemahkan ke dalam bahasa arab, menjadi:
ذَهَبَ الطُّلَّابُ إلَى الْمَدْرَسَةِ إلَّا زَيْد
Kata زَيْد adalah yang dikecualikan / الْمُسْتَثْنَى, kata الطُّلَّابُ adalah kata yang kata زَيْد dikecualikan darinya / الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ, dan kata إلَّا adalah alat yang digunakan untuk mengecualikan / آلَةُ / آدَةُ  الإِسْتِثْنَاءِ

Lalu, fungsi kalimat itu mengecualikan apa sebenarnya?

Syaikh Musthafa al-Ghulaayainiy dalam kitab Jaami'uddurus memberi pengertian yang sekaligus menyebutkan fungsi istitsna itu sendiri, dengan redaksi:
الاستثناءُ هُوَ إِخْرَاجُ مَا بَعْدَ "إلاّ" أَوْ إِحْدَى أَخَوَاتِهَا مِنْ أَدَوَاتِ الاِسْتِثْنَاءِ، مِنْ حُكْمِ مَا قَبْلَهُ
"Istitsna adalah mengecualikan kata setelah إلَّا dan kata lain yang digunakan untuk mengecualikan, dari hukum/predikat yang terdapat sebelumnya"
Yang dimaksud dengan redaksi tersebut adalah sama dengan yang telah dibahas sebelumnya. Namun redaksi itu menjelaskan bahwa yang dikecualikan oleh huruf istitsna adalah hukum/predikat yang disandang oleh kata yang dikecualikan yang ada sebelum huruf istitsna itu. Jadi, yang dikecualikan dari kalimat ذَهَبَ الطُّلَّابُ إلَى الْمَدْرَسَةِ إلَّا زَيْد adalah hukum/predikat 'berangkat' untuk Zaed. Dengan pengertian; Zaed itu justru memiliki hukum/predikat kebalikan dari yang sebelumnya, yakni Zaed itu 'tidak berangkat' ke sekolah. Maka, istitsna itu adalah kebalikan dari hukum/predikat yang terdapat sebelumnya. 
OK, anggap saja kita sudah mengerti tentang pengertian dan fungsi istitsna.

Lalu, apa saja huruf-huruf istitna itu?

Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh As-Shonhajiy, bahwa huruf-huruf istitsna itu ada delapan, yaitu:  إلاّ، غَيْرُ، سِوَى، سُوَى، سَوَاءٌ، خَلاَ، عَدَا dan حَاشَا.
Kedelapan huruf istitsna tersebut dikelompokkan menjadi tiga kelompok beserta cara kerjanya:

