Wednesday, August 3, 2016

author photo



TASHIH & TADl'IF HADITS.

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إقرارا به وتوحيدا، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا، أما بعد..

Masalah tashih (men-shahih-kan) dan tadl'if (me-lemah-kan) suatu hadits adalah masalah yang besar, tidak semua bisa berbicara mengenai masalah ini. Hanya ahlul ilmi-lah yang mampu berbicara mengenai masalah ini, mereka yang berkompeten yang telah menghabiskan waktu dan umurnya untuk hadits dan atsar. Sehingga mereka memiliki penguasaan yang sempurna, kekhususan dan pengetahuan yang mendalam mengenai berbagai sunnah, atsar dan sirah serta perjalanan baginda nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang mencakup segala ucapan, perbuatan dan sifat-sifat beliau shallallahu 'alaihi wasallam.    

Terjun ke dalam hadits-hadits nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan men-shahih-kan dan me-lemah-kan, dan berbicara mengenai jarh dan ta'dil terhadap para perawinya, sementara ia bukan seorang yang mumpuni dalam bidang tersebut, sungguh ini adalah perkara yang berbahaya. Sebagian manusia menyangka, bahwa perkara ini adalah perkara yang mudah dan pintu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin memasukinya. Sementara para ulama telah menjelaskan; bahwa ilmu ini membutuhkan tahap belajar dan pendalaman yang memakan waktu yang lama hingga meraih puncak kejernihan.

Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menuturkan:

اتفقتْ كلماتُ الأئمة جميعًا على أنّ الشرط الوحيد لِمن يصحّح ويضعّف أن يكون متمكّنًا في علم الحديث عارفًا بعلله و برجاله. 

Telah bersepakat kalimat-kalimat para imam seluruhnya, bahwa terdapat satu syarat yang diperuntukkan bagi orang yang men-shahih-kan dan me-lemah-kan (hadits), hendaknya ia adalah seorang yang menguasai ilmu hadits dan mengetahui ilmu 'ilal dan ilmu rijal. [Ar-Rad 'Ala At-Ta'qib Al-Hatsits: 60].

Al-imam 'Amr Ibnu Qais rahimahullahu juga mengatakan:

ينبغي لصاحب الحديث أن يكون مثل الصيرفي الذي ينتقد الدراهم فإن الدراهم فيها الزيف والبهرج وكذلك الحديث.

Hendaknya seorang ahli hadits itu menjadi seperti seorang penukar mata uang, yang mampu membedakan bentuk-bentuk dirham. Sesungguhnya dirham itu ada yang imitasi dan tiruan, demikian juga hadits. [Al-Jami' Li Akhlaq Ar-Rawi: 2/102].

Al-hafizh Nu'aim Ibnu Hammad rahimahullahu menuturkan:

قلت لعبد الرحمن بن مهدي: كيف تعرف صحيح الحديث وسقيمه؟ قال: «كما يعرف الطبيب المجنون».

Aku bertanya kepada 'Abdur Rahman Ibnu Mahdi rahimahullahu; bagaimana engkau bisa mengetahui shahihnya suatu hadits dari cacatnya? Maka beliau menjawab: sebagaimana seorang dokter mengetahui orang yang majnun (gila). [Al-'Ilal karya Ibnu Abi Hatim: 1/252].  

Dan Imam Muslim rahimahullahu juga menjelaskan:

واعلم رحمك الله أن صناعة الحديث ومعرفة أسبابه من الصحيح والسقيم إنما هي لأهل الحديث خاصة، لأنهم الحفاظ لروايات الناس، العارفين بها دون غيرهم.

Ketahuilah! Semoga Allah mencurahkan kasih sayang-Nya untukmu, sesungguhnya perindustrian mengenai hadits dan mengetahui berbagai sebabnya berupa shahih dan cacat, hal ini hanyalah kekhususan untuk ahli hadits. Karena merekalah para huffazh (penjaga) terhadap riwayat-riwayat manusia, mereka yang mengetahui riwayat-riwayat tersebut bukan selain mereka.  

