Wednesday, June 6, 2018

author photo

Huruf Syarat Dalam Ilmu Nahwu 

Assalamu'alaikum wr.
 Kalimat tersebut memang demikian adanya dalam ilmu nahwu Huruf Syarat
tsabitmedia.blogspot.com
"Dimana ada syarat, pasti ada jawab". Kalimat tersebut memang demikian adanya dalam ilmu nahwu. Namun sebelum menjadi suatu kalimat / jumlah syarthiyyah, kita mesti tahu dulu adawat syaratnya terlebih dahulu. Adawat syarat ada dua: huruf syarat dan isim syarat. Yang biasa menyebabkan fi'il yang berada setelah huruf / isim syarat itu berganti istilah menjadi fi'il syarat. Dalam tulisan nahwu shorof praktis ini, akan dibahas tentang huruf syarat / huruf syartiyah-nya saja sebagaimana yang dijelaskan dalam jaami'ud duruus al-'arobiyyah.
Imam Musthafa al-Ghulaayainiy menyebutkan huruf-huruf syarat sebagai berikut:
إنْ، إذْ مَا، لَوْ، لَوْلَا، لَوْمَا، أَمَّا، لَمَّا
Mari kita bahas bersama-sama. Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan

1. إِنْ dan إذْمَا

Kedua huruf ini adalah huruf yang merubah i'rob 2 fi'il mudlore menjadi jazm, sebagaimana disebutkan dalam amil jawazim. Fi'il mudlore yang pertama disebut fi'il syarat dan fi'il mudlore yang kedua disebut fi'il jawab. Seperti dalam surat Muhammad ayat 7:
إنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ
"Jika kalian menolong (agama) Allah, (maka) Allah akan menolong kalian"
Kata يَنْصُرُوْا adalah fi'il mudlore kategori fi'il lima yang beri'rob jazm dengan membuang nun (hadzfu nun) sebagai fi'il syarat yang dimasuki huruf syarat إنْ. Demikian pula kata يَنْصُرْ adalah fi'il mudlore yang beri'rob jazm dengan tanda jazm sukun sebagai fi'il jawab.

2. لَوْ

Huruf syarat ini terbagi menjadi dua macam:

a. Huruf syarat untuk suatu perbuatan yang sudah berlalu (مَاضٍ)

Hal ini dikarenakan tidak terjadinya sesuatu yang lain. Huruf ini disebut juga:
 خَرْفُ امْتِنَاعٍ لِامْتِنَاعٍ
"Haraf yang membatalkan/mencegah sesuatu terjadi karena tercegahnya/tidak terjadinya sesuatu yang lain"
Atau disebut juga:
حَرْفٌ لِمَا كَانَ سَيَقَعُ لِوُقُوْعِ غَيْرِهِ
"Haraf untuk menyatakan suatu peristiwa yang akan terjadi (namun tidak) karena telah terjadi peristiwa lain"
Dalam Bahasa Indonesia, kita menyebutnya dengan 'pengandaian'. Perhatikan contoh berikut:
لَوْ جِئْتَ لَأَكْرَمْتُـكَ
"Seandainya kamu datang, pasti aku akan memuliakanmu"
Yang digarisbawahi berarti itu jawab syarat
Nah, 'memuliakan' itu tidak terjadi karena 'datang' pun tidak. Jadi لَأَكْرَمْتُكَ tidak terjadi (إمْتِنَاع) karena جِئْتَ pun tidak terjadi (لِامْتِنَاعٍ). Hal ini tidak mungkin diungkapkan kecuali untuk waktu dan perbuatannya sudah lampau. Karena tidak mungkin diungkapkan: "Andai kamu datang" untuk waktu yang sedang atau yang akan terjadi.
Hal ini seperti terdapat dalam surat Hud ayat 118:
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَــجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً
"Andai Allah berkehendak, pastilah Allah jadikan manusia itu satu ummat (tidak terpecah-belah)"
'Persatuan umat manusia' (dalam satu agama) tidak terjadi karena 'kehendak Allah'-pun tidak.

b. Huruf syarat untuk suatu perbuatan yang akan dilakukan (مُسْتَقْبَل) 