1. Mustatsna menggunakan إلَّا

As-Shonhajiy menyebutkan cara kerja mustatsna dengan إلَّا ini dibagi lagi menjadi tiga kondisi kelimat. Rinciannya sebagai berikut:
a. Mustatsna beri'rob nashab ketika kalimatnya adalah kalimat tamm dan muujab
Imam as-Shonhajiy meredaksikannya dengan:
فَالْمُسْتَثْنَى بِإلَّا يُنْصَبُ إذَا كَانَ الْكَلَامُ تَامًّا مُوْجَبًا
"Mustatsna (yang dikecualikan) menggunakan إلَّا itu dinashabkan jika kalimatnya berupa kalimat taamm-muujab"
Ada istilah baru dari redaksi tersebut, yakni: tamm dan muujab. Artinya:
taamm = sempurna, kebalikannya adalah naqish = kurang (tidak sempurna)
muujab = positif, kebalikannya adalah manfiy = negatif
Yang dimaksud sempurna adalah dalam kalimat itu terdapat mustatsna dan mustatsna minhunya secara lengkap.
Sedangkan yang dimaksud positif adalah kalimat itu tida terdapat huruf nafyi (yang berarti 'tidak'), huruf nahyi (berarti jangan), atau istifham (berarti bertanya).
Jadi, mustatsna (kata yang dikecualikan) beri'rob nashab jika kalimatnya berupa kalimat yang lengkap dengan mustatsna-mustatsna minhunya (tamm) dan berupa kalimat yang tidak terdapat huruf nafyi / nahyi / istifham (muujab)
Mari kita teliti contoh berikut:
قَامَ الْقَوْمُ إلَّا زَيْدًا
"Kaum berdiri kecuali Zaed"
Kata زَيْدٌ adalah kata yang terletak setelah huruf istitsna dan disebut mustatsna / yang dikecualikan dari الْقَوْمُ yang merupakan mustatsna minhu. Karena memang Zaed adalah bagian dari kaum, hanya saja Zaed dikecualikan dari 'berdiri'. I'rob kata زَيْد adalah nashab dengan fathah karena menjadi mustatsna yang berada dalam kalimat tamm-muujab
Demikian pula contoh berikut:
كُلُّ النَّاسِ هَالِكُوْنَ إلَّا الْصَّالِحِيْنَ
"Setiap manusia binasa kecuali orang-orang sholeh"
Kata الصَّالِحِيْنَ adalah mustatsna, terletak setelah huruf istitsna إلاَّ, beri'rob nashab tanda i'robnya ya (golongan katanya adalah jama' mudzakkar salim) karena berada dalam kalimat taam-mujab, mustatsna minhunya adalah kata النَّاسِ dan الصَّالِحِيْنَ merupakan bagian dari النَّاس hanya saja dikecualikan dari predikat 'celaka'. Tanda i'rob telah saya bahas pada babnya tersendiri
b. Mustatsna boleh beri'rob sebagai badal dan boleh juga nashab
Sebagaimana yang dipaparkan oleh Syaikh as-Shonhaji:
ِوَإِنْ كَانَ الْكَلاَمُ مَنْفِياً تَامًّا جَازَ فِيْهِ الْبَدَلُ وَالنَّصْبُ عَلَى الاِسْتِثْنَاء
"Jika kalimatnya adalah kalimat negatif (manfiy) - sempurna (tamm), maka mustatsna boleh beri'rob sebagai badal atau nashab sebagai mustatsna"
Kalam manfiy berarti kalimat itu diawali oleh kata nafyi / nahyi atau istifham. Seperti contoh berikut:
مَا قَامَ الْقَوْمُ إِلَّا زَيْدٌ / إلَّا زَيْدًا
Kata زَيْد boleh dijadikan sebagai badal yang selalu mengikuti mubdal minhu yaitu kata الْقَوْمُ. Juga bisa beri'rob nashab sebagai mustatsna sebagaimana berlaku pada mustatsna dalam kalam tamm-mujab.
Perhatikan lagi kata فَريْد pada contoh berikut:
مَا سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلَّابِ إلَّا فَرِيْدٍ / إلاَّ فَرِيْدًا
"Aku tidak berucap salam pada para siswa kecuali pada Farid"
Penjelasannya:
 Pembagian Istisna dan Contoh Istisna Dalam Al Istisna | Contoh Istisna | Nahwu Praktis
c. Mustatsna yang dii'robi tergantung tuntutan kalimat sebelum huruf istitsna
Ialah sebagaimana dijelaskan dalam al-Ajurumiyah:
ِِوَإِنْ كَانَ الْكَلَامُ نَاقِصًا، كَانَ عَلَى حَسَبِ الْعَوَامِل
"Dan jika kalimatnya naqish maka mustatsna beri'rob tergantung tuntutan 'amil nya"
Naqish artinya tidak sempurna atau kurang, yakni mustatsna minhunya tidak disebutkan dalam kalimat. Juga, kalam naqish ini sudah pasti manfiy (diawali dengan huruf nafyi/nahyi atau istifham). Maka i'robnya tergantung pada tuntutan 'amilnya (yang mempengaruhi i'rob suatu kata) yakni jika kalimat sebelum huruf istitsna menuntut fa'il, maka mustatsna beri'rob rofa, jika menuntut maf'ul bih maka nashab, jika menuntut khobar kaana maka nashab dan seterusnya. Contoh:
- Kalimat yang menuntut fa'il:
مَا قَامَ إلَّا زَيْدٌ
"Tak ada yang berdiri kecuali Zaed"
Kata Zaed adalah mustatsna yang beri'rob rofa' sebab kalimat sebelumnya menuntut adanya fa'il

- Kalimat yang menuntut maf'ul bih:
مَا نَصَرْتُ إلَّا زَيْدًا
"Aku tidak memukul kecuali pada Zaed"



- Kalimat yang menuntut khobar kaana:


مَاكَانَ زَيْدٌ إلَّا قَائِمًا
"Zaed itu tidaklah kecuali berdiri"
Jadi, secara praktis, mustatsna jenis ini beri'rob seperti tidak ada kata إلَّا.
Kesimpulan Mustatsna dengan إلَّا:- Mustatsna beri'rob nashab jika kalimatnya taamm-muujab- Mustatsna beri'rob nashab sebagai mustatsna atau nashab karena mengikuti mubdal minhu jika kalimatnya taamm-manfiy- Mustatsna beri'rob sesuai tuntutan kalimat sebelum huruf istitsna jika kalimatnya naqish

