Tuesday, September 6, 2016

author photo


KHABAR MUTAWATIR BAG-DUA

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدًا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إقرارًا به وتوحيدًا، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليمًا مزيدًا، أما بعد..

Derajat Khabar Al-Mutawatir.

الخبر المتواتر يفيد العلم اليقيني، وهذا أمر متفق عليه بين العقلاء، إذ حصول العلم بالخبر المتواتر أمر يضطر إليه الإنسان، لا حيلة له في دفعه. هذا بالنسبة للمتواتر من الأخبار.

Khabar Mutawatir memberikan faidah ilmu yaqin, ini adalah perkara yang disepakati di kalangan orang-orang yang berakal. Karena terhasilkannya ilmu melalui khabar mutawatir adalah perkara yang manusia terdesak untuk mengetahuinya, tidak ada celah untuk mengelak. Ini adalah dari sisi mutawatir dari berbagai khabar (baik hadits maupun atsar). [Ma'alim Ushul: 138, Raudhah An-Nazhir: 1/250, & Syarh Al-Kaukab Al-Munir: 2/317].  

أما المتواتر من الحديث: فإنه كذلك يفيد العلم ويوجب العمل، والعبرة في التواتر بأهل العلم بالحديث والأثر، كما قرر ذلك ابن تيمية وابن القيم في النصين السابقين.

Adapun mutawatir dari hadits: ia juga memberikan faidah ilmu dan mengharuskan amal. Dan yang teranggap dalam masalah mutawatir hanyalah ahli ilmu hadits dan atsar. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Al-Qayyim Allahu yarhamuhuma pada dua keterangan yang telah lalu. (Pada pertemuan ke satu).

أما حكم العمل به: فلا شك أن الحديث المتواتر قسم من أقسام السنة، والسنة حجة.

Adapun hukum beramal berdasarkan Hadits Mutawatir: tidak diragukan bahwa Hadits Mutawatir termasuk bagian dari bagian-bagian sunnah, sementara sunnah adalah hujjah (argumen). [Jami' Bayan Al-'Ilmi wa Fadhlihu: 2/33-34].

Syarat Khabar Al-Mutawatir.

Khabar Mutawatir memliki lim (5) syarat:

أ). أن يخبر المخبرون عن علم ويقين، لا عن ظن أو شك.

a). Para penyampai khabarnya berasal dari khabar ilmu yaqin, bukan dari zhan (sangkaan) atau syak (keraguan).

ب). أن يستند المخبرون في خبرهم إلى الحس، لا إلى العقل أو غيره.

b). Para penyampai khabarnya menyandarkan khabar mereka pada panca indra, bukan kepada akal atau selainnya.

جـ). أن يكون المخبرون كثرة لا قلة، وليس هناك عدد معين يحدد هذه الكثرة، بل ضابط الكثرة ما حصل العلم بخبرهم.

c). Para penyampai khabarnya berjumlah banyak bukan sedikit. Dan tidak ada bilangan tertentu yang membatasi berapa jumlah banyaknya ini. Bahkan kaidah banyak adalah yang terhasilkan ilmu dengan khabar mereka tersebut.

د). أن تكون هذه الكثرة مما تحيل العادة تواطؤهم على الكذب أو الكتمان.

d). Jumlah banyak tersebut adalah: sesuatu yang menurut kebiasaan, mustahil mereka akan bersepakat untuk berdusta atau menyembunyikan.

هـ). أن توجد الشروط المتقدمة في جميع طبقات السند.

e). Keempat syarat tersebut di atas terdapat pada setiap thabaqat (tingkatan) sanad. 

ولا يخفي أن هذه الشروط للمتواتر العام، أما المتواتر الخاص فيضاف إلى هذه الشروط أن يكون ناقلوه من أهل العلم والتخصص، وذلك على النحو الذي تقدم بيانه من خلال النقل عن ابن تيمية وابن القيم.