Huruf لَوْ dengan jenis ini, sama artinya dengan إنْ. Jika demikian, maka huruf ini tidak berfungsi امْتِنَاع (mencegah suatu perbuatan seperti لَوْ pada poin 'a'), tapi hanya keterkaitan fi'il jawab dengan syarat semata seperti إنْ. Juga kebanyakan fi'il yang berada setelah huruf ini adalah fi'il mustaqbal (yang akan datang) secara makna, tidak secara bentuknya. Contoh dalam surat An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ
"Hendaklah orang-orang yang jika mereka meninggalkan generasi yang lemah setelah mereka, merasa khawatir atas mereka (generasi itu)"
'Orang-orang harus merasa khawatir jika meninggalkan generasi yang lemah', ini adalah kalimat anjuran yang bersifat mustaqbal (masa mendatang) bukan masa yang sudah lewat (madli), sekalipun fi'il yang berada setelah huruf لَوْ bentuknya adalah fi'il madli, yakni تَرَكُوْا. Tapi segi maknanya, ia bermakna mustaqbal
Namun, terkadang fi'il yang berada setelah لَوْ ini ada juga yang mustaqbal secara lafad (bentuk) dan makna tapi tidak mempengaruhi i'rob fi'il mudlore tersebut. Contoh:
لَوْ تَزُوْرُنَا لَــسُرِرْنَا بِلِقَائِكَ
"Jika Anda (akan) berkunjung pada kami, pasti kami senang bertemu dengan Anda"
Ini sama artinya dengan:
إنْ تَزُرْنَا
Kedua jenis لَوْ ini sama-sama menuntut adanya jawab (reaksi) sebagaimana huruf syarat secara umum. 
Untuk jawab-nya boleh memakai lam taukid seperti firman Allah dalam surat al-Anbiyaa ayat 22:
لَوْ كَانَ فِيْهِمَا آلِهَةٌ إلَّا اللهُ لَفَسَدَتَا
"Andaikan di bumi dan di langit ada tuhan lain selain Allah, niscaya keduanya akan hancur"
Ataupun tidak memakai lam taukid, seperti dalam surat al-Waaqi'ah ayat 70:
لَوْ نَشَآءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا
"Andaikan kami berkehendak, pasti kami jadikannya (air hujan) asin"
Adapun jika fi'il setelah huruf لَوْ itu merupakan fi'il mudlore yang nafyi, maka tidak boleh memakai lam taukid
Contoh:
لَوِ اجْتَهَدْتَ لَمْ تَنْدَمْ
"Andai kamu bersungguh-sungguh, niscaya kamu tak kan menyesal"

3. لَوْلاَ dan لَوْمَا

Dua huruf syarat yang menunjukkan tercegahnya sesuatu karena keberadaan sesuatu faktor yang lain. Ini berbeda dengan لَوْ. Harus lebih teliti dalam hal ini!
Jika لَوْ merupakan حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِامْتِنَاعٍ sedangkan لَوْلَا dan لَوْمَا merupakan:
حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ
"Huruf yang menunjukkan tercegahnya sesuatu karena ada sesuatu yang lain"
Ok, kita teliti contoh berikut:
لَوْلَا رَحْمَةُ اللهِ لَهَلَكَ النَّاسُ
"Seandainya tidak ada karunia Allah, niscaya manusia itu binasa"
Kehancuran manusia (لَهَلَكَ النَّاسُ) tercegah (إمتناع) karena keberadaan (لِوُجُوْدٍ) rahmat Allah (رَحْمَة الله)
Demikian pula contoh:
لَوْمَا الْكِتَابَةُ لَضَاعَ أَكْثَرُ الْعِلْمِ
"Andaikan tidak ada penulisan (pembukuan), niscaya kebanyakan ilmu akan hilang"
Kedua huruf ini hanya masuk pada mubtada-khobar, namun kebanyakan khobar لَوْلَا ini dibuang.
Jika diperkirakan kedua contoh tadi:
لَوْلَا رَحْمَةُ اللهِ (حَاصِلَةٌ) لَهَلَكَ النَّاسُ
لَوْمَا الْكِتَابَةُ (حَاصِلَةٌ) لَضَاعَ أَكْثَرُ الْعِلْمِ
Selain itu, kedua huruf syarat ini membutuhkan jawab sebagaimana لَوْ. Demikian pula, jawabnya boleh menggunakan lam taukid atau tidak.

