006. Pembagian Hadits. - TSABITMEDIA.COM
News Update
Loading...

Sunday, June 12, 2016

006. Pembagian Hadits.




PERTEMUAN : KE-ENAM
SYARH AL-MANZHUMAH AL-BAIQUNIYYAH
IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


"PEMBAGIAN HADITS"

قَالَ المُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ:

Berkata Imam Al-Baiquniy rahimahullahu dalam Manzhumahnya:

وَذِيْ مِنْ أَقْسَامِ الْحَدِيْثِ عِدَّهْ * وَكُلُّ وَاحِدٍ أَتَى وَحَدَّهْ

Dan inilah beberapa pembagian hadits * Yang masing-masing akan datang bersama definisinya.

Kemudian Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu mulai menjelaskan:

قَوْلُهُ "ذِيْ" اسْمُ إِشَارَةٍ.

Perkataan Al-Baiquniy rahimahullahu "ذِيْ" adalah isim isyarah.

وَالْمُشَارُ إِلَيْهِ: مَا تَرَتَّبَ فِيْ ذِهْنِ الْمُؤَلِّفِ، إِنْ كَانَتِ الْإِشَارَةُ قَبْلَ التَّصْنِيْفِ. وَإِنْ كَانَتِ الْإِشَارَةُ بَعْدَ التَّصْنِيْفِ، فَالْمُشَارُ إِلَيْهِ هُوَ الشَّيْءُ الْحَاضِرُ الْمَوْجُوْدُ فِيْ الْخَارِجِ.

Yang diisyaratkan kepadanya adalah sesuatu yang terangkai pada benak muallif rahimahullahu, apabila isyarah tersebut sebelum penyusunan nazham. Adapun apabila setelah penyusunan, maka yang diisyaratkan kepadanya adalah sesuatu yang hadir dan ada di luar (yakni: pada nazham tidak pada benak muallif _pent

فَمَا الْمُرَادُ بِالْحَدِيْثِ هُنَا، أَعِلْمُ الدِّرَايَةِ أَمْ عِلْمُ الرِّوَايَةِ؟

Lalu apa gerangan yang diinginkan dengan hadits disini, Apakah Ilmu Dirayah ataukah Ilmu Riwayah?

نَقُوْلُ: الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ "أَقْسَامِ الْحَدِيْثِ" هُنَا عِلْمُ الدِّرَايَةِ.

Kita jawab: yang diinginkan dengan perkataan Al-Baiquniy rahimahullah "Pembagian Hadits" disini adalah Ilmu Dirayah.

*Lalu apa gerangan yang dimaksud dengan Ilmu Dirayah dan Ilmu Riwayah? Al-jawab: telah kita uraikan bersama masalah ini pada pertemuan kedua kitab ini. Silahkan diulang kembali!* (pent)

وَقَوْلُهُ "عِدَّه" أَيْ عَدَدٌ لَيْسَ بِكَثِيْرٍ.

Dan perkataan Al-Baiquniy rahimahullah "عِدَّه", yakni: jumlah yang tidak banyak.

وَقَوْلُهُ "وَكُلُّ وَاحِدٍ أَتَى وَحَدَّه"، أَيْ: أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَقْسَامِ جَاءَ بِهِ المُؤَلِّفُ.

Dan perkataan Al-Baiquniy rahimahullah "Yang masing-masing akan datang bersama definisinya", yakni: bahwa masing-masing dari bagian-bagian ini, hal tersebut akan didatangkan oleh muallif rahimahullahu.

وَقَوْلُهُ "أَتَى وَحَدَّه" الوَاوُ هُنَا وَاوُ الْمَعِيَّةِ، وَ"حَدَّه" مَفْعُوْلٌ مَعَهُ، وَهُنَا قَاعِدَةٌ وَهِيَ: إِذَا عُطِفَ عَلَى الضَّمِيْرِ المُسْتَتِرِ فَالْأَفْصَحُ أَنْ تَكُوْنَ الْوَاوُ لِلْمَعِيَّةِ وَيُنْصِبَ مَا بَعْدَهَا.

Perkataan Al-Baiquniy rahimahullah "أَتَى وَحَدَّه", huruf 'wau' disini adalah 'wau ma'iyyah', dan kata "حَدَّه" adalah 'maf'ul ma'ah'. Disini terdapat kaidah, yaitu: apabila di-'athaf-kan (disandarkan) kepada dhamir mustatir (kata ganti yang tersembunyi), maka yang fashih 'wau' tersebut adalah 'wau ma'iyyah' dan ia menashabkan yang setelahnya.

