Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis - TSABITMEDIA.COM
News Update
Loading...

Saturday, June 2, 2018

Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis

MEMAHAMI FA'IL DENGAN MUDAH

Assalamu'alaikum wr. wb.
Halo pembaca yang budiman!. Bagaimana kabar Anda hari ini?. Semoga Sang Maha Penyayang selalu memberi kebahagiaan pada kita semuanya.

Postingan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari pembahasan tentang Isim-isim yang dirofa'kanFail adalah urutan yang pertama dari isim-isim tersebut. 
Ketika kita mempelajari bahasa, suatu kalimat pasti tidak akan lepas dari kata kerja (fi'il), subjek (fa'il) dan objek (maf'ul bih). Bahkan, sepanjang apapun rangkaian kalimat itu pasti tidak akan terlepas dari ketiga unsur tersebut. Bahkan dalam al-Qur'an sekalipun
Hanya saja, yang menjadi pokok (عُمْدَةٌ/primer) dalam suatu kalimat bahasa Arab adalah fi'il & fa'il dan mubtada & khobar.
Pembahasan tentang pengertian & pembagian fa'il ini menjadi penting bagi kita untuk menganalisis dan merangkai teks-teks berbahasa Arab yang baik dan benar sesuai pola bakunya
 Semoga Sang Maha Penyayang selalu memberi kebahagiaan pada kita semuanya Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis
Fa'il,- atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan subjek, definisinya menurut Imam Ajjurum adalah:
الإِسْمُ الْمَرْفُوْعُ الْمَذْكُوْرُ قَبْلَهُ فِعْلُهُ
"Isim yang dirofa'kan yang terletak setelah fiil (kata kerja)"
Dari definisi tersebut, bisa kita ketahui bahwa ada dua syarat untuk suatu isim agar bisa dikatakan sebagai fa'il dalam suatu kalimat;
- beri'rob rofa
- terletak setelah fi'il
Jadi, tidak disebut fa'il jika suatu kata yang terletak setelah fi'il namun i'robnya tidak rofa. Umpamanya: ضَرَبَ مُحَمَّدًا. Kata مُحَمَّد memang terletak setelah fiil, namun bukan fa'il karena tidak memenuhi syarat yang pertama; beri'rob rofa. Demikian pula (bukan fa'il) jika isim beri'rob rofa' tapi tidak terletak setelah fi'il, contoh: عَمْرٌو جَالِسٌ. Kata جَالِسٌ bukanlah fa'il karena tidak memenuhi syarat; terletak setelah fiil. Contoh yang benar untuk fa'il adalah seperti: حَسُنَ مُحَمَّدٌ. Kata مُحَمَّدٌ adalah fa'il sebab beri'rob rofa' dan terletak setelah fiil yaitu kata حَسُنَ wazan فَعُلَ.
Nah, untuk mencari i'rob suatu kata, kita perlu mengetahui tanda-tandanya sebagaimana yang dibahasa dalam pembahasan tentang i'rob. Gambar berikut ini adalah kesimpulan dari pembahasan i'rob tersebut:
 Semoga Sang Maha Penyayang selalu memberi kebahagiaan pada kita semuanya Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis
Golongan kata yang termasuk mu'rob (mengalami perubahan i'rob) hanya ada 10, sesuai dengan gambar tersebut. Untuk lebih jelasnya Anda bisa membaca: Pengertian I'rob, Pembagian dan Tandanya.
Sebelum pembahasan kita lebih lanjut mengenai pembagian fa'il, saya harap pembaca mengingat kalimat ini dan mengucapkannya secara berulang: 
"SETIAP FI'IL PASTI ADA FA'IL". Artinya setiap ada pekerjaan, pasti ada yang mengerjakannya; mustahil suatu pekerjaan tidak ada pelakunya
Selanjutnya, fa'il (subjek) terbagi menjadi dua macam:
  1. Fa'il dhohir
  2. Fa'il dlomir
Mari kita bahas satu persatu.
  • Fa'il Dhohir
Ialah pelaku yang bukan berupa kata ganti (dlomir), baik berupa nama orang, nama hewan, nama kota, isim fa'il, isim maf'ul ataupun isim-isim lainnya. 
Untuk fa'il yang merupakan isim dhohir ini, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:
1. Fi'il harus tetap dalam keadaan tunggal meskipun fa'ilnya lebih dari satu (tatsniyyah; menunjukkan dua/ jama'; lebih dari dua)
2. I'rob fa'il selamanya rofa' baik tampak (لَفْظًا) maupun diperkirakan (تَقْدِيْرًا)
3. Harus ada kesesuaian antara fi'il dan fa'il. Yakni, apabila fa'il mudzakar (laki-laki), fi'il pun harus mudzakkar. Begitu pun jika fa'il muannats (perempuan), fiil pun harus muannats
- Fi'il yang disebut 'tunggal' untuk subjek (fa'il) laki-laki adalah bentuk awal dari fiil madli dan mudlore. Umpamanya fiil اِسْتَغْفَرَ يَسْتَغْفِرُ. Sedangkan untuk subjek (fa'il) perempuan adalah dengan menambahkan ta sukun (تْ) di akhir fi'il madli dan merubah ya menjadi ta dalam fiil mudlore. Misalnya: اِسْتَغْفَرَتْ - تَسْتَغْفِرُ
Perhatikan contoh berikut:
 Semoga Sang Maha Penyayang selalu memberi kebahagiaan pada kita semuanya Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis
Penjelasan: Kata هِنْدٌ، فَاطِمَتَانِ dan مُسْلِمَةٌ adalah fail muannats. Kata مُصْطَفَى، مُحَمَّدَانِ dan الزَّيْدُوْنَ adalah fa'il mudzakkar. Semua kata tersebut berkedudukan sebagai fa'il sebab telah memenuhi 2 syarat yang tadi disebutkan.
Beberapa contoh fa'il dhohir yang terdapat dalam ayat al-Qur'an. Yang digarisbawahi adalah fi'il dan yang dicetak tebal fa'ilnya:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ
يَوْمَ تَرْجُفُ الأَرْضُ وَ الْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيْبًا مَهِيْلاً
هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ...
وَيَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُوْنَ...
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيْهِ
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَآ أَحْضَرَتْ
يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَ
خَتَمَ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ
أَتَى أَمْرُ اللهِ 
قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيْرَنِي مِنَ اللهِ أَحَدٌ
وَقَالَ نُوْحٌ رَبِّ لاَ تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِيْنَ دَيَّارًا
وَأَخْرَجَت الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
يَوْمَ يَكُوْنَ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِ
أَلْهَا كُمُ التَّكَاثُرُ
إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ
يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُوْنَ
Contoh Fa'il yang tanda rofa'nya dlommah muqoddarah (dlommah yang diperkirakan):
وَإِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيْسَى مِنهُمُ 
Contoh Fa'il yang berupa isim mabniy tapi menempati i'rob rofa':
سَبَّحَ لِلهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ
قُلْ يُحْيِيْـهَا الَّذِيْ أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ
لَوْ يَعْلَمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
Sebenarnya masih banyak contohnya dalam al-Qur'an. Saya harap pembaca mengembangkannya sendiri tatkala membaca al-Quran dan langsung membaca artinya sebagai tahap awal latihan. Yang jelas, sekalipun pola dalam bahasa arabnya: fiil (predikat/verba) lalu fa'il (subjek), ketika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, polanya berubah menjadi Subjek lalu Predikat. Semoga dengan cara itu, akan membantu mempercepat pemahaman kita tentang fa'il.
  • Fa'il Dlomir
Ialah pelaku/subjek yang berupa kata ganti atau lawan dari fa'il dhohir. Kata ganti dalam bahasa Arab pun terbagi menjadi 3; 
- kata ganti orang pertama (pembicara/مُتَكَلِّمٌ). Dlomirnya: أَنَا dan نَحْنُ
- kata ganti orang kedua (yang diajak bicara/مُخَاطَبٌ). Dlomirnya: أَنْتَ، اَنْتُمَا، أَنْتُمْ، أَنْتِ، أَنْتُمَا dan أَنْتُنَّ), dan
- kata ganti orang ketiga (yang dibicarakan/غَائِبٌ). Dlomirnya: هُوَ، هُمَا، هُمْ، هِيَ، هُمَا dan هُنَّ
Kemudian, kata ganti (dlomir) tersebut, berdasarkan ada/tidaknya tanda dlomir, dikelompokkan menjadi dua:
1. Dlomir mustatir (sangat tersembunyi; tidak ada tanda dlomir). Seperti: ضَرَبَ dan يَضْرِبُ
2. Dlomir baariz (tidak terlalu tersembunyi karena ada tanda dlomirnya). Seperti: ضَرَبْتُ dan يَضِرِبَانِ. Ta dan alif adalah tanda dlomirnya.
Perhatikan pembagian dlomir pada gambar berikut:
 Semoga Sang Maha Penyayang selalu memberi kebahagiaan pada kita semuanya Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis
Pembagian Dlomir
Agar lebih jelas, perhatikan pola tashrifan fi'il ketika dimasuki dlomir (tashrif lughowi) berikut ini!
 Semoga Sang Maha Penyayang selalu memberi kebahagiaan pada kita semuanya Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis
Keterangan: Kolom yang berwarna oranye adalah fa'il dlomir mustatir
Berikut adalah perubahan fiil أَكْرَمَ يُكْرِمُ ketika dimasuki dlomir (fa'il):
 Semoga Sang Maha Penyayang selalu memberi kebahagiaan pada kita semuanya Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis
 Keterangan:
-Warna merahtanda dlomir
Warna hijautanda i'rob
Warna biruhuruf kemudlorian
Sedangkan gambar berikut adalah fiil amar dari اِسْتَغْفَرَ يَسْتَغْفِرُ yang dimasuki fail dlomir:
 Semoga Sang Maha Penyayang selalu memberi kebahagiaan pada kita semuanya Fail | Contoh Dalam al-Quran | Nahwu Praktis
Keterangan: kolom berwarna oranye adalah dlomir mustatir
Untuk mengetahui lebih jauh tentang tashrif lughowi dan cara men-tashrif fi'il-fi'il yang lain, maksud saya selain yang shohih, yaitu fi'il mudlo'af, fi'il dan fi'il mu'tal, silahkan untuk membaca: Tashrif Lughowi atau Pengertian Fi'il, Pembagian dan Tashrifan Lughowinya

