Tuesday, June 23, 2015

author photo




PERTEMUAN : KE - TIGA
BUKU : MUSTHALAH AL HADITS
PENGARANG : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________


بِسمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ

"AL-HADITSUL MUTAWATIR"

Pada pertemuan materi sebelumnya, kita telah mengkaji bersama secara global tentang definisi “Musthalah Al-Hadits” dan definisi “Hadits”, “Khabar”, “Atsar” dan “Hadits Qudsi” dengan sedikit penjelasannya bihamdillah. Kemudian, untuk liqa (pertemuan) kita pada kali ini, kita akan mengkaji serta mengenal sekilas tentang “Hadits Mutawatir” insya Allah.

Berkata asy-syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah :

أَقسَامُ الخَبَرِ بِاعتِبَارِ طُرُقِ نَقلِهِ إِلَينَا

Pembagian khabar ditinjau dari sisi jalan - jalan penukilannya kepada kita.

يَنقَسِمُ الخَبَرُ بِاعتِبَارِ طُرُقِ نَقلِهِ إِلَينَا إِلَى قِسمَينِ: مُتَوَاتِرٌ وَآحَادٌ

Khabar ditinjau dari sisi jalan - jalan penukilannya kepada kita terbagi menjadi dua bagian: “Mutawatir” dan “Ahad”.

الأَوَّلُ_ المُتَوَاتِرُ
أ_ تَعرِيفُهُ، ب_ أَقسَامُهُ مَعَ التَّمثِيلِ، ج_ مَا يُفِيدُهُ

Pertama : “Al-Mutawatir”.

A). Definisi “Al Mutawatir”.
B). Pembagian “Al Mutawatir” Beserta Contohnya.
C). Faidah “Al Mutawatir”.

A). (Definisi) “Al Mutawatir”.

أ_ المُتَوَاتِرُ
مَا رَوَاهُ جَمَاعَةٌ يَستَحِيلُ فِي العَادَةِ أَن يَتَوَاطَئُوا عَلَى الكَذبِ، وَأَسنَدُوهُ إِلَى شَيءٍ مَحسُوسٍ

Apa - apa yang diriwayatkan oleh “Jama’ah” (yakni sejumlah orang yang kadar jumlah tersebut_pent) menurut kebiasaan adalah mustahil mereka akan bersepakat terhadap suatu kedustaan. Dan khabar tersebut mereka sandarkan kepada sesuatu yang bersifat “Hissi”.

Tambahan Keterangan. (pent)

“Hissi” yakni sesuatu yang bisa diraba dan disentuh oleh panca indra. Yang merupakan lawan dari “Maknawi”, dimana maknawi adalah sesuatu yang tidak bisa diterka secara indra.

Dan “Hissi” yang dimaksud dalam definisi adalah sesuatu yang bisa disaksikan oleh mata dan didengar oleh telinga. Di mana seorang periwayat biasa menggunakan kalimat سَمِعنَا (kami telah mendengar) atau شَهِدنَا (kami telah menyaksikan) atau رَأَينَا (kami telah melihat) dan yang semisal itu.

Untuk lebih jelasnya bagi para pembaca yang mahir berbahasa arab, kami persilahkan untuk mentela’ah buku “Syarh Nukhbah Al-Fikr” karya Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari Al-Harawi pada Fashl "Al-Mutawatir". Adapun bagi yang masih pemula, cukup difahami dengan ala kadarnya saja. Namun apabila ingin mengupas sesuatu yang terasa masih mengganjal, kami persilahkan bertanya kepada penterjemah.

B). Pembagian “Al Mutawatir” Beserta Contohnya.

Berkata asy -syaikh rahimahullah :

ب_ وَيَنقَسِمُ المُتَوَاتِرُ إِلَى قِسمَينِ : مُتَوَاتِرٌ لَفظاً وَمَعنىً، وَمُتَوَاتِرٌ مَعْنىً فَقَطْ

Dan Mutawatir terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Mutawatir secara lafazh dan makna.
2. Mutawatir secara makna saja (tidak secara lafazh_pent).

فَالمُتَوَاتِرُ لَفظاً وَمَعنًى: مَا اتَّفَقَ الرُّوَاةُ فِيهِ عَلَى لَفظِهِ وَمَعنَاهُ

1). Adapun Mutawatir secara Lafazh dan Makna yaitu :
Setiap hadits yang para periwayatnya bersepakat padanya secara lafazh dan makna.

Contoh mutawatir secara lafazh dan makna.

مِثَالُهُ: قَولُهُ صلّى الله عليه وسلّمَ: "مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَليَتَبَوَّأ مَقعَدَهُ مِن النَّارِ". فَقَد رَوَاهُ عَنِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم أَكثَر مِن سِتِّينَ صَحَابِيًّا، مِنهُم العَشَرَةُ المُبَشَّرُونَ بِالجَنَّةِ، وَرَوَاهُ عَن هَؤُلَاءِ خَلقٌ كَثِيرٌ

Misalnya seperti yang disabdakan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَليَتَبَوَّأ مَقعَدَهُ مِن النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka ambilah tempat duduknya dari api neraka.” (Al Hadits)

Hadits ini telah diriwayatkan lebih dari enam puluh shahabat radhiallahu ‘anhum dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya adalah sepuluh shahabat yang mendapat khabar gembira masuk ke dalam syurga. Dan yang meriwayatkan dari shahabat adalah jumlah (yakni Tabi’in_pent) yang banyak.