فَإِذَا قُلْتَ: مُحَمَّدٌ جَاءَ وَعَلِيًّا، فَإِنَّهُ أَفْصَحُ مِنْ قَوْلِكَ: مُحَمَّدٌ جَاءَ وَعَلِيٌّ. لِأَنَّ وَاوَ الْمَعِيَّةِ تَدُلُّ عَلَى الْمُصَاحَبَةِ، فَالْمَصْحُوْبُ هُوَ الضَّمِيْرُ.

Apabila kamu berkata: (مُحَمَّدٌ جَاءَ وَعَلِيًّا), sesungguhnya ini lebih fashih dari perkataanmu: (مُحَمَّدٌ جَاءَ وَعَلِيٌّ), karena 'wau ma'iyyah' menunjukkan makna mushahabah (menemani), dan yang ditemani adalah dhamir/kata ganti (pada kata "جَاءَ" _pent).

وَمَعْنَى "حَدَّه" أَيْ: تَعْرِيْفُهُ. وَالْحَدُّ: هُوَ التَّعْرِيْفُ بِالشَّيْءِ. وَيُشْتَرَطُ فِيْ الْحَدِّ أَنْ يَكُوْنَ مُطَّرِدًا وَأْنَ يَكُوْنَ مُنْعَكِساً، يَعْنِي: أَنَّ الْحَدَّ يُشْتَرَطُ أَلَّا يَخْرُجَ عَنْهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَحْدُوْدِ، وَأَلَّا يَدْخُلَ فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ غَيْرِ الْمَحْدُوْدِ.

Dan makna "batasannya" yakni: definisinya. Batasan adalah definisi terhadap sesuatu. Dan dipersyaratkan pada suatu batasan hendaknya bersifat umum dan hendaknya memiliki lawan. Yakni: bahwa suatu batasan dipersyaratkan tidak keluar darinya sesuatu yang masuk dalam batasannya, dan tidak masuk padanya sesuatu yang bukan dalam batasan.

فَمَثَلاً: إِذَا حَدَدْنَا الْإِنْسَانَ، كَمَا يَقُوْلُوْنَ: أَنَّهُ حَيْوَانٌ نَاطِقٌ. وَهَذَا الحَدُّ يَقُوْلُوْنَ: إِنَّهُ مَطَّرِدٌ، وَمُنْعَكِسٌ.

Sebagai contoh: apabila kita mendefinisikan kata "manusia". Sebagaimana mereka katakan: manusia adalah hewan yang berbicara. Definisi ini, mereka mengatakan: sesungguhnya definisi tersebut bersifat umum dan memiliki lawan.

فَقَوْلُنَا: "حَيْوَانٌ"، خَرَجَ بِهِ مَا لَيْسَ بِحَيِوَانٍ كَالجَمَادِ.

Perkataan kita: "hewan", keluar dari kata tersebut apa saja yang bukan termasuk hewan seperti benda mati.

وَقَوْلُنَا: "نَاطِقٌ"، خَرَجَ بِهِ مَا لَيْسَ بِنَاطِقٍ كَالْبَهِيْمِ.

Dan perkataan kita: "yang berbicara", keluar dari kata tersebut apa saja yang tidak berbicara seperti binatang ternak.

فَهَذَا الْحَدُّ الْآنَ تَامٌّ، لَا يَدْخُلُ فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ غَيْرِ الْمَحْدُوْدِ، وَلَا يَخْرُجُ مِنْهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَحْدُوْدِ.

Maka definisi ini sekarang ia sempurna, tidak masuk ke dalamnya sesuatu yang bukan dalam batasan, dan tidak keluar darinya sesuatu yang berada dalam batasan.

وَلَوْ قُلْنَا: إِنَّ الْإِنْسَانَ حَيْوَانٌ فَقَطْ؛ فَهَذَا لَا يَصِحُّ! لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ يَدْخُلُ فِيْهِ مَا لَيْسَ مِنْهُ، فَإِنَّنَا إِذَا قُلْنَا: إِنَّ الْإِنْسَانَ حَيْوَانٌ لَدَخَلَ فِيْهِ الْبَهِيْمُ وَالنَّاطِقُ.

Dan apabila kita katakan: sesungguhnya manusia adalah "hewan" saja; maka ini tidak tepat! Mengapa? Karena akan masuk pada definisi tersebut sesuatu yang bukan darinya. Apabila kita katakan: sesungguhnya manusia adalah "hewan", niscaya akan masuk ke dalam definisi tersebut  binatang ternak dan manusia.

وَإِذَا قُلْنَا: إِنَّ الْإِنْسَانَ حَيْوَانٌ نَاطِقٌ عَاقِلٌ، فَهَذَا لَا يَصِحُّ أَيْضاً؛ لِأَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهُ بَعْضُ أَفْرَادِ الْمَحْدُوْدِ وَهُوَ الْمَجْنُوْنُ.