إذ الأصل الذي يعتمدون لأديانهم السنن والآثار المنقولة، من عصر إلى عصر من لدن النبي صلى الله عليه وسلم إلى عصرنا هذا، فلا سبيل لمن نابذهم من الناس وخالفهم في المذهب، إلى معرفة الحديث ومعرفة الرجال من علماء الأمصار فيما مضى من الأعصار، من نقل الأخبار وحمال الآثار.

Karena pada asalnya, yang mereka jadikan sandaran untuk agama mereka (umat islam) adalah sunnah-sunnah dan atsar yang dinukil, dari masa ke masa dari sisi nabi shallallahu 'alaihi wasallam hingga masa kita saat ini. Maka tidak ada celah bagi manusia yang menentang dan menyelisihi pendapat mereka (ahli hadits), untuk mengetahui suatu hadits dan para perawinya dari ulama-ulama berbagai negeri yang telah lalu dari masa ke masa, berupa penukilan khabar dan pemikul atsar.

وأهل الحديث هم الذين يعرفونهم ويميزونهم حتى ينزلوهم منازلهم في التعديل والتجريح.

Dan ahli hadits, merekalah yang mampu mengetahui dan membedakan para rijal hadits, sehingga ahli hadits mendudukkan mereka sesuai dengan kedudukannya dalam ta'dil dan jarh.

وإنما اقتصصنا هذا الكلام، لكي نثبته من جهل مذهب أهل الحديث ممن يريد التعلم والتنبه على تثبيت الرجال وتضعيفهم، فيعرف ما الشواهد عندهم والدلائل التي بها ثبتوا الناقل للخبر من نقله، أو سقطوا من أسقطوا منهم.

Sengaja kami memaparkan masalah ini, agar kami menjelaskan hal ini dari ketidak-tahuan tentang madzhab ahli hadits bagi yang ingin mempelajari dan memerhatikan mengenai pen-shahih-an dan pen-dha'if-an para rijal. Sehingga orang yang ingin mempelajari dan memerhatikan bisa mengetahui apa saja yang menjadi poin penting dikalangan ahli hadits, dan argument-argumen yang digunakan untuk menetapkan hukum terhadap seorang penukil khabar dari penukilannya, atau jatuhnya para penukil yang mereka jatuhkan. [At-Tamyiz Lil Imam Muslim: 218-219]. 

Dan tatkala menguraikan seputar hadits syadz, Imam Al-Baihaqi rahimahullahu berkata: 

وهذا النوع من معرفة صحيح الحديث من سقيمه لا يعرف بعدالة الرواة وجرحهم، وإنما يعرف بكثرة السماع، ومجالسة أهل العلم بالحديث ومذاكرتهم، والنظر في كتبهم، والوقوف على روايتهم، حتى إذا شذ منها حديث عرفه.

Dan jenis ini (mengetahui hadits syadz), termasuk bentuk mengetahui shahihnya suatu hadits dari cacatnya yang tidak cukup hanya diketahui dengan 'adil-nya seorang perawi. Akan tetapi jenis ini hanya dapat diketahui dengan banyaknya mendengar dan duduk bersama ahli hadits serta bermudzakarah bersama mereka, dan melihat kitab-kitab mereka, dan menela'ah riwayat-riwayat mereka, hingga apabila ada suatu hadits yang syadz dari riwayat-riwayat tersebut, maka iapun mengetahuinya.   

وهذا هو الذي أشار إليه عبد الرحمن بن مهدي، وهو أحد أئمة هذا الشأن، ولأجله صنف الشافعي كتاب الرسالة، وإليه أرسله، وذلك أنه قيل له: كيف تعرف صحيح الحديث من خطئه؟ قال: كما يعرف الطبيب المجنون.

