Sunday, November 1, 2015

author photo


(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-EMPAT
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"SHAHABAT NABI"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah:

الصَّحَابِيُّ
أ_ تَعْرِيْفُ الصَّحَابِيِّ، بَ_ حَالُ الصَّحَابَةِ، ج_آخِرُهُمْ مَوْتاً وَفَائِدَةُ مَعْرِفَتِهِ، د_ المُكْثِرُوْنَ مِنَ التَّحْدِيْثِ

(Pembahasan seputar) Shahabat Nabi (yang mencakup) :

A). Definisi Shahabat Nabi.
B).Keadaan Shahabat Nabi.
C).Shahabat Nabi Yang Paling Terakhir Wafat & Faidah Mengetahuinya.
D).Para Shahabat Yang Banyak Meriwayatkan Hadits.

Dari 4 (empat) poin besar tersebut di atas, yang akan kita kaji bersama pada pertemuan kali adalah poin Adan poin B, insya Allah.

*****

A). Definisi Shahabat Nabi.

أ_ الصَّحَابِيُّ
مَنِ اجْتَمَعَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ رَآهُ مُؤْمِناً بِهِ، وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ

Shahabat Nabi adalah :
Siapa saja yang berjumpa nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau melihatnya dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal di atas hal tersebut.

فَيَدْخُلُ فِيْهِ: مَنِ ارْتَدَّ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الْإِسْلَامِ: كَالأَشْعَثْ بْنِ قَيْسٍ؛ فَإِنَّهُ كَانَ مِمَّنِ ارْتَدَّ بَعْدَ وَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجِيْءَ بِهِ أَسِيْراً إِلَى أَبِيْ بَكْرٍ، فَتَابَ وَقَبِلَ مِنْهُ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Maka masuk dalam definisi tersebut di atas: siapa saja yang murtad kemudian kembali kepada islam. Seperti: Al-Asy'ats Ibnu Qais; sesungguhnya ia adalah termasuk orang yang murtad sepeninggal nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian didatangkan kepada khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu sebagai seorang tawanan, kemudian ia bertaubat, dan khalifah Abu Bakr radhiallahu 'anhumenerimanya.

وَيَخْرُجُ مِنْهُ: مَنْ آمَنَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَيَاتِهِ، ولَمْ يَجْتَمِعْ بِهِ: كَالنَّجَاشِيِّ

Dan keluar dari definisi tersebut di atas: siapa saja yang beriman kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam semasa hidup beliau dan tidak berjumpa dengan beliau shallallhu 'alaihi wasallam. Seperti: An-Najasyi.

Tambahan faidah (pent) :
Siapa saja yang beriman kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallamsemasa hidup beliau dan tidak berjumpa dengan beliau, hal ini para ulama muhadditsin mengisthilahkan mereka sebagai "المخضرم" (Al-Mukhadhram). Dan akan datang uraiannya secara tersendiri pada pertemuan ke-tujuh insya Allah.

  وَمَنِ ارْتَدَّ وَمَاتَ عَلَى رِدَّتِهِ: كَعَبْدِ اللهِ بْنِ خَطْلٍ قُتِلَ يَوْمَ الْفَتْحِ، وَرَبِيْعَةَ بْنِ أُمَيَّةَ بْنِ خَلْفٍ ارْتَدَّ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ وَمَاتَ عَلَى الرِّدَّةِ

Dan keluar juga dari definisi tersebut di atas: siapa saja yang murtad dan meninggal di atas kemurtadannya. Seperti: 'Abdullah Ibnu Khathl, ia terbunuh di hari Fathu Makkah. Demikian juga seperti: Rabi'ah Ibnu Umayyah Ibnu Khalf, ia murtad di zaman khalifah 'Umar Ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu dan mati di atas kemurtadan. Na'udzubillah

Jumlah para shahabat (pent).