Dan apabila kita katakan: sesungguhnya manusia adalah hewan yang berbicara dan berakal, ini juga tidak tepat; karena akan keluar dari definisi tersebut sebagian person dalam definisi, yaitu orang yang majnun (gila).

إِذاً فَلَابُدَّ فِيْ الْحَدِّ أَنْ يَكُوْنَ مُطَّرِداً مُنْعَكِساً.

Jadi, pada suatu definisi itu harus bersifat umum dan memiliki lawan.

وَإِذَا قُلْنَا فِيْ الوُضُوْءِ: إِنَّهُ غَسْلُ الْأَعْضَاءِ الْأَرْبَعَةِ فَقَطْ، فَهَذَا لَا يَصِحُّ، فَلَابُدَّ أَنْ تَقُوْلَ: عَلَى صِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ، لِأَنَّكَ لَوْ غَسَلْتَ هَذِهِ الْأَعْضَاءَ غَيْرَ مُرَتَّبَةٍ لَمْ يَكُنْ هَذَا وُضُوْءاً شَرْعِيًّا.

Apabila kita mendefinisikan wudhu: ia adalah membasuh anggota wudhu yang empat saja, definisi ini tidak tepat! Maka harus engkau tambahkan: dengan shifat yang khsusus. Karena apabila engkau membasuh anggota wudhu tersebut tidak berurut, maka hal tersebut bukan sebagai wudhu yang syar'i.

وَلَوْ قُلْتَ: الْوُضُوْءُ هُوَ غَسْلُ الْأَعْضَاءِ الْأَرْبَعَةِ ثَلَاثاً عَلَى صِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ، فَإِنَّ هَذَا أَيْضًا لَا يَصِحُّ، لِأَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهُ بَعْضُ الْمَحْدُوْدِ. فَإِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهُ الْوُضُوْءُ، إِذَا كَانَ غَسْلُ الْأَعْضَاءِ فِيْهِ مَرَةً وَاحِدَةً.

Dan apabila engkau mendefinisikan: wudhu adalah membasuh anggota yang empat sebanyak tiga kali dengan shifat tertentu, ini juga tidak tepat! Karena akan keluar dari definisi tersebut sebagian yang berada dalam batasan. Akan keluar darinya sebuah wudhu, yang apabila membasuh anggota pada wudhu hanya sekali.

وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْحَدُّ هُوَ التَّعْرِيْفُ، وَهُوَ: "الْوَصْفُ الْمَحِيْطُ بِمَوْصُوْفِهِ، الْمُمَيِّزُ لَهُ عَنْ غَيْرِهِ".

Kesimpulannya, kata "الحد" (batasan) adalah "التعريف" (definisi), yaitu: "shifat yang melingkup terhadap yang dishifati, yang membedakan terhadapnya dari selainnya".

وَشَرْطُهُ: أَنْ يَكُوْنَ مُطَّرِداً مُنْعَكِسًا، أَيْ: لَا يَخْرُجُ شَيْءٌ مِنْ أَفْرَادِهِ عَنْهُ، وَلَا يَدْخُلُ فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ غَيْرِ أَفْرَادِهِ.

Dan syaratnya: hendaknya bersifat umum dan memiliki lawan, yakni: tidak keluar sesuatu dari person-personnya dari definisi tersebut, dan tidak masuk ke dalam definsi tersebut sesuatu yang bukan person-personnya.

*KESIMPULANNYA:
Imam Al-Baiquniy rahimahullahu dalam bait nazham ini, beliau ingin menyampaikan bahwa Hadits itu terbagi menjadi beberapa bagian. Dan yang akan beliau sampaikan dalam nazham ini hanyalah sebagian saja, tidak semua dari bagian tersebut. Yang akan beliau sampaikan dalam nazham ini berjumlah sekitar tiga puluh dua (32) bagian. Dan masing-masing bagian tersebut akan beliau datangkan dan akan beliau uraikan satu demi satu bersama dengan masing-masing definisinya, yang dengan definisi tersebut akan saling membedakan antara satu bagian dengan bagian yang lain.* (pent)


Wallahu a'lam bish-shawab. Wa baarakallahu fikum.

Akhukum fillah:
Ahad, 07 - Ramadhan - 1437 H / 12 - 06 - 2016 M



Share with your friends

Give us your opinion

Notification


لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kalian bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmat pada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat Allah, maka pasti azab Allah sangat pedih

(QS. Ibrahim Ayat 7)

Done