Tuesday, August 16, 2016

author photo


DHABTH KITAB

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدًا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إقرارًا به وتوحيدًا، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليمًا مزيدًا، أما بعد..

2). Fase Hifzh Al-Kitab (Penjagaan Dengan Penulisan)

Pada pertemuan sebelumnya, disana telah dijelaskan bahwa sunnah-sunnah nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan atsa-atsar salaf shalih terjaga dengan dua penjagaan; penjagaan dengan hafalan dan penjagaan dengan tulisan. Dan pada pertemuan tersebut juga telah kita kaji bersama; bahwa penjagaan dengan menggunakan hafalan adalah mayoritas keadaan para shahabat dan kibar tabi'in radhiallahu 'anhum ajma'in.

Demikian penjagaan menggunakan hafalan terus berlanjut hingga hampir berakhir masa tabi'in, tepatnya pada masa imam Muhammad Ibnu Muslim Abu Bakr Az-Zuhri rahimahullahu. Pada masa tersebut para ulama tersebar di berbagai negeri, dan juga muncul berbagai bid'ah dan faham menyimpang dalam agama seperti khawarij, rafidhah dan qadariyah. Karena alasan tersebut dan dikahwatirkan ilmu akan hilang, maka dikumpulkanlah hadits-hadits nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan atsar-atsar salaf  radhiallahu 'anhum.

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu:

حدث في أواخر عصر التابعين تدوين الآثار وتبويب الأخبار لما انتشر العلماء في الأمصار وكثر الابتداع من الخوارج والروافض ومنكرى الاقدار.

Pada masa akhir generasi tabi'in terjadi peristiwa pembukuan hadits dan pengklasifikasian khabar, dikarenakan tersebarnya para ulama di berbagai negeri dan dikarenakan banyakanya terjadi bid'ah berupa bid'ah khawarij, rafidah dan para pengingkar qadar. [Hadyu As-Sari Muqaddimah Fath Al-Bari: 8].   

Orang yang pertama kali memberikan perhatian untuk membukukan hadits-hadits nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan atsar para shahabat radhiallahu 'anhum adalah imam Az-Zuhri rahimahullahu.

أول من اعتنى بجمع الحديث النبوي الشريف -بمعنى تدوينه- محمد بن مسلم بن عبيد الله بن شهاب الزهري المدني رحمه الله تعالى.

Orang yang pertama kali memberikan perhatian untuk mengumpulkan hadits nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang mulya -dengan makna membukukannya- adalah Muhammad Ibnu Muslim Ibnu 'Ubaidaillah Ibnu Syihab Az-Zuhri Al-Madani rahimahullahu Ta'ala. [Taisir Ulum Al-Hadits 'Amr 'Abdul Mun'im: 21].

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd dalam thabaqat-nya, dengan sanad yang sampai kepada 'Abdur Razzaq dari Ma'mar; bahwa Shalih Ibnu Kaisan yang merupakan tabi'in yang sezaman sekaligus teman rihlah Az-Zuhri Allahu yarhamuhum, beliau menuturkan:  

اجتمعت أنا والزهري ونحن نطلب العلم، فقلنا: نكتب السنن، فكتبنا ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم، ثم قال الزهري: نكتب ما جاء عن أصحابه فإنه سنة، فقلت أنا: لا ليس بسنة لا نكبته، فكتب ولم أكتب فأنجح وضيعت.

Aku berkumpul bersama Az-Zuhri tatkala kami menuntut ilmu. Maka kami berkata: "kita akan mencatat sunnah-sunnah", maka kamipun mencatat apa-apa yang datang dari nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian Az-Zuhri berkata: "kita akan mencatat apa-apa yang datang dari para shahabat, sesungguhnya itu adalah sunnah". Maka aku menimpali: "tidak, itu bukan sunnah kita tidak perlu mencatatnya". Namun Az-Zuhri tetap mencatatnya sementara aku tidak mencatat, maka selamatlah Az-Zuhri dan terlantarlah aku. [Ath-Thabaqat Al-Kubra Libni Sa'ad: 1/168].

Dan tatkala khalifah 'Umar Ibnu 'Abdil 'Aziz khawatir dari hilangnya ilmu dan wafatnya para ulama, maka beliau mengirimkan surat terhadap salah satu qhadinya guna membukukan hadits. Sebagaimana telah disampaikan oleh Ibnu Sa'd dengan sanadnya sampai kepada Yazid Ibnu Harun dari Yahya Ibnu Sa'id; bahwa Abdullah Ibnu Dinar -rahimahumullahu- berkata:

كتب عمر بن عبد العزيز إلى أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم؛ أن انظر ما كان من حديث رسول الله صلى الله عليه و سلم أو سنة ماضية أو حديث عَمرة بنت عبد الرحمن فاكتبه فإني قد خفت دروس العلم وذهاب أهله.