2. Mustatsna dengan menggunakan kata غَيْرُ، سِوَى، سُوَى dan سَوَاء

Mustatsna dengan kata-kata tersebut sebenarnya tidak ada masalah, sebab semua mustatsna dengan huruf tersebut wajib beri'rob khofadl karena menjadi mudlof ilaih, baik kalimatnya taamm-mujab, taamm-manfiy ataupun naqish. Contoh:
- dalam kalimat tamm-mujab:
قَامَ الْقَوْمُ غَيْر زَيْدٍ
- dalam kalimat tamm-manfiy:
مَا قَامَ الْقَوْمُ غَيْر زَيْدٍ
- dalam kalimat naqish:
مَا قَامَ غَيْر زَيْدٍ
Jadi, ini mustatsna dengan kelompok kedua kata istitsna ini sangatlah mudah. Justru yang jadi masalah adalah kata غَيْر itu sendiri. Jika anda perhatikan ketiga contoh itu, kata غَير tidak ada i'robnya padahal merupakan isim, sedangkan isim tidak ada yang beri'rob jazm. 
Lalu, apa solusinya?
Nah, untuk memberi i'rob kata غَيْر, kita harus memperlakukannya seperti pada mustatsna dengan huruf إلَّا. Jadi, kata غَيْر :
a. beri'rob nashab jika terdapat dalam kalimat taam-mujab
b. beri'rob nashab atau menjadi badal jika dalam kalimat tamm-manfiy
c. menyesuaikan i'rob dengan tuntutan kalam naqish.
Maka, ketiga contoh di atas dengan melengkapi i'rob kata غَيْر menjadi:
- kalimat tamm-mujab:
قَامَ الْقَوْمُ غَيْرَ زَيْدٍ
- kalimat tamm-manfiy:
مَا قَامَ الْقَوْمُ غَيْرُ / غَيْرَ زَيْدٍ
- kalimat naqish:
مَا قَامَ غَيْرُ زَيْدٍ
مَاضَرَبْتُ غَيْرَ زَيْدٍ
مَا مَرَرْتُ بِـغَيْرِ زَيْدٍ
Adapun selain kata غَيْر dan سَوَاء, yaitu kata سِوَى dan سُوَى, i'robnya tidak tampak jelas (diperkirakan)
Cukup mudah bukan?
Yang pasti, jika sudah memahami betul hukum i'rob mustatsna dengan إلَّا maka akan mudahlah menerapkannya pada غَيْر، سُوَى، سِوَى dan سَوَاء. Apalagi mustatsna dengan menggunakan خَلاَ، حَاشَا dan عَدَا.

3. Mustatsna dengan menggunakan kata خَلَا، حَاشَا dan عَدَا

Hukum i'rob bagi mustatsna dengan kata-kata ini menjadi 2 karena tergantung kita menjadikan kata-kata tersebut sebagai haraf atau sebagai fa'il. Artinya, jika خَلاَ، حَاشَا dan عَدَا dianggap sebagai haraf, maka i'rob kata setelahnya (mustatsna) adalah khofadl karena menjadi majrur bil harfi. Sedangkan jika خَلاَ، حَاشَا dan عَدَا dianggap sebagai fi'il, maka i'rob mustatsnanya adalah nashab sebab menjadi maf'ul bih dan fa'ilnya adalah dlomir mustatir yang terdapat dalam fi'il خَلاَ، حَاشَا dan عَدَا itu sendiri. Terlepas apakah kalimatnya tamm-mujab, tamm-manfiy ataupun naqish.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut:
- Kata خَلاَ، حَاشَا dan عَدَا dianggap sebagai haraf:
قَامَ الْقَوْمُ خَلَا/حَاشَا/عَدَا زَيْدٍ 
مَا قَامَ الْقَوْمُ خَلَا/حَاشَا/عَدَا زَيْدٍ
مَا قَامَ خَلَا/حَاشَا/عَدَا زَيْدٍ
- Kata خَلاَ، حَاشَا dan عَدَا dianggap sebagai fi'il dan fa'il:
قَامَ الْقَوْمُ خَلَا/حَاشَا/عَدَا زَيْدًا
مَا قَامَ الْقَوْمُ خَلَا/حَاشَا/عَدَا زَيْدًا
مَا قَامَ خَلَا/حَاشَا/عَدَا زَيْدًا
Bagaimana?, lebih mudah kan?
Itulah pembahasan mengenai huruf-huruf, pengelompokkan dan cara kerja masing-masing huruf istitsna. 
Oh iya, sambil mengakhiri artikel ini, berikut contoh-contoh kalimat istitsna dalam al-Qur'an, dan silahkan tentukan sendiri jenis kalimat, i'rob dan tanda i'rob masing-masing mustatsna berikut:
وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَـكَ.... هُوْدٌ: 8
وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ. الصافَّات: 39
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى... الشورى: 23
وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ. البقرة:9
وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ. البقرة: 26
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ... البقرة: 34
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ. آل عمران:2
وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ. المطففين:12
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ. يوسف:27
فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا. النبأ: 30
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. الفاتحة: 7
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا... آل عمران: 85
وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ... النساء: 24
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ... النساء:95
أَمْ لَهُمْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ. الطور:43
فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ. الذاريات: 36
رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ... فاطر:37
أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ... النور:31
يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ.... الروم:55
وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ. هود:101
Mohon maaf, untuk contoh عدَا، سِوى، سُوى، سواء،خلا dan حَاشَا saya belum menemukan contohnya dalam al-Qur'an. Jika pembaca sudah menemukannya, bisa ditambahkan dalam kolom komentar
Terima kasih. Semoga bermanfaat untuk kita semua
Wassalamu'alaikum wr. wb.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification


لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kalian bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmat pada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat Allah, maka pasti azab Allah sangat pedih

(QS. Ibrahim Ayat 7)

Done