Sunday, September 27, 2015

author photo


PERTEMUAN : KE - DUA PULUH TUJUH
BUKU : MUSTHALAH AL HADITS
PENGARANG : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
___________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"AL-JARH DAN AT-TA'DIL (AT-TA'DIL)"

Jika pada pertemuan sebelumnya kita berfokus pada masail seputar Al-Jarh, adapun untuk hari ini, kita akan berfokus pada masail seputar At-Ta'dil insya Allah.

Berkata asy-syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah:

التَّعْدِيْلُ
أ_ تَعْرِيْفُهُ، ب_ أَقْسَامُهُ، ج_ مَرَاتِبُهُ، د_ شُرُوْطُ قَبُوْلِهِ

At-Ta'dil.
A). Definisi At-Ta'dil.
B).Pembagian At-Ta'dil. 
C).Jenjang At-Ta'dil.
D).Syarat-Syarat Diterimanya At-Ta'dil.

*****

A). Definisi At-Ta'dil.

أ_ التَّعْدِيْلُ
أَنْ يُذْكَرَ الرَّاوِيُّ بِمَا يُوْجِبُ قَبُوْلَ رِوَايَتِهِ: مِنْ إِثْبَاتِ صِفَةِ قَبُوْلٍ أَوْ نَفْيِ صِفَةِ رَدٍّ، مِثْلُ أَنْ يُقَالَ: هُوَ ثِقَةٌ، أَوْ ثَبْتٌ، أَوْ لَا بَأْسَ بِهِ، أَوْ لَا يُرَدُّ حَدِيْثُهُ

At-Ta'dil yaitu :
Seorang perawi disebutkan dengan sesuatu, yang sesuatu tersebut mengharuskan diterima riwayatnya, baik (sesuatu tersebut _pent) berupa "penetapan sifat diterimanya", atau "penafian sifat tertolak". Seperti dikatakan: ia seorang yang tsiqah/terpercaya, atau tsabat/kokoh, La Ba'sa Bih/tidak mengapa, atau ia seorang yang tidak tertolak haditsnya.

*****

B). Pembagian At-Ta'dil.

ب_ وَيَنْقَسِمُ التَّعْدِيْلُ إِلَى قِسْمَيْنِ: مُطْلَقٌ وَمُقَيَّدٌ

Dan At-Ta'dil terbagi menjadi 2 (dua) bagian: Muthlaq dan Muqayyad.

1_ فَالْمُطْلَقُ: أَنْ يُذْكَرَ الرَّاوِيُّ بِالتَّعْدِيْلِ بِدُوْنِ تَقْيِيْدٍ؛ فَيَكُوْن تَوْثِيْقاً لَهُ بِكُلِّ حَالٍ

1_ Adapun Muthlaq yaitu :
Seorang perawi disebutkan dengan "suatu Ta'dil tanpa adanya keterkaitan". Sehingga Ta'dil tersebut adalah merupakan bentuk pentsiqahan terhadap sang perawi dalam segala keadaan.

Tambahan penjelasan (pent).

Sebagai contoh pada kalimat :

(Fulan adalah seorang perawi yang "Tsiqah".)

Lafazh "Tsiqah"pada kalimat di atas adalah lafazh Ta'dil yang bersifat Muthlaq. Tidak ada Taqyid/keterkaitan pada lafazh Ta'dil tersebut dengan sesuatu apapun. Tidak dikatakan padanya, bahwa ia adalah seorang perawi yang "Tsiqah"dengan Taqyid: "apabila meriwayatkan dari penduduk Hijaz atau Makkah atau Syam dan yang semisalnya". Sehingga sang perawi dihukumi "Tsiqah"secara muthlaq, baik meriwayatkan dari penduduk Hijaz, atau Makkah, atau Syam, dan yang semisalnya.

