Monday, January 18, 2016

author photo


"Tidak Masuk ke Dalam Perkara Fitnah Melainkan Dengan Ilmu Yang Benar"

بسم الله الرحمن الرحيم

Demikian kurang lebihnya dikatakan oleh Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab Al-'Aqil hafizhahullahu dalam salah satu bab pada kitab beliau yang berbicara tentang sikap seorang muslim dalam menghadapi fitnah.

Beliau hafizhahullahu berkata :

"عدم الخوض في أمر الفتن إلا بعلم صحيح"

"Tidak masuk ke dalam perkara fitnah melainkan dengan ilmu yang benar."

من المعلوم أن الواجب على المسلم ألا يتكلم إلا فيما يعلمه، وهذا الذي يعلمه لا يتكلم منه إلا بما ظهرت مصلحته الدينية والدنيوية.

Termasuk perkara yang maklum, bahwasannya wajib bagi seorang muslim untuk tidak berbicara melainkan pada perkara yang ia mengilmuinya. Dan perkara yang ia ilmui tersebut, ia tidak berbicara padanya melainkan pada sesuatu yang nampak mashlahatnya secara agama dan dunia.

والكلام بلا علم كذب محض، والكلام بما لا تعلم مصلحته من مفسدته مخالف للحكمة والعقل.

Berbicara tanpa ilmu adalah murni sebuah kedustaan. Dan berbicara pada perkara yang tidak diketahui mashlahat dari mafsadahnya adalah sesuatu yang menyelisihi hikmah dan akal.

وتزداد خطورة الكلام بلا علم إذا تعلق الأمر بالفتيا والقضاء، أو تعلق الأمر بالمهمات من شئون الأمة الإسلامية.

Dan berbicara tanpa ilmu akan semakin bertambah berbahaya apabila perkaranya berkaitan dengan fatwa dan ketentuan hukum. Atau pada perkara yang berkaitan dengan sesuatu yang sangat penting berupa urusan-urusan kaum muslimin.

Allah menjelaskah dalam Al-Qur'an :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Katakanlah! Sesungguhnya Rabbku mengharamkan segala perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampau batas tanpa alasan yang benar, dan mengharamkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Ia tidak menurunkan alasan pada sesuatu tersebut, dan mengharamkan berbicara tentang Allah tanpa ilmu." (Al-A'raf : 33)

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu :

فرتب المحرمات أربع مراتيب، وبدأ بأسهلها وهو الفواحش، ثم ثنى بما هو أشد تحريما منه وهو الإثم والظلم، ثم ثلث بما هو أعظم تحريما منهما وهو الشرك به سبحانه، ثم ربع بما هو أشد تحريما من ذالك كله وهو القول على الله بلا علم. وهذا يعم القول عليه سبحانه بلا علم في أسمائه وصفاته وأفعاله وفي دينه وشرعه.

Allah subhanahu wa ta'ala mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan menjadi empat urutan. Dimulai dengan yang paling ringannya, yaitu: perbuatan keji. Kemudian kedua, berupa sesuatu yang lebih keras keharamannya dari sebelumnya, yaitu: perbuatan dosa dan menganiaya. Kemudian urutan ketiga, berupa sesuatu yang lebih keras keharamannya dari sebelumnya, yaitu: perbuatan syirik kepada Allah.

Kemudian urutan keempat, berupa sesuatu yang lebih keras keharamannya dari sebelumnya seluruhnya, yaitu: berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Dan ini bersifat umum berbicara tentang Allah subhanahu wa ta'ala baik tentang nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, agamaNya dan syariatNya. (Selesai)

Kemudian berkata Asy-Syaikh hafizhahullahu :

والقول على الله بلا علم من أعظم أسباب فساد الأمم الماضية، والتشبه بهم في ذالك مفسدة لهذه الأمة قطعا

Berbicara atas Allah tanpa ilmu merupakan di antara sebab terbesar kerusakan umat-umat terdahulu. Dan menyerupai mereka dalam perkara tersebut akan merusak umat ini secara pasti.

Setelah Asy-Syaikh hafizhahullahu membawakan ayat-ayat yang menjelaskan tentang sebab kerusakan yang terjadi pada umat-umat sebelum islam yang disebabkan berbicara atas Allah tanpa diiringi dengan ilmu, beliau berkata:

فتبين من ذالك أن كل فساد في الأمم الماضية سببه القول على الله بغير علم، ولذالك حذر الله هذه الأمة عن اتباعهم في ذالك أو الأخذ بظنونهم وآرائهم، فإنها لا خير فيها، فهي سبب ضلالهم، بل الخير كله فيما أنزل الله.