4. أَمَّا

Huruf yang menempati huruf dan fi'il syarat. Kalimat yang disebut setelah huruf أمَّا merupakan jawab dari syarat tersebut yang diwakili oleh أَمَّا. Oleh karena itu, jawab dari أَمَّا mesti dimasuki 'fa jawab' untuk menjaga keterkaitan (الربط). Contoh:
أَمَّا أَنَا فَلاَ أَقُوْلُ عَيْرَ الْحَقِّ
"Adapun saya, (maka) tidak mengatakan kecuali kebenaran"
Maknanya adalah:
مَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْئٍ فَلاَ أَقُوْلَ غَيْرَ الْحَقِّ
"Apapun yang terjadi, aku tidak mengatakan kecuali kebenaran"
Nah, مَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْئٍ ini diwakili dengan huruf أَمَّا.
Huruf أَمَّا ini, memiliki dua fungsi; fungsi merinci (tafshil) ataupun memperkuat (taukid). 
- Huruf أمَّا yang berfungsi tafshil, memang merupakan asal fungsi huruf ini. Sebagaimana firman Allah dalam surat ad-Dluha ayat 9-11:
فَــأَمَّا الْيَتِيْمَ فَلاَ تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
"Adapun anak yatim, janganlah kamu menghardiknya, (adapun) peminta-minta janganlah kamu mengusirnya dan (adapun) nikmat tuhanmu hendaklah kamu membicarakannya (sebagai ekspresi rasa syukur)"
- Sedangkan sebagai huruf yang berfungsi memperkuat (taukid), maka inilah yang dimaksud sebagai huruf syarat. Yakni أَمَّا menempati huruf dan fi'il syarat: مَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْئٍ sebagaimana yang telah saya sebutkan beserta contohnya

5. لَمَّا

Huruf syarat yang terakhir adalah لَمَّا. Huruf syarat ini diperuntukkan untuk menunjukkan keberadaan / terjadinya sesuatu karena keberadaan / terjadi sesuatu yang lain. Maka dari itulah huruf ini disebut:
حَرْفُ وُجُوْدٍ لِوُجُوْدٍ
"Huruf (yang menunjukkan) keberadaan sesuatu karena keberadaan (sesuatu yang lain)"
Huruf ini khusus masuk pada fi'il madli dan menuntut adanya dua kalimat yang keberadaan kalimat terakhir dikarenakan keberadaan/terjadinya kalimat yang pertama. Yang pertama disebut syarat (aksi) dan kalimat kedua disebut jawab (reaksi). Sebagai contoh:
لَمَّا جَاءَ أَكْرَمْتُهُ
"Tatkala ia telah datang, maka aku memuliakannya"
Jawab untuk huruf syarat ini harus berupa kalimat yang diawali fi'il madli (jumlah fi'liyah) atau kalimat yang diawali dengan isim (jumlah ismiyah) yang dimasuki إذَا فُجَائِيَةٍ
Seperti terdapat dalam firman Allah surat al-Ankabut ayat 65:
فَــلَمَّا نَجَّاهُمْ إلَى الْبَرِّ إذَا هُمْ يُشْرِكُوْنَ
"Lalu tatkala ِAllah selamatkan mereka ke daratan, (maka) tiba-tiba mereka menyekutukan (kami)"
Atau jumlah ismiyah yang sudah dimasuki فَ. Seperti Firman-Nya dalam surat Luqman ayat 32:
 فَــلَمَّا نَجَّاهُمْ إلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ
"Lalu tatkala Kami selamatkan mereka ke daratan, (maka) di antara mereka ada yang tetap menempuh jalan yang lurus"
Di antara ulama nahwu, ada yang menjadikan لَمَّا sebagai dhorof zaman yang semakna dengan حِيْنَ yang diidlofatkan pada kalimat syarat. Pendapat ini terkenal di kalangan ulama i'rob. Sedangkan ulama yang memperdalam hal ini menyebutkan bahwa لَمَّا adalah huruf yang berfungsi untuk mengikat (رَابِط)
Ok sobat, demikianlah pembahasan tentang huruf-huruf syarat dalam ilmu nahwu. Semoga pembahasan ini dapat difahami dengan mudah dan praktis. Mohon maaf apabila ada kekeliruan dan terima kasih
Wassalamu'alaikum wr.

Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post