Berbeda halnya apabila terdapat Taqyid padanya. Sebagaimana dijelaskan oleh asy-syaikh rahimahullah :

2_ وَالْمُقَيَّدُ: أَنْ يُذْكَرَ الرَّاوِيُّ بِالتَّعْدِيْلِ بِالنِّسْبَةِ لِشَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ شَيْخٍ، أَوْ طَائِفَةٍ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ؛ فَيَكُوْن تَوْثِيْقاً لَهُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى ذَلِكَ الشَّيْءِ الْمُعَيَّنِ دُوْنَ غَيْرِهِ

2_ Adapun Muqayyad yaitu :
Seorang perawi disebutkan dengan suatu Ta'dil dari sisi karena sesuatu tertentu. Baik berupa karena syaikh, atau karena kelompok, atau yang semisalnya. Sehingga Ta'dil tersebut adalah merupakan bentuk pentsiqahan terhadap sang perawi dari sisi sesuatu tertentu tersebut, tidak pada selainnya.

مِثْلُ أَنْ يُقَالَ: هُوَ ثِقَةٌ فِيْ حَدِيْثِ الزُّهْرِيِّ، أَوْ فِيْ الْحَدِيْثِ عَنِ الْحِجَازِيِّيْنَ

Seperti dikatakan: "dia tsiqah pada hadits Az-Zuhri rahimahullah" (yakni: apabila hadits yang ia riwayatkan adalah dari Az-Zuhri rahimahullah _pent), atau "pada haditsnya dari para penduduk Hijaz" (yakni: apabila hadits yang ia riwayatkan adalah dari para penduduk Hijaz _pent).

فَلَا يَكُوْنُ ثِقَةً فِيْ حَدِيْثِهِ مِنْ غَيْرِ مَنْ وُثِّقَ فِيْهِمْ

Maka ia tidak menjadi perawi yang tsiqah pada haditsnya, dari selain yang ia ditsiqahkan pada mereka. (yakni: apabila hadits yang ia riwayatkan bukan dari Az-Zuhri rahimahullah atau bukan dari para penduduk Hijaz, maka haditsnya tertolak _pent).

لَكِنْ إِذَا كَانَ الْمَقْصُوْدُ دَفْعَ دَعْوَى ضَعْفِهِ فِيْهِمْ، فَلَا يَمْنَعُ حِيْنَئِذٍ أَنْ يَكُوْنَ ثِقَةً فِيْ غَيْرِهِمْ أَيْضاً

Akan tetapi apabila yang diinginkan dari Taqyid pada suatu Ta'dil adalah menepis sangkaan pen-dha'ifan terhadapnya pada Taqyid tersebut, maka tidak menutup kemungkinan, ia juga tsiqah pada selain Taqyid tersebut.

Suatu contoh (pent) :

Apabila Fulan adalah seorang perawi yang disifati dengan sifat Tsiqah secara Muthlaq. Kemudian datang Alan bertanya: "apakah Fulan adalah perawi yang Dha'if apabila meriwayatkan dari penduduk Syam?

Maka dijelaskan kepada Alan, bahwa riwayat Fulan dari penduduk Syam adalah Tsiqah. 

Maka Taqyid yang menepis sangkaan pen-dha'ifan Alan terhadap Fulan pada Taqyid tersebut, tidak menutup kemungkinan, Fulan juga Tsiqah pada selain Taqyid tersebut.

*****

C). Jenjang At-Ta'dil.

ج_ وَلِلتَّعْدِيْلِ مَرَاتِبُ

Dan Al-Ta'dil itu memiliki tingkatan-tingkatan.

* أَعْلَاهَا: مَا دَلَّ عَلَى بُلُوْغِ الْغَايِةِ فِيْهِ مِثْلُ: أَوْثَقُ النَّاسِ، أَوْ إِلَيْهِ الْمُنْتَهَى فِيْ التَّثَبُّتِ

* Tingkatan paling atasnya adalah: sesuatu yang menunjukan sampai pada puncak dalam At-Ta'dil, seperti lafazh: "manusia paling terpercaya", atau "padanyalah akhir penelitian". 