Tidak tersamarkan bahwa syarat-syarat ini adalah untuk Mutawatir yang umum. Adapun Mutawatir yang khusus, maka ditambahkan kepada syarat-syarat ini: para penukilnya adalah dari kalangan ahli imu dan ahli khusus, sebagaimana telah berlalu penjelasannya di selah-selah penukilan dari Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Al-Qayyim Allahu yarhamuhuma (yakni pada pertemuan ke satu).

يشترط في المتواتر الخاص كنقل القرآن الكريم والأحاديث النبوية، الإسلام والعدالة، أما في عموم الأخبار فلا يشترط في الراوي لا إسلام ولا عدالة، وكلام الأصوليين إنما هو في الخبر المتواتر على وجه العموم.

Pada Mutawatir Khusus dipersyaratkan sebagaimana penukilan Al-Qur'an dan hadits-hadits nabawiyah: penukilnya seorang yang beragama islam dan 'adil. Adapun pada berbagai khabar secara umum, tidak dipersyaratkan pada perawinya islam atau 'adil. Dan ucapan para ushuliyun (ahli ushul) sesungguhnya berbicara mengenai Khabar Mutawatir dengan konteks umum. [Lihat: Ma'alim Ushul: 138, & Al-Faqih Wal Mutafaqqih: 96, & Raudhah An-Nazhir: 254, & Mukhatshar Ibnu Al-LAham: 81].

Pembahasan.
Ilmu yang terhasilkan dari Khabar Mutawair apakah Ilmu Dharuri atau Ilmu Nazhari?

Ilmu Dharuriadalah sebuah pengetahuan yang manusia terdesak untuk mengetahuinya tanpa diteliti atau dipelajari terlebih dahulu dan tidak bisa mengelak dari untuk tidak mengetahuinya, seperti api itu panas dan yang semisalnya.

Ilmu Nazhariadalah sebuah pengetahuan yang hanya akan terhasilkan dengan meneliti dan mempelajarinya, seperti rukun islam ada lima dan rukun iman ada enam dan yang semisalnya.

Lalu bagaimana dengan Khabar Mutawatir? Apakah ilmu yang terhasilkan dari Khabar Mutawatir merupakan ilmu dharuri ataukah ilmu nazhari? Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Sebagian mereka ada yang berpendapat ilmu yang terhasilkan dari Khabar Mutawatir adalah dharuri. Dan sebagian yang lain berpendapat nazhari.

وهذا الخلاف -إذا تأملناه- خلاف لفظي، إذ الجميع متفق على أن المتواتر يفيد العلم واليقين، وإنما اختلفوا في نوع هذا العلم: فمن نظر إلى أن العقل يضطر إلى التصديق به قال: إنه ضروري. ومن نظر إلى افتقار المتواتر إلى مقدمات - وإن كانت تلك المقدمات بدهية - قال: إنه نظري.

Khilaf pendapat ini -apabila kita mencermatinya- sebenarnya hanyalah khilaf lafzhi (perbedaan lafazh), karena pada asalnya semua bersepakat bahwa Al-Mutawatir memberikan faidah ilmu dan yaqin. Hanya saja mereka berselisih pada jenis ilmu ini (apakah dharuri ataukah nazhari?): barang siapa yang meneliti bahwa akal terdesak untuk membenarkan Khabar Mutawatir, maka ia berpendapat: Khabar Mutawatir adalah ilmu dharuri. Dan barang siapa yang meneliti butuhnya Al-Mutawatir kepada pengantar (untuk menuju ilmu dan yaqin) -walaupun pengantar tersebut tidak diperlukan-, maka ia berpendapat: Khabar Mutawatir adalah ilmu nazhari. [Lihat: Raudhah An-Nazhir: 250, & Ma'alim Ashul: 138, & Syarh Al-Kaukab Al-Munir: 327].

Ilmu Terhasilkan Dengan Beberapa Metode.

Pertama.
Terhasilkan dengan banyaknya jumlah dan tidak membutuhkan qarinah (indikasi).