Dalam menentukan fa'il apalagi fa'il dlomir mustatir, kita harus lebih teliti; Jika ada isim yang rofa' setelah suatu fi'il, maka fa'ilnya adalah berupa isim dhohir, sedangkan jika setelah fi'il tidak terdapat isim yang rofa', maka fa'ilnya adalah berupa dlomir mustatir.
 Sebagaimana dalam kitab al-Fiyyah Imam Ibnu Malik mengatakan:
وَبَعْدَ فِعْلٍ فَاعِلٌ فَإِنْ ظَهَرَ # فَهُوَ وَإلاَّ فَضَمِيْرٌ اِسْتَتَرَ
"Setelah fi'il ada fa'il. Jika tampak, maka itulah fa'ilnya, sedangkan jika tidak (tampak) maka fa'ilnya adalah dlomir yang sangat tersembunyi"
Maksudnya, Setiap fi'il mesti ada fa'il. Jika ternyata setelah fi'il itu ada isim yang beri'rob rofa' maka fa'ilnya berupa isim dhohir. Sedangkan jika setelah fi'il tidak ada isim yang dirofa'kan, maka dapat dipastikan fa'ilnya berupa isim dlomir dan dlomirnya adalah dlomir mustatir.
Karena fa'il terkadang terletak jauh dari fi'ilnya sendiri. Contoh:
قَرَأَ الْقُرْآنَ فِيْ الْمَسْجِدِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمُسْلِمُوْنَ
Fa'il/pelaku dari pekerjaan قَرَأَ dalam kalimat tersebut adalah الْمُسْلِمُوْنَ. Karena memenuhi syarat untuk disebut fa'il; i'robnya rofa, tandanya wawu dan terletak setelah fiil; قَرَأَ
Jika selain dlomir mustatir, kita bisa dengan mudah menemukannya karena memang ada tanda dlomirnya. Contoh:
يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ
Kata يُقِيْمُوْنَ dan يُؤْتُوْنَ adalah fiil sekaligus fa'ilnya. Fa'ilnya berupa dlomir baariz, tanda dlomirnya wawu. Asalnya adalah kata يُؤْتِيْ dan يُقِيْمُ, lalu dimasuki dlomir هُمْ, menjadi يُؤْتُوْنَ dan يُقِيْمُوْنَ. Artinya: Mereka mendirikan sholat dan (mereka) membayar zakat.