* ثُمَّ مَا تَأَكَّدَ بِصِفَةٍ، أَوْ صِفَتَيْنِ، مِثْلُ: ثِقَةٌ ثِقَةٌ أَوْ ثِقَةٌ ثَبْتٌ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

* Kemudian suatu lafazh Ta'dil yang dita'kid (dikuatkan) dengan satu sifat (yang semisal _pent) atau dua sifat (yang berbeda _pent). Seperti: "ثِقَةٌ ثِقَةٌ" (Tsiqah lagi Tsiqah) atau "ثِقَةٌ ثَبْتٌ" (Tsiqah lagi Kokoh)

* وَأَدْنَاهَا: مَا أُشْعِرَ بِالْقُرْبِ مِنْ أَسْهَلِ الْجَرْحِ، مِثْلُ: صَالِحٌ، أَوْ مُقَارِبٌ، أَوْ يُرْوَى حَدِيْثُهُ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

* Dan yang paling rendahnya adalah suatu lafazh Ta'dil yang dirasakan mengarah dari Jarh yang paling ringan. Seperti lafazh: Shalih/bagus haditsnya, Muqarib/mendekati hujah, atau (boleh) diriwayatkan haditsnya, atau yang semisalnya.

 وَبَيْنَ ذَلِكَ مَرَاتِبُ مَعْلُوْمَةٌ

Dan di antara hal tersebut ada tingkatan-tingkatan yang ma'lum (kita ketahui bersama, yakni tidak hanya terbatas pada tiga tingkatan tersebut _pent).

*****

D). Syarat-Syarat Diterimanya At-Ta'dil.
  
د_ وَيُشْتَرَطُ لِقَبُوْلِ التَّعْدِيْلِ شُرُوْطٌ أَرْبَعَةٌ

Dan syarat diterimanya At-Ta'dil adalah tatkala terpenuhi padanya syarat yang empat :

1_ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ عَدْلٍ؛ فَلَا يُقْبَلُ مِنْ فَاسِقٍ

Pertama.
Ta'dil tersebut datang dari seorang yang 'ADL; tidak diterima sebuah Ta'dil apabila datang dari seorang yang fasiq.

2_ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ مُتَيَقِّظٍ؛ فَلَا يُقْبَلُ مِنْ مُغَفَّلٍ يَغْتَرُّ بِظَاهِرِ الْحَالِ

Kedua.
Ta'dil tersebut datang dari seorang yang "Mutayaqqizh"; tidak diterima sebuah Ta'dil apabila datang dari seorang "Mughaffal" yang terkecoh dengan penampilan (zhahir keadaan).

Adapun rincian apa gerangan yang dimaksud dengan "MUTAYAQQIZH" dan "MUGHAFFAL", silahkan baca kembali PERTEMUAN KE-DUA PULUH ENAM.

3_ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ عَارِفٍ بِأَسْبَابِهِ؛ فَلَا يُقْبَلُ مِمَّنْ لَا يَعْرِفُ صِفَاتِ القَبُوْلِ وَالرَّدِّ

Ketiga.
Ta'dil tersebut datang dari seorang yang memiliki ma'rifah (baca: pengetahuan) terhadap sebab-sebab sebuah Ta'dil; tidak diterima sebuah Ta'dil yang datang dari seorang yang tidak mengetahui (sebab-sebab) Al-Qabul dan Ar-Radd.

4_ أَنْ لَا يَكُوْنَ وَاقِعاً عَلَى مَنِ اشْتَهَرَ بِمَا يُوْجِبُ رَدَّ رِوَايَتِهِ: مِنْ كَذْبٍ، أَوْ فِسْقٍ ظَاهِرٍ، أَوْ غَيْرِهِمَا

Keempat.
Ta'dil tersebut tidak tertuju kepada sosok yang masyhur/dikenal dengan sesuatu yang mengharuskan tertolak riwayatnya. Seperti dusta, fasiq yang zhahir, atau semisal kedua hal tersebut.

Baarakallahu fikum wa waffaqanallahu wa iyakum ila ma yuhibbuhu wa yardhahu.



Ditulis oleh :
Ahad, 13 - Dzul Hijjah - 1436 H / 27 - 09 - 2015 M



Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post