أ). يحصل العلم تارة بالعدد الكثير دون قرائن، وهذا ما يسمى بالعدد الكامل الذي يحصل العلم به مجردًا عن القرائن. وإذا كان الأمر كذلك فإن العدد الذي حصل به العلم في واقعة من الوقائع دون قرائن لا بد وأن يحصل به العلم في كل واقعة ولكل أحد.

a). Ilmu terkadang terhasilkan semata dengan banyaknya jumlah tanpa membutuhkan qarinah (indikasi). Inilah yang dinamakan dengan bilangan sempurna, yang terhasilkan semata dengan bilangan tersebut tanpa qarinah. Apabila demikian perkaranya, maka bilangan yang terhasilkan dengannya sebuah ilmu pada kejadian dari kejadian-kejadian yang ada tanpa membutuhkan kepada qarinah adalah suatu keharusan. Dan akan terhasilkan ilmu dengan bilangan tersebut bagi setiap kejadian dan setiap orang. 

Kedua.
Terhasilkan dengan qarinah (indikasi).

ب). ويحصل العلم تارة بالقرائن وحدها، كالعلم بخوف شخص أو خجله، لظهور علامات ذلك عليه.

b). Ilmu terkadang terhasilkan semata dengan berbagai qarinah (tidak dengan banyaknya jumlah), seperti rasa takut atau rasa malunya seseorang karena tampaknya tanda-tanda tersebut padanya. 

Ketiga.
Terhasilkan dengan banyaknya jumlah dan qarinah (indikasi).

جـ). ويحصل تارة بمجموع الأمرين: بالمخبرين وبالقرائن معًا، وهذا ما يسمى بالعدد الناقص الذي احتفت به القرائن، فحصل العلم بالأمرين معًا.

c). Ilmu terkadang terhasilkan dengan kedua perkara tersebut: dengan banyaknya jumlah penukil khabarnya dan dengan berbagai qarinah sekaligus. Inilah yang dinamakan dengan 'adad naqish (bilangan yang kurang), yang hal ini ternaungi oleh qarinah. Maka terhasilkanlah ilmu dengan dua perkara tersebut sekaligus.

والمصطلح عليه عند أهل الأصول: أن المتواتر ما حصل فيه العلم بكثرة العدد فقط؛ يعني بالعدد الكامل.

Dan istilah mengenai hal ini menurut ahli ushul: sesungguhnya Al-Mutawatir yaitu apa-apa yang terhasilkan padanya dengan banyaknya jumlah saja; yakni dengan 'Adad Kamil (jumlah yang sempurna).

أما ما عدا ذلك فهو وإن كان مفيدًا للعلم لكنه لا يسمى عندهم متواترً.

Adapun selain itu, walaupun ia memberikan faidah ilmu akan tetapi ia tidak dikatakan sebagai Mutawatir menurut mereka (ahli ushul).

وعندهم أيضًا - كما تقدم - أن كل عدد أفاد العلمَ في واقعة أفاد مثلُ هذا العدد العلمَ في كل واقعة، إذا خلا الخبر عن القرائن. وهذا إنما يكون العدد الكامل.

Dan menurut mereka juga -sebagaimana telah lalu- bahwa setiap jumlah yang memberikan faidah ilmu pada sebuah kejadian, maka yang semisal jumlah ini juga memberikan faidah ilmu pada setiap kejadian, karena kosongnya khabar dari berbagai qarinah. Dan ini tentunya adalah 'Adad Kamil (bilangan yang sempurna). [Lihat: Raudhah An-Nazhir: 245, & Mukhtashar Ibnu Al-Laham: 81, & Syarh Al-Kaukab Al-Munir: 2/335, Ma'alim Ushul: 139].

Wallahu a’lam bish shawab wa baarakallahu fikum.

Ditulis oleh :
Selasa - 04 - Dzul Hijjah - 1437 H / 06 - 09 - 2016 M


Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post