Selain apa yang telah dibahas di atas, ada pula fa'il yang bukan merupakan isim. Seperti:
يَجِبُ أَنْ يَتَعَلَّمَ مُسْلِمٌ
Kata أَنْ يَتَعَلَّمَ adalah fa'il  untuk fiil يَـجِبُ dan kata مُسْلِمٌ adalah fa'il dari kata يَتَعَلَّمَ. Sekalipun kata يَتَعَلَّم adalah nashab (tandanya fathah), tapi kata أَنْ يَتَعَلَّمَ adalah menempati posisi i'rob rofa karena menjadi fa'il. 
Khusus untuk masalah seperti ini, yakni jika ada fi'il mudlore/fiil madli yang terletak setelah أَنْ (salah satu amil nawashib) dan memiliki kedudukan dalam suatu kalimat baik sebagai fa'il, maf'ul bih, mubtada, khobar atau yang lainnya, maka kalimat tersebut (أَنْ + فِعْلُ الْمُضَارِعِ/فِعْلُ الْمَاضِيء) bisa ditakwil/dialihkan menjadi mashdar dari fiil itu sendiri. Inilah yang disebut dengan istilah mashdar muawwal (mashdar yang ditakwil dari fi'ilnya/bukan bentuk mashdar yang sebenarnya). Jadi kata أَنْ يَتَعَلَّمَ itu sama dengan التَّعَلُّمُ, lalu fa'il dari يَتَعَلَّمَ yaitu kata مُسْلِمٌ disatukan (diidlofatkan) dengan kata تَعَلُّمُ, menjadi: تَعَلُّمُ مُسْلِمٍ. Kalimat tadi setelah ditakwil menjadi:
يَـجِبُ تَعَلُّمُ مُسْلِمٍ
"Wajib belajar (bagi) seorang muslim"

Contoh fa'il dalam al-Qur'an sangat banyak, diantaranya:
- Fa'il dlomir mustatir dari fi'il madli:
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالأُنْثَى
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَـهَدَى
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ
الرَّحْمنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ
- Fa'il dlomir bariz dari fi'il madli:
إِنَّهمُ كَانُوْا قَبْلَ ذَالِكَ مُتْرَفِيْنَ
وَأَنْذَرْتُـكُمْ نَارًا تَلَظَّى
إنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ
إنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
إلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 
- Fa'il dlomir mustatir dari fi'il mudlore:
أَفَلاَ يَعْلَمُ إذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُوْرِ
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
نُـمَتِّعُـهُمْ قَلِيْلاً ثُـمَّ نَضْطَرُّ هُمْ 
لاَ أُقْسِمُ بِهذَا الْبَلَدِ
- Fa'il dlomir bariz dari fiil mudlore:
يَقُوْلُوْنَ أَإنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِي الْحَافِرَةِ
وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ أَكْلاً لَمًّا
فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
وَلْـيَضْرِبْنَ بِخُمُوْرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ

Saya kira pembahasan ini sudah terlalu panjang. Oleh karena itu saya cukupkan sekian. Semoga saja banyak manfaat yang dapat diambil oleh pembaca semuanya. Sekalipun pembahasan ini panjang, tetap saja tidak lepas dari kekurangan, bahkan, mungkin saja semakin panjang pembahasannya, semakin banyak pula kesalahannya. Oleh karena itu, semoga para pembaca berkenan untuk memaafkan.
Terima kasih atas kunjungan Anda. Semoga hari-hari anda menyenangkan dan penuh keceriaan
Wassalamu'alaikum wr. wb.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification


لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kalian bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmat pada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat Allah, maka pasti azab Allah sangat pedih

(QS. Ibrahim Ayat 7)

Done