Khalifah 'Umar Ibnu 'Abdil 'Aziz memerintahkan kepada Qadhi Abu Bakr Ibnu Muhammad Ibnu 'Amr Ibnu Hazm -Allahu yarhamuhuma-; lihatlah apa-apa yang merupakan hadits rasul Allah shallallahu 'alaihi wasallam atau sunnah yang telah lampau atau hadits 'Amrah Bintu 'Abdir Rahman -rahimahallahu-, maka tulislah! Sesungguhnya aku khawatir akan perginya ilmu dan hilangnya ahli ilmu. [Ath-Thabaqat Al-Kubra: 2/387].

Berkata Al-Khalil Ibnu 'Abdillah Ibnu Ahmad Al-Khalili rahimahullahu:

إن أبا بكر محمد بن مسلم بن عبيد الله بن شهاب الزهري حفظ علم هؤلاء كلهم، فكتب عمر بن عبد العزيز إلى الآفاق: "عليكم بابن شهاب! فإنكم لا تجدون أحدًا أعلم بالسنة الماضية منه ".

Sesungguhnya Abu Bakr Muhammad Ibnu Muslim Ibnu 'Ubaidillah Ibnu Syihab Az-Zuhri rahimahullahu telah menghafal ilmu mereka (para masyaikhnya) seluruhnya. Maka 'Umar Ibnu 'Abdil 'Aziz rahimahullahu memerintahkan kepada segenap penjuru negeri: "hendaknya kalian senantiasa bermulazamah dengan Ibnu Syihab! Sesungguhnya kalian tidak akan mendapati seorangpun yang lebih 'alim (berilmu) mengenai sunnah yang telah lampau dari beliau. [Al-Irsyad Fi Ma'rifati 'Ulama Hadits: 1/189].

وهذا التدوين وقع على رأس المئة الأولى.

Dan peristiwa pembukuan ini terjadi pada penghujung seratus tahun pertama. [Taisir 'Ulum Hadits 'Amr 'Abdul Mun'im: 22].

ثم أتى بعد الزهري في أثناء المئة الثانية من جمع الحديث النبوي على الأبواب؛ كابن جريج وهشيم والإمام مالك ومعمر وابن المبارك وغيرهم. واستمر بعد ذالك الجمع والتدوين على طرائق عدة؛ من جمع المسانيد والمصنفان والصحاح والجوامع والمستخرجات،...   

Kemudian setelah Imam Az-Zuhri rahimahullahu tepatnya pada pertengahan kurun kedua, datanglah para ulama yang mengumpulkan hadits nabawi berdasarkan klasifikasi; seperti Ibnu Juraij (Abu Muhammad 'Abdul Malik Ibnu 'Abdul 'Aziz), Husyaim (Ibnu Basyir Ibnu Al-Qasim As-Sulami Al-Washithi), imam Malik (Ibnu Anas Ibnu Malik Abu 'Abdillah imam Darul Hijrah), Ma'mar (Ibnu Rasyid Al-Azdi Abu 'Urwah Al-Bashri), Abdullah Ibnu Mubarak dan selain mereka rahimahumullahu. Demikian terus berlanjut pengumpulan dan pembukuan setelah itu dengan berbagai metode; dengan bentuk mengumpulkan berbagai musnad, berbagai mushannaf, berbagai hadits-hadits shahih, jawami' dan mustakhrajat,… [Taisir 'Ulum Hadits 'Amr 'Abdul Mun'im: 22].  

Adapun mengenai bagaimana sajakah bentuk-bentuk pengklasifikasian hadits dan atsar, alhamdulillah hal ini telah kita pelajari bersama secara ringkas pada kitab Musthalah Al-Hadits bagian kedua pertemuan ke Sembilan belas. Silahkan buka link berikut: METODE PENGKLASIFIKASIAN HADITS.

Mengenai fase ini, telah diabadikan oleh imam As-Suyuthi rahimahullahu dalam Alfiyah-nya:

41). أَوَّلُ جامِعِ الحديثِ والأَثَرْ * اِبْنُ شِهابٍ آمِرًا لَهُ عُمَرْ.

41). Awal yang mengumpulkan hadits dan atsar * adalah Ibnu Syihab atas perintah 'Umar.

 42). وَأَوَّلُ الجَامِعِ لِلأَبْوَابِ *جَمَاعَةٌ فِي العَصْرِ ذُو اقْتِرَابِ.

42). Dan awal yang mengumpulkan berdasarkan pengklasifikasian *adalah sekelompok ulama setelahnya yang berdekatan.

 43). كَابْنِ جُرَيْجٍ وهُشَيْمٍ مَالِكِ *وَمَعْمَرٍ وَوَلَدِ المُبَارَكِ.

43). Seperti Ibnu Juraij, Husyaim, Malik * Ma'mar dan Ibnu Al-Mubarak.

Wallahu a’lam bish shawab wa baarakallahu fikum.

Ditulis oleh :
Selasa - 13 - Dzul Qa'dah - 1437 H / 16 - 08 - 2016 M


Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post