وَالمُتَوَاتِرُ مَعنًى: مَا اتَّفَقَ فِيهِ الرُّوَاةُ عَلَى مَعنىً كُلِّيٍّ، وَانفَرَدَ كُلُّ حَدِيثٍ بِلَفظِهِ الخَاصِ

2). Dan adapun Mutawatir secara Makna saja (tidak secara lafazh_pent) yaitu :
Setiap hadits yang para periwayatnya bersepakat padanya secara kandungan makna. Akan tetapi masing - masing hadits bersendirian dengan lafazh-nya sendiri (yakni berbeda - beda lafazh_pent).

Contoh mutawatir secara makna tidak secara lafazh.

مِثَالُهُ: أَحَادِيثُ الشَّفَاعَةِ، وَالمَسحِ عَلَى الخُفُّينِ، وَلِبَعضِهِم

Contohnya adalah seperti hadits - hadits tentang “Syafa’at” dan tentang “Mengusap Al Khuf” (sepatu slop atau kaos kaki).

Sebagian mereka merangkai syair :

مِمَّا تَوَاتَرَ حَدِيثُ مَنْ كَذَبْ * وَمَنْ بَنَى لِلَّهِ بَيتاً واحْتَسَبْ

Di antara hadits yang mutawatir adalah (hadits) “barang siapa berdusta”.
Dan (hadits) “barang siapa membangun rumah karena Allah dan berharap pahala”.

وَرُؤيَةٌ شَفَاعَةٌ وَالْحَوضُ * وَمَسْحُ خُفَّيْنِ وَهَذِى بَعْضُ

Dan (hadits) “ru’yah”, “syafa’at” dan “telaga Haudh”.
Dan (hadits) “mengusap khuf”, ini hanyalah sebagiannya.

Tambahan Keterangan. (pent)

1). Bait syair pertama.
Padanya terdapat isyarat dua hadits. Kedua hadits tersebut adalah hadits mutawatir secara lafazh dan makna. Kedua hadits tersebut yaitu hadits :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka ambilah tempat duduknya dari api neraka.”

Dan hadits :

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ

“Barang siapa membangun suatu masjid, yang dengan-nya ia berharap wajah Allah, Allah akan bangun yang semisal itu untuknya di syurga.”

2). Bait syair kedua.
Padanya terdapat isyarat empat hadits. Empat hadits tersebut adalah hadits mutawatir secara makna tidak secara lafazh.

Hadits - hadits tersebut adalah hadits tentang “Ru’yah”, tentang “Syafa’ah”, tentang “Telaga Haudh” dan tentang “Mengusap Khuf” (yakni sepatu slop atau kaos kaki).

Adapun ke-empat hadits tersebut, insya Allah adalah hadits yang sudah ma’ruf bagi para pembaca sekalian. Jadi, insya Allah kami tidak perlu untuk mendatangkan lafazh - lafazh hadits tersebut.

C). Faidah “Al Mutawatir”.

جـ - وَالمُتَوَاتِرُ بِقِسْمَيهِ يُفِيْدُ

Dan hadits mutawatir dengan kedua bagian-nya (yakni baik yang secara lafazh dan makna, maupun yang hanya secara makna tidak secara lafazh_pent), keduanya memberikan faidah :

أَوَّلاً: العِلمُ: وَهُوَ: القَطعُ بِصِحَّةِ نِسبَتِهِ إِلَى مَن نُقِلَ عَنهُ

Pertama.
Memberikan faidah "Al - Ilmu", yaitu : kepastian absahnya penisbahan hadits kepada siapa penukilannya.

ثَانِياً: العَمَلُ بِمَا دَلَّ عَلَيهِ، بِتَصدِيقِهِ إِن كَانَ خَبَراً، وَتَطبِيقِهِ إِن كَانَ طَلَباً

Kedua.
Mengamalkan apa yang ditunjukan oleh hadits tersebut. Dengan membenarkan-nya jika hadits tersebut bersifat khabar (yakni berkaitan dengan perkara ghaib seperti masalah syurga dan neraka dsm _pent). Dan dengan mengamalkan-nya jika hadits tersebut adalah perintah (baik perintah mengerjakan maupun perintah meninggalkan_pent).

Wallahu a’alam bish shawab.