Dan inilah yang telah diisyaratkan oleh Imam Abdur Rahman Ibnu Mahdi rahimahullahu, dimana beliau termasuk salah satu imam dalam bidang ini. Yang untuk beliaulah, Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu menyusun kitab Ar-Risalah, dan kepada beliau dikirimkan kitab tersebut. Ditanyakan kepada Ibnu Mahdi rahimahullahu: bagaimana engkau bisa mengetahui shahihnya suatu hadits dari kelirunya? Maka beliau menjawab: sebagaimana seorang dokter mengetahui orang yang majnun (gila).   

وقال مرة: أرأيت لو أتيت الناقد فأريته دراهمك فقال: هذا جيد، وقال: هذا بهرج، أكنت تسأل عم ذلك، أو كنت تسلم الأمر له؟ قال: بل كنت أسلم الأمر له. قال: فهذا كذلك، لطول المجالسة والمناظرة والخبرة.

Dan pada kesempatan yang lain, Ibnu Mahdi rahimahullahu berkata; "khabarkan kepadaku! Apa pendapatmu apabila engkau mendatangi seorang pengritik (peneliti uang), kemudian engkau memperlihatkan dirham-mu kepadanya, kemudian ia mengatakan: mata uang ini bagus, atau mengatakan: mata uang ini tiruan. Apakah engkau akan mempertanyakannya atau engkau menyerahkan perkara tersebut kepadanya?" Maka sang penanya menjawab; "bahkan aku menyerahkan perkara tersebut kepadanya". Maka berkatalah Ibnu Mahdi rahimahullahu; "dalam masalah menghukumi hadits-pun demikian, karena lamanya (ahli hadits) dalam bermajelis, perdiskusian dan pengetahuan. [Ma'rifah As-Sunan Wal Atsar: 1/82].

Ahli hadits mampu memberikan hukum shahih ataupun cacat terhadap suatu hadits, yang demikian dikarenakan banyaknya bermajelis, mendengar, meneliti dan menela'ah hadits-hadits nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Sehingga mereka mampu mengetahui bahwa ini adalah hadits yang terang dan jelas nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menyabdakannya, dan ini adalah hadits yang gelap lagi munkar yang tidak mungkin nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakannya.

Seorang tabi'in yang mulya  Ar-Rabi' Ibnu Khutsaim rahimahullah telah berkata:

إن للحديث ضوء كضوء النهار يعرف، وظلمة كظلمة الليل تنكر.

Sesungguhnya hadits memiliki cahaya laksana cahaya siang yang diketahui, dan juga memiliki kegelapan laksana gelapnya malam yang tidak dapat diketahui. [Al-Ma'rifah Lil Fasawi: 2/564].

Al-Hafizh As-Sakhawi rahimahullahu mengomentari ucapan di atas dengan mengatakan:

وعنى بذلك الممارس لألفاظ الشارع، الخبير بها وبرونقها وبهجتها.

Yang diinginkan dari kalimat tersebut adalah (bagi) yang berpengalaman terhadap lafazh-lafazh nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lagi berpengetahuan mengenai hal tersebut dengan keindahan dan keelokkannya. [Fath Al-Mughits: 1/315].

Kemudian Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu memaparkan:

معرفة صحة الحديث وسقمه تحصل من وجهين:

Mengetahui shahih dan cacatnya suatu hadits bisa terhasilkan dari dua sisi:

أحدهما: معرفة رجاله وثقتهم وضعفهم، ومعرفة هذا هين، لأن الثقات والضعفاء قد دونوا في كثير من التصانيف، وقد اشتهرت بشرح أحوالهم التواليف.

Pertama.
Mengetahui para rijalnya, tsiqah dan lemahnya mereka. Dan mengetahui hal ini adalah mudah. Karena para perawi yang tsiqah dan lemah telah terbukukan dalam banyak buku karya, dan berbagai karya tulis telah masyhur menjabarkan keadaan-keadaan mereka.  

