Tuesday, May 22, 2018

author photo

Penjelasan Ha Saktah Dari Segi Nahwu

Assalamu'alaikum wr. 
Ha saktah menurut saya tidak memiliki makna secara khusus. Namun entah mengapa Imam al-Ghulaayainiy mencantumkannya dalam pembagian huruf ma'aniy dalam jaami'uddurus-nya. Kita cari tahu yuuk!
Apa itu ha saktah?, apa Fungsi ha saktah? dan bagaimana cara menggunakan ha saktah?
Ha saktah menurut saya tidak memiliki makna secara khusus Ha Saktah

Apa itu ha saktah?

Imam al-Ghulaayainiy memberi pengertian:
هَاءٌ سَاكِنَةٌ تَلْحَقُ طَائِفَةً مِنَ الْكَلِمَاتِ عِنْدَ الْوَقْفِ
"Ha sukun yang menempel pada bagian terakhir kata ketika waqaf (berhenti)"
Perhatikan contoh berikut:
لِمَــهْ
كَيْمَــهْ
كَيْفَــهْ
Asal ketiga kata ini adalah:
لِمَ
كَيْمَ
كَيْفَ
Kemudian ditambahkan ha saktah ketika waqof. Jadi,

Apa fungsi ha saktah itu?

Sekali lagi, secara makna huruf tersebut tidak memiliki arti apapun. Fungsinya saya kira agar nyaman saja dibacanya karena suara lebih lepas. Coba saja bandingkan pembacaan:
لِمَ 
kan suara kita agak tertahan. Coba baca ini:
لِمَــهْ
serasa lebih plong, kan? hehe
Sementara ini yang saya tahu tentang fungsi ha saktah hanya demikian. Silakan bagi pembaca yang mau menambahkan, boleh tambahkan dalam kolom komentar...

Bagaimana cara menggunakan ha saktah?

Ada beberapa aturan yang harus diperhatikan dalam menggunakan ha saktah ini. Sebagai berikut:

1. Ha saktah hanya boleh ditambahkan ketika waqof saja

Jika diwashalkan, tidak boleh ditambahkan ha saktah. Seperti:

لِمَ جِئْتَ؟
كَيْمَ عَصَيْتَ أَمْرِي؟
كَيْفَ حَالُكَ؟
Pembacaan kata لِمَ, كَيْمَ dan كَيْفَ pada ketiga contoh tersebut dibaca washal, tidak waqof. Jadi tidak boleh dibaca: لِمَهْ جِئْتَ

2. Ha saktah, ketika waqof, hanya boleh ditambahkan pada:

a.  fi'il mudlore mu'tal akhir yang beri'rob jazm yang dibuang huruf akhirnya. Contoh:
لَمْ يَغْزُهْ
Asalnya يَغْزُو
b. pada fi'il amar yang di-mabniy-kan pada membuang huruf akhir (artinya fi'il amar dari bina naqish). Seperti:
اُغْزُهْ
Asalnya اُغْزُ diambil dari fi'il mudlorenya: يَغْزُو
c. pada مَا istifham yang sudah dimasuki huruf jar. Karena jika مَا istifham telah dimasuki huruf jar, alifnya wajib dibuang. Seperti لِمَ dan كَيْمَ yang sudah dicontohkan
Contoh pembuangan alif pada مَا istifham yang sudah dimasuki huruf jar: عَمَّ يَتَسَآئَلُوْنَ, فِيْمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا
d. pada huruf yang mabniy pada harkat. Seperti: لَعَلَّ, إنَّ, رُبَّ, مُنْذُ. Jika kebetulan huruf-huruf seperti itu dibaca di akhir alias waqof, boleh kita tambahkan ha saktah, menjadi:
لَعَلَّــهْ
رُبَّــهْ
مُنْذُهْ
Tapi saya kira ha ini jarang sekali.
Bisa juga ha saktah ditambahkan setelah nun taukid tsaqilah jika waqof, seperti:
لاَ تَذْهَبَنَّــهْ
asalnya: لاَ تَذْهَبَنَّ
e. setelah nun yang ada pada isim tatsniyah, jama' mudzakkar, dan fi'il lima. Contoh:
جَآءَ الرَّجُلَانِــهْ
أَكْرِمِ الْمُجْتَهِدُوْنَــهْ
الْمُجْتَهِدُوْنَ يُكْرَمُوْنَــهْ
Ada yang membaca ayat berikut dengan menambahkan ha saktah yakni surat al-Anbiya:
ayat 57:
بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوْا مُدْبِرِيْنَــهْ
ayat 58:
لَعَلَّهُمْ إلَيْهِ يَرْجِعُوْنَــهْ
ayat 59:
إنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِيْنَــهْ
f. pada isim mabniy seperti isim isyarah, isim maushul dan isim dlomir ketika waqof. Contoh dalam surat al-Qori'ah ayat 10:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَــهْ
Pokoknya, dari yang telah disebutkan, kuncinya hanya satu yaitu ha saktah hanya ditambahkan dalam keadaan waqof.
Nah, sobat, itulah pembahasan tentang ha saktah. Mohon maaf bila terdapat kekeliruan. Semoga menambah wawasan kita semua. Terima kasih
Wassalamu'alaikum wr.

Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post