LATIHAN

1). Khabar ditinjau dari sisi jalan - jalan penukilannya kepada kita terbagi menjadi… Yaitu…
2). (Definisi) “Al Mutawatir” yaitu…
3). Jelaskan apa yang dimaksud dengan”Hissi” dan jelaskan juga lawannya!
4). “Hissi” yang dimaksud dalam definisi adalah sesuatu…
5). Mutawatir terbagi menjadi dua, yaitu…
6). Mutawatir secara Lafazh dan Makna yaitu…
7). Sebutkan contoh hadits mutawatir secara lafazh dan makna!
8). Mutawatir secara Makna saja (tidak secara lafazh) yaitu…
9). Di antara hadit-hadits Mutawatir secara Makna saja tidak secara lafazh adalah hadits tentang…
10). Pada bait syair pertama terdapat isyarat…
11). Pada bait syair kedua terdapat isyarat…
12). hadits mutawatir dengan kedua bagian-nya (yakni baik yang secara lafazh dan makna, maupun yang hanya secara makna tidak secara lafazh), keduanya memberikan faidah…

JAWABAN

1). Khabar ditinjau dari sisi jalan - jalan penukilannya kepada kita terbagi menjadi dua bagian : “Mutawatir” dan “Ahad”.

2). “Al Mutawatir” yaitu :

مَا رَوَاهُ جَمَاعَةٌ يَستَحِيلُ فِي العَادَةِ أَن يَتَوَاطَئُوا عَلَى الكَذبِ، وَأَسنَدُوهُ إِلَى شَيءٍ مَحسُوسٍ

Apa - apa yang diriwayatkan oleh “Jama’ah” (yakni sejumlah orang yang kadar jumlah tersebut_pent) menurut kebiasaan adalah mustahil mereka akan bersepakat terhadap suatu kedustaan. Dan khabar tersebut mereka sandarkan kepada sesuatu yang bersifat “Hissi”.

3). “Hissi” yakni sesuatu yang bisa diraba dan disentuh oleh panca indra. Yang merupakan lawan dari “Maknawi”, dimana maknawi adalah sesuatu yang tidak bisa diterka secara indra.

4). “Hissi” yang dimaksud dalam definisi adalah sesuatu yang bisa disaksikan oleh mata dan didengar oleh telinga, di mana seorang periwayat biasa menggunakan kalimat سَمِعنَا (kami telah mendengar) atau شَهِدنَا (kami telah menyaksikan) atau رَأَينَا (kami telah melihat) dan yang semisal itu.

5). Mutawatir terbagi menjadi dua, yaitu :

مُتَوَاتِرٌ لَفظاً وَمَعنىً، وَمُتَوَاتِرٌ معنىً فَقَطْ

1. Mutawatir secara lafazh dan makna.
2. Mutawatir secara makna saja (tidak secara lafazh_pent).

6). Mutawatir secara Lafazh dan Makna yaitu :
Setiap hadits yang para periwayatnya bersepakat padanya secara lafazh dan makna.

7). Misalnya seperti yang disabdakan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَليَتَبَوَّأ مَقعَدَهُ مِن النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka ambilah tempat duduknya dari api neraka.” (Al Hadits)

8). Mutawatir secara Makna saja (tidak secara lafazh_pent) yaitu :
Setiap hadits yang para periwayatnya bersepakat padanya secara kandungan makna. Akan tetapi masing - masing hadits bersendirian dengan lafazh-nya sendiri (yakni berbeda - beda lafazh_pent).

9). “Mengusap Al Khuf” (sepatu slop atau kaos kaki).

10). Bait syair pertama.
Padanya terdapat isyarat dua hadits. Kedua hadits tersebut adalah hadits mutawatir secara lafazh dan makna. Kedua hadits tersebut yaitu hadits :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka ambilah tempat duduknya dari api neraka.”

Dan hadits :

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ

“Barang siapa membangun suatu masjid, yang dengan-nya ia berharap wajah Allah, Allah akan bangun yang semisal itu untuknya di syurga.”

11). Bait syair kedua.
Padanya terdapat isyarat empat hadits. Dan  empat hadits tersebut adalah hadits mutawatir secara makna tidak secara lafazh.

Hadits - hadits tersebut adalah hadits tentang “Ru’yah”, tentang “Syafa’ah”, tentang “Telaga Haudh” dan tentang “Mengusap Khuf” (yakni sepatu slop atau kaos kaki).

12). hadits mutawatir dengan kedua bagian-nya (yakni baik yang secara lafazh dan makna, maupun yang hanya secara makna tidak secara lafazh), keduanya memberikan faidah :

أَوَّلاً: العِلمُ: وَهُوَ: القَطعُ بِصِحَّةِ نِسبَتِهِ إِلَى مَن نُقِلَ عَنهُ

Pertama.
Memberika faidah Al-Ilmu, yaitu : kepastian absahnya penisbahan hadits kepada siapa penukilannya.

ثَانِياً: العَمَلُ بِمَا دَلَّ عَلَيهِ، بِتَصدِيقِهِ إِن كَانَ خَبَراً، وَتَطبِيقِهِ إِن كَانَ طَلَباً

Kedua.
Mengamalkan apa yang ditunjukan oleh hadits tersebut. Dengan membenarkan-nya jika hadits tersebut bersifat khabar (yakni berkaitan dengan perkara ghaib seperti masalah syurga dan neraka dsm_pent). Dan dengan mengamalkan-nya jika hadits tersebut adalah perintah (baik perintah mengerjakan maupun perintah meninggalkan_pent).

Baarakallahu fikum.
  

Ditulis oleh :
Ahad - 14 - Juni - 2015 M

Terdapat 0 comments


Silahkan Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post