والوجه الثاني: معرفة مراتب الثقات، وترجيح بعضهم على بعض عند الاختلاف، إما في الإسناد، وإما في الوصل والإرسال، وإما في الوقف والرفع، ونحو ذلك. وهذا هو الذي يحصل من معرفته وإتقانه وكثرة ممارسته الوقوف على دقائق علل الحديث.

Kedua.
Mengetahui tingkatan-tingkatan perawi tsiqah, dan men-tarjih sebagian mereka terhadap sebagian yang lain tatkala terjadi perselisihan; baik dari segi sanad, atau dari segi maushul dan mursal, atau dari segi mauquf dan marfu', dan yang semisal itu. Dan ini yang terhasilkan dari pengetahuannya dan kemahirannya serta banyaknya bergelut memahami akan kedetilan-kedetilan 'ilal hadits. [Syarh 'Ilal Ibnu Rajab: 2/663]   

Al-hafizh Ibnu Al-Jauzi rahmatullah 'alaihi juga turut berkomentar:

ومن القبيح تعليق حكم على حديث لا يدري أ صحيح هو أم لا، ولقد كانت معرفة هذا تصعب ويحتاج الإنسان إلى السفر الطويل والتعب الكثير حتى تعرف ذالك، فصنفت الكتب وتقررت السنن وعرف الصحيح من السقيم.  

Dan termasuk perkara yang buruk adalah memberi catatan kaki pada suatu hukum berdasarkan hadits yang ia sendiri tidak mengetahui apakah hadits tersebut shahih atau tidak. Dahulu, untuk mengetahui hal ini adalah sesuatu yang sulit dan seseorang membutuhkan perjalanan yang panjang dan kelelahan yang sangat hingga diketahuilah hal tersebut. Yang kemudian disusunlah berbagai kitab, dikumpulkanlah hadits-hadits dan diketahuilah yang shahih dari yang cacat.

ولكن غلب على المتأخرين الكسل بالمرة أن يطالعوا علم الحديث، حتى إني رأيت بعض الأكابر من الفقهاء يقول في تصنيفه عن ألفاظ الصحاح: لا يجوز أن يكون رسول الله صلى الله عليه وسلم قال هذا! ورأيته يحتج في مسألة فيقول: دليلنا ما روى بعضهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال كذا! 

Akan tetapi kemalasan yang akut untuk menela'ah ilmu hadits telah menjangkiti orang-orang belakangan, bahkan aku telah menyaksikan sebagian tokoh besar ahli fiqih mengatakan dalam karyanya mengenai lafazh-lafazh yang shahih: tidak mungkin rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan hal ini! Di sisi yang lain, aku melihat ia berargumen pada suatu masalah dengan mengatakan: argument kami adalah hadits yang telah diriwayatkan oleh sebagian mereka; bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda begini!

ويجعل الجواب عن حديث صحيح قد احتج به خصمه أن يقول: هذا الحديث لا يعرف. وهذا كله جناية على الإسلام. 

Ia menjawab berdasarkan hadits shahih yang sebelumnya ia telah membantah lawannya dengan hadits tersebut, dan mengatakan: hadits ini tidak diketahui (munkar). Ini semua adalah bentuk kejahatan terhadap islam. [Talbis Iblis Libni Al-jauzi: 118-119]

Sungguh indah apa yang telah disampaikan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu, beliau berkata:

الكتابة في هذا العلم الشريف تصحيحًا وتضعيفًا لا يحسنه من تعلق به في تأخر من السن أو حداثة فيه، وإنما يحسنه أهل الاختصاص فيه الذين أفنوا حياتهم وشاخوا فيه، حتى جرى الحديث النبوي في عروقهم وصار جزءًا لا يتجزأ من حياتهم. أما من لم يكن كذالك، فلا شك أنه سيقع في شئم رد الأحاديث الصحيحة وتضعيفها  أو العكس، كما هو شأن أهل الأهواء والبدع. نسأل الله السلامة والعافية.