وَالصَّحَابَةُ عَدَدٌ كَثِيْرٌ، وَلَا يُمْكِنُ الْجَزْمُ بِحَصْرِهِمْ عَلَى وَجْهِ التَّحْدِيْدِ، لَكِنْ قِيْلَ عَلَى وَجْهِ التَّقْرِيْبِ: أَنَّهُمْ يَبْلُغُوْنَ مِئَة وَأَرْبَعَةَ عَشَرَ أَلْفاً

Jumlah shahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallamsangat banyak. Dan tidak mungkin memastikan jumlah mereka dengan bilangan tertentu. Akan tetapi ada yang mengatakan kurang lebih jumlah mereka mencapai 114.000 (seratus empat belas ribu).

B). Keadaan Shahabat Nabi.

Yang diinginkan dari kalimat "Keadaan Shahabat Nabi" adalah tentang ketsiqahan mereka dalam menyampaikan khabar-khabar dari nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah:

ب_ حَالُ الصَّحَابَةِ
وَالصَّحَابَةُ كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ ذَوُوْ عَدْلٍ، تُقْبَلُ رِوَايَةُ الْوَاحِدِ مِنْهُمْ وَإِنْ كَانَ مَجْهُوْلاً، وَلِذَلِكَ قَالُوْا: جَهَالَةُ الصَّحَابِيِّ لَا تَضُرُّ

Keadaan para shahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Para shahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallam seluruhnya adalah "ثِقَاتٌ" (orang-orang yang terpercaya), "ذَوُوْ عَدْلٍ" (orang-orang yang memiliki 'Adalah). Riwayat satu orang shahabat adalah diterima, walaupun ia majhul. Oleh karenanya para ulama berkata:

جَهَالَةُ الصَّحَابِيِّ لَا تَضُرُّ

"Majhulnya shahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallamtidak bermadharat."

وَالدَّلِيْلُ عَلَى مَا وَصَفْنَاهُ مِنْ حَالِ الصَّحَابَةِ: أَنَّ اللهَ أَثْنَى عَلَيْهِمْ وَرَسُوْلُهُ فِيْ عِدَّةِ نُصُوْصٍ، وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ قَوْلَ الْوَاحِدِ مِنْهُمْ إِذَا عُلِمَ إِسْلَامُهُ، وَلَا يَسْأَلُ عَنْ حَالِهِ

Dan argument atas apa yang kami sifatkan tersebut tentang keadaan para shahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah: sesungguhnya Allah Jalla wa 'Ala dan Rasul-Nya memuji mereka dalam sejumlah nash. Dan bahwasannya nabi shallallahu 'alaihi wasallam menerima ucapan salah seorang dari mereka tatkala ia diketahui keislamannya. Dan beliau tidak mempertanyakan perihal keadaannya (apakah tsiqah atau tidak _pent).

فَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّيْ رَأَيْتُ الْهِلَالَ: يَعْنِيْ رَمَضَانَ، فَقَالَ: "أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟"، قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: "أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ؟"، قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: "يَا بِلاَلَ أَذِّنْ فِيْ النَّاسِ فَلْيَصُوْمُوْا غَداً". أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّان

Dari shahabat Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhuma, beliau berkata: "datang seorang badui kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "sesungguhnya aku melihat hilal -yakni ramadham- ".

Maka nabi shallallahu 'alaihi wasallambertanya kepadanya: "apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah?". Maka iapun menjawab: "na'am".

Kemudian nabi shallallahu 'alaihi wasallam kembali bertanya: "apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?". Maka iapun menjawab: "na'am".

Kemudian nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Bilal radhiallahu 'anhu: "wahai Bilal, umumkanlah kepada manusia, hendaknya mereka besok berpuasa".

(Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Khamsah, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).


Wallahu a'lam bish-shawab. Wa baarakallahu fikum.


Akhukum fillah :
Ahad, 18 - Muharram - 1437 H / 01 - 10 - 2015 M



Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post