Maka jelaslah dari hal tersebut, bahwa seluruh sebab kerusakan pada umat-umat terdahulu, sebabnya adalah berbicara atas Allah tanpa ilmu. Oleh karenanya Allah memeringatkan  umat ini jangan sampai mengikuti mereka pada perkara tersebut, atau mengambil sangkaan-sangkaan dan pemikiran-pemikiran mereka, sesungguhnya tidak ada kebaikan padanya. Bahkan kebaikan seluruhnya hanya ada pada apa yang Allah turunkan.

وكذالك حذر النبي صلى الله عليه وسلم أمته من القول على الله بلا علم، وأمر العامة بلزوم العلماء الربانيين والأخذ منهم والابتعاد عن الأئمة المضلين الذين جعلوا الدين والعلم مطية لشهوات الدنيا، أو من الذين فسدت عقائدهم بالبدع والشبه، أو الذين جمعوا بين شهوات الدنيا وشهوات البدع والأهواء، فضلوا وأضلوا، والعياذ بالله.    

Demikian juga nabi shallallahu 'alaihi wasallam memeringatkan umatnya dari berbicara atas Allah tanpa ilmu. Dan memerintahkan khalayak manusia untuk bermulazamah kepada ulama rabbani dan mengambil dari mereka, dan menjauh dari para tokoh yang menyesatkan yang menjadikan agama dan ilmu sebagai tunggangan untuk syahwat dunia, atau menjauh dari orang-orang yang rusak keyakinannya dengan perkara-perkara baru dan kerancuan, atau orang-orang yang menggabungkan antara syahwat dunia dan syahwat perkara baru dan hawa nafsu, sehingga menyimpanglah mereka dan menyimpangkan manusia, na'udzubillah.

Diantaranya sebagaimana dalam hadits 'Abdullah Ibnu 'Amr Ibnul 'Ash radhiallahu 'anhuma, nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا"

"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan sekali cabut, Ia mencabutnya dari hamba-hambaNya. Akan tetapi Ia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga tatkala tak tersisa seorang alimpun, maka manusia menjadikan para panutan yang bodoh. Kemudian mereka ditanya, maka mereka berfatwa tanpa ilmu. Maka sesatlah mereka dan menyesatkan." (Al-Bukhari dan Muslim) 

Imam Ibnu Hajar rahimahullahu berkata :

وفيه الحث على حفظ العلم، والتحذير من ترئيس الجهلة، وفيه أن الفتوى هي الرئاسة الحقيقية، وذم من يقدم عليها بغير علم.    

Hadits tersebut memberikan dorongan untuk menjaga ilmu, dan memeringatan dari (bahaya) menjadikan pemimpin orang-orang yang bodoh. Dan bahwa masalah fatwa adalah masalah kepemimpinan yang hakiki, dan tercelanya orang yang mendatangkan fatwa tanpa ilmu. (Fathul Bari 1/194)   

Sebagaimana nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, melalaui jalur hadits 'Umar Ibnul Khaththab Allahu yardhahu:

"إنما أخاف على هذه الأمة كل منافق يتكلم بالحكمة ويعمل بالجور"

"Sesungguhnya yang aku takutkan terhadap umatku adalah setiap munafiq yang berbicara dengan hikmah akan tetapi bertindak lalim." (Musnad Ahmad: 1/289, dikatakan oleh Al-Haitsami dalam Majmu' Zawaid: para perawinya adanya orang-orang yang terpercaya. Al-Albani menshahihkannya dalam Silsilah Shahihah: 3/11:1013)

Sebagaimana juga nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, melalaui shahabat 'Imran Ibnu Hushain Allahu yardhahuma:

"إن أخوف ما أخاف عليكم بعدي منافق عالم اللسان"

"Sungguh yang paling aku takutkan terhadap kalian setelahku, adalah seorang munafiq yang pandai berbicara." (Shahih Ibnu Hibban: 1/281:80. Berkata Al-Haitsami dalam Majmu' Zawaid: para perawinya adalah para perawi yang shahih. Dan Al-Albani menshahihkannya dalam Mawarid Zham'an: 1/124:91)

فتبين من هذه النصوص خطورة القول على الله بلا علم، ولا سيما في أوقات الفتن. فوجب على من عنده علم أن يظهره بحسب المصلحة، ووجب على من لا علم عنده أن يحفظ نفسه ولسانه، وأن يسأل أهل العلم، حتى ينجو، وحتى لا يأتي الإسلام من قبله.