Penulisan dalam ilmu yang mulya ini berupa pen-shahih-an dan pen-tadl'if-an tidak menjadikannya lebih baik bagi yang mencintai bidang ini dalam keadaan ia lanjut usia atau masih muda belia. Ia hanya akan menjadi lebih baik oleh orang-orang khusus dalam bidang tersebut, yang telah menghabiskan hidup mereka hingga beruban menggeluti bidang tersebut. Hingga hadits nabawi mengalir dalam keringat-keringat mereka, dan menyatu tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Adapun yang tidak demikian keadaannya, maka tidak diragukan, ia akan terjatuh pada kecelakaan penolakan hadits-hadits nabawi yang shahih dan melemahkannya atau sebaliknya, sebagaimana keadaan ahli hawa dan bid'ah. Nas alulllahas salamah wal 'afiyah. [Ash-Shahihah: 2/7-8]  

أنصح لكل من يكتب في مجال التصحيح والتضعيف أن يتئد ولا يستعجل في إصدار أحكامه على الأحاديث إلا بعد أن يمضي عليه دهر طويل في دراسة هذا العلم في أصوله وتراجم رجاله ومعرفة علله، حتى يشعر في نفسه أنه تمكن من ذالك كله، نظرًا وتطبيقًا بحيث أن تحقيقاته -ولو على الغالب- توافق تحقيقات الحفاظ المبرزين في هذا العلم كالذهبي والزيلعي والعسقلاني وغيرهم. 

Aku nasihatkan bagi siapa saja yang menulis dalam ruang lingkup tashih dan tadl'if untuk berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menerbitkan hukum-hukumnya terhadap berbagai hadits, melainkan setelah berlalu baginya waktu yang lama dalam mempelajari ilmu ini dari segi usul-nya, biografi-biografi para perawinya dan pengetahuan 'ilal-nya. Hingga ia merasakan pada dirinya bahwa ia telah mumpuni pada perkara tersebut seluruhnya, dari segi penela'ahan dan penyocokkan, bahwa penelitian-penelitiannya -walaupun secara umum- bersesuaian dengan penelitian-penelitian para huffazh yang mahir dalam ilmu ini seperti Imam Adz-Dzahabi, Az-Zaila'i, Al-'Asqalani dan selain mereka.      

أنصح بهذا لكل إخواننا المشتغلين بهذا العلم، حتى لا يقع في مخالفة قول الله تعالى: (وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا)، (الإسراء: 36).  

Aku nasihatkan dengan perkara ini terhadap saudara-saudaraku yang menyibukkan diri dalam ilmu ini, sehingga ia tidak terjatuh menyelisihi firman Allah Ta'ala: (Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan minta pertanggungjawabkan), {Al-Isra: 36}. [Adh-Dha'ifah: 4/8].

Akhir kata dari ulasan ringkas ini, adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Imam Ibnu Daqiq Al-'Id rahimahullahu tatkala selesai memaparkan betapa detilnya masalah 'ilal dalam suatu hadits, beliau mengatakan:

إذا نبهت لهذه الدقائق في هذا الحديث، ظهر لك احتياج هذا الفن إلى جودة الفكر والنظر؛ فإن الأمر ليس بالهين، لا كما يظنه قوم: أنه مجرد حفظ ونقل لا يحتاج إلى غيرهما.     

Apabila engkau memerhatikan betapa detilnya 'ilal pada hadits ini, maka akan nampak bagimu betapa butuhnya bidang ini terhadap cara berfikir dan pertimbangan yang matang; sesungguhnya perkara ini bukanlah urusan yang mudah. Tidak sebagaimana yang disangka oleh sebagian kaum: bahwa masalah ini hanyalah sekedar menghafal dan menukil, tidak membutuhkan kepada selain kedua hal tersebut. (Al-Imam Fi Ma'rifati Ahadits Ahkam: 3/268). Wallahu a'lam.

Akhukum fillah:
Rabu, 29 - Syawwal- 1437 H / 03 - 08 - 2016 M

Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post