Berdasarkan nash-nash tersebut di atas, maka jelaslah akan bahayanya berbicara atas Allah tanpa ilmu, terlebih di masa-masa fitnah. Maka wajib bagi yang memiliki ilmu untuk menampakkan ilmu tersebut disesuaikan dengan kemashlahatan. Dan wajib bagi yang tidak memiliki ilmu untuk menjaga diri dan lisannya, dan bertanya kepada ahlul ilmi agar ia selamat, dan agar islam tidak didatangkan dari sisi (akal)nya.  

وهنا أمر ينبغي التفطن والتنبه له وهو أن المنتسبين للعلم كثيرون، وقد يغرون العامة، ولذالك وجب الحرص والتثبت وعدم العجلة في الأخذ عن هؤلاء، بل لابد من معرفة حال المتظاهر بالعلم، ومدى تمسكه بالكتاب والسنة، ثم سؤال الله الهداية إلى ما اختلف فيه من الحق، إنه الهادي إلى الصراط المستقيم     

Dan disinilah letaknya suatu perkara wajib berhati-hati dan memperhatikan dengan baik terhadap perkara tersebut, bahwa banyak manusia yang menyandarkan diri terhadap ilmu akan tetapi menipu khalayak manusia. Oleh karenanya wajib bersemangat, bertatsabbut dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil dari mereka.

Bahkan wajib mengetahui keadaan manusia yang berpura-pura menampakkan diri dengan ilmu, dan sejauh mana ia berpegang teguh terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Kemudian bermohon kepada Allah agar dianugerahi petunjuk terhadap kebenaran pada perselisihan yang terjadi padanya. Dialah Allah Yang Maha memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.

لأن زمان الفتن كثير قرائه قليل فقهائه، يرفع فيه العلم، ويكثر فيه الجهل، وينطق فيه الرويبضة.

Karena pada zaman fitnah banyak para ahli qira'ahnya dan sedikit ahli fiqhnya. Diangkat ilmu pada zaman tersebut. Bertebaran padanya orang-orang yang bodoh. Dan Ar-Ruwaibidhah (orang dungu) angkat bicara pada zaman tersebut.  

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ، وَيَنْقُصُ العَمَلُ، وَيُلْقَى الشُّحُّ، وَتَظْهَرُ الفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الهَرْجُ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّمَ هُوَ؟ قَالَ: القَتْلُ القَتْلُ"

"Waktu terasa dekat, amal shalih berkurang, kebakhilan merajalela, bermunculan fitnah, dan banyak Al-Harj. Para shahabat bertanya: ya rasul Allah! Apa gerangan Al-Harj?. Beliapun bersabda: pembunuhan, pembunuhan." (Al-Bukhari dan Muslim)

Demikian juga dari Anas Ibnu Malik radhiallahu 'anhu, nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يُرْفَعَ العِلْمُ وَيَثْبُتَ الجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا"

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, merebaknya kebodohan dan diminumnya khamer serta praktek zina secara terang-terangan." (Al-Bukhari dan Muslim)

وقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم أمته بتأني وقت الفتن، وعدم الخوض في أمرها إلا بعلم صحيح، وإلا سكت واعتزلها، وما ذاك إلا لخطورة الكلام والفتوى وقت الفتن، لأن الناس في حيرة ودهشة، وهم ينتظرون من يرفع رأسه للفتيا فيتابعونه، وربما تابعوه على باطل, فيصيب الإسلام وأهله بلاء عظيم.

Dan sungguh nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan umatnya untuk berhati-hati pada masa-masa fitnah. Dan tidak masuk ke dalam perkara fitnah melainkan dengan ilmu yang benar, atau diam dan tinggalkan. Tidaklah yang demikian melainkan karena bahayanya berbicara dan bahayanya fatwa di masa-masa fitnah. Karena manusia berada dalam kebingungan dan kepanikkan. Dan mereka sedang menunggu sosok yang akan menengadahkan kepalanya untuk berfatwa, kemudian manusia mengikutinya. Dan tidak menutup kemungkinan mereka mengikutinya di atas kebathilan. Sehingga islam dan pemeluknyapun tertimpa petaka yang besar.

Shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu menyampaikan haditsnya, nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"سَتَكُونُ فِتَنٌ، القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي، وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، فَمَنْ وَجَدَ مِنْهَا مَلْجَأً، أَوْ مَعَاذًا، فَلْيَعُذْ بِهِ"

"Akan segera bermunculan perkara fitnah, dimana di masa-masa tersebut orang yang duduk lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari yang berlari. Barang siapa berusaha menghadapi fitnah tersebut, maka fitnah tersebut akan menggelincirkannya. Maka barang siapa mendapatkan tempat berlindung, atau tempat keamanan, maka berlindunglah dengan hal tersebut." (Al-Bukhari dan Muslim)  

Demikian juga telah datang dari Abdullah Ibnu 'Amr Ibnu Al-'Ash radhiallahu 'anhuma, beliau mengisahkan:

"بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ إِذْ ذَكَرُوا الْفِتْنَةَ، أَوْ ذُكِرَتْ عِنْدَهُ، قَالَ: " إِذَا رَأَيْتَ النَّاسَ قَدْ مَرِجَتْ عُهُودُهُمْ، وَخَفَّتْ أَمَانَاتُهُمْ، وَكَانُوا هَكَذَا "، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، قَالَ: فَقُمْتُ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ لَهُ: كَيْفَ أَفْعَلُ عِنْدَ ذَلِكَ، جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ؟ قَالَ: " الْزَمْ بَيْتَكَ، وَامْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَخُذْ مَا تَعْرِفُ، وَدَعْ مَا تُنْكِرُ، وَعَلَيْكَ بِأَمْرِ خَاصَّةِ نَفْسِكَ، وَدَعْ عَنْكَ أَمْرَ الْعَامَّةِ"

"Saat kami berada di sisi rasul Allah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka menyebutkan  tentang fitnah. Atau disebutkan disisi beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Maka beliau bersabda : apabila engkau melihat manusia telah merusak janji-janji mereka, dan telah meluntur amanah-amanah mereka, dan keadaan mereka seperti ini, lalu beliau menganyam antara jemarinya. Maka aku berdiri kepada nabi, dan aku bertanya kepada beliau: apa yang harus aku lakukan tatkala aku mendapatinya, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu? Maka beliaupun bersabda:

"Tetaplah engkau berdiam di dalam rumahmu, tahanlah lisanmu, lakukanlah apa yang engkau ketahui, dan tinggalkan apa yang engkau ingkari (tidak kamu ketahui), dan sibukkanlah dengan urusan pribadimu, serta tinggalkanlah urusan khalayak ramai."

(Musnad Ahmad: 11/567, Sunan Abu Dawud: 4/124:4343, Sunan An-Nasai: 6/59:1033, Mustadrak Al-Hakim: 4/525. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ahmad Syakir)

Imam Al-Bukhari rahimahullahu meriwayatkan dari Khalaf Ibnu Hausyab, bahwa mereka mempemisalkan suatu fitnah dengan bait syair :

الحرب أول ما تكون فتية * تسعى بزينتها لكل جهول

Sebuah peperangan, di awalnya ia berwujud seorang pemudi * melangkah dengan keelokkannya di hadapan setiap orang bodoh.

حتى إذا اشتعلت وشب ضرامها * ولت عجوزا غير ذات حليل

Hingga menyala-nyala dan mengembang gejolak apinya * berubahlah ia menjadi perempuan tua menjanda tanpa suami.

شمطاء ينكر لونها وتغيرت * مكروهة للشم والتقبيل

Beruban rambutnya, tidak dikenali warnanya dan berubah * tidak disukai untuk mencium dan mengecupnya.

فالواجب على المسلم حال الفتن الصبر وحبس اللسان واليد، وترك الأمر لأهل الحل والعقد ممن ولاه الله أمر العامة، والإشتغال بنفسه ومن يعول في حمايتهم عن الفتن ما ظهر منها وما بطن. والله أعلم.

Maka yang wajib bagi seorang muslim di waktu fitnah adalah bersabar, menahan lisan dan tangan, dan menyerahkan perkara tersebut kepada ahlul hil wal 'aqd (yakni ulama dan umara) yang Allah mandatkan kepadanya urusan khalayak manusia. Dan menyibukkan dengan diri pribadi dan keluarga untuk menjaga mereka dari fitnah baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Wallahu a'lam.  Wanas_alullaha as-salama wal 'afiyah, wala haula wala quwwata illa billah.


Akhukum fillah :
Abu Muhammad Mubaarok Al-Atsary
Senin, 07  - Rabi'uts Tsani - 1437 H / 18 - 01 - 2016 M


Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post