TSABITMEDIA.COM
News Update
Loading...

Muamalah

[Muamalah][recentbylabel]

Featured

[Featured][recentbylabel]

Asal SEO

Sunday, September 27, 2020

HURUF-HURUF KHAFADH / HURUF JAR

HURUF-HURUF KHAFADH / HURUF JAR

 

HURUF-HURUF KHAFADH / HURUF JAR

 

وهي: من، وإلى، وعن، وعلى، وفي, ورب، والباء، والكاف، واللام، وحروف القسم وهي: الواو، والباء، والتاء
WA HIYA: MIN, WA ILAA, WA ‘AN, WA ‘ALA, WA FIY, WA RUUBA, WAL-BAA’U, WAL-KAAFU, WAL-LAAMU, WA HURUUFUL-QOSAMI WAHIYA: AL-WAAWU, WAL-BAA’U, WAT-TAA’U.

Huruf Khofadh (tanda isim) ada sembilan yaitu : MIN (dari), ILAA (ke), ‘AN (dari), ‘ALAA (diatas), FIY (didalam), RUBBA (jarang/sering), BA’ (dengan), KAF (seperti), LAM (bagi), HURUF QOSAM (huruf sumpah) yaitu: WAWU (demi), BA’ (demi) dan TA’ (demi).

KETERANGAN :

Huruf-huruf khofadh yg beramal mengkhofadhkan kalimat isim, sekaligus sebagai tanda kalimat isim itu sendiri semuanya berjumlah sembilan huruf. dalam kitab lain sering disebutkan dalam bab makhfudhatul-asmaa (isim-isim yg dikhofadhkan).

Huruf-huruf khofadh/Jar yaitu :

MIN (من)

Dalam penggunaan huruf Jar MIN ini, sering mempunyai faidah atau fungsi pemaknaan yg berbeda-beda tergantung konteks kalimat, diantaranya adalah :
1. Ibtida’ul-Ghayah / permulaan batas, baik secara zaman atau tempat, contoh
سرت من الغد
SIRTU MINAL-GHODI = aku pergi mulai besok
خرجت من البيت
KHOROJTU MINAL-BAITI = aku keluar dari rumah.

2. Tab’iidh / pembagian dari, contoh :
أخذت من الدراهم
AKHODZTU MINAD-DAROOHIMI = aku mengambil sebagian dari Dirham

3. Tabdiil / pergantian dari, contoh :
أرضيتم بالحياة الدنيا من الآخرة
ARODHIITUM BIL-HAYAATID-DUNYAA MINAL-AAKHIROTI = Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?
4. Bayanul-Jinsi / penerangan jenis, contoh :
فاجتنبوا الرجس من الأوثان
FAJTANIBU AR-RIJSA MINAL-AUTSAANI = maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu

5. Ta’liil / pengajuan sebab atau alasan
مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا
MIN-MAA KHOTHII’AATIHIM UGHRIQUU FADKHULUU NAARAN = Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka,
6. Sebagai Shilah apabila masuk pada isim nakirah dan di sebelumnya ada Nafi, Nahi atau Istifham, contoh :
ما جاء من أحد
MAA JAA’A MIN AHADIN = tidak seorangpun datang
لا تضرب من أحد
LAA TADHRIB MIN AHADIN = jangan pukul siapapun
هل رأيت من أحد
HAL RO’AITU MIN AHADIN = apakah kamu melihat seseorang?

7. Berfaidah makna BA’, contoh :
ينظرون من طرف خفي
YANZHURUUNA MIN THORFIN KHOFIYYIN = mereka melihat dengan pandangan yang lesu

8. Berfaidah makna ‘AN, contoh :
فويل للقاسية قلوبهم من ذكر الله
FAWAILUN-LILQOOSIYATI QULUUBUHUM MIN DZIKRILLAAHI = Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya daripada mengingat Allah

9. Berfaidah makna FIY, contoh :
أروني ماذا خلقوا من الأرض
ARUUNIY MAADZAA KHOLAQUU MINAL-ARDHI = Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah di bumi ini yang telah mereka ciptakan

10. Berfaidah makna ‘INDA, contoh :
لن تغني عنهم أموالهم ولا أولادهم من الله شيئا
LAN TUGHNIYA ‘ANHUM AMWAALUHUM WA LAA AWLAADUHUM MINALLAAHI SYAI’AN = Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka

11. Berfaidah makna ‘ALAA, contoh :
ونصرناه من القوم
WA NASHORNAAHU MINAL-QOWMI = Dan Kami telah menolongnya atas kaum.

ILAA (إلى)
bersambung……….

Saturday, September 26, 2020

Problematika Penerjemahan Bahasa Arab

Problematika Penerjemahan Bahasa Arab

 


Pendahuluan
     

    Bahasa sebagai sebuah sistem alat komunikasi untuk menyampaikan keinginan, telah memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Melalui bahasa pula segala informasi atau pesan dapat dipahami dan disampaikan. Oleh karena itu, bagi orang yang ingin mendapatkan informasi melalui suatu bahasa yang tidak dia pahami maka orang tersebut membutuhkan terjemahan dari bahasa tersebut.
    Kata penerjemahan secara etimologis merupakan kata yang diserap dari kata bahasa Arab yang berarti memindahkan, menafsirkan, atau menjelaskan[2]. Sedangkan secara terminologis, beberapa pakar menyatakan sebagai pengalihan arti dan pesan dari suatu bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran[3].
    Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam proses penerjemahan makna adalah salah satu unsur yang harus dipindahkan. Seorang penerjemah harus mampu memindahkan makna (isi) dengan baik, agar mudah diterima dan dipahami oleh pembacanya. Pemindahan makna dari bahasa sumber, dan mencarikan padanan yang tepat dalam bahasa sasaran bukan hal yang mudah. Karena itulah Ahmad Mukhtar Umar mengatakan bahwa permasalahan mendasar dalam proses penerjemahan adalah mencari padanan makna yang tepat untuk suatu kata dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Hal ini mengharuskan adanya kesesuaian kedua bahasa pada tataran tata bahasa, sosial, budaya,…. Dan ini sangat tidak mungkin[4].


Macam-macam Makna
Jika makna mendapat prioritas utama dalam proses penerjemahan, maka dalam hal ini perlu kiranya terlebih dahulu dipahami beberapa hal yang terkait dengan makna bahasa yang akan diterjemahkan, yaitu:
1. Makna Leksikal
Makna leksikal (makna asâsiyyah atau mu‘jamiyyah, atau juga makna denotatif) dapat diartikan sebagai makna kata secara lepas diluar konteks kalimatnya. Makna leksikal ini terutama yang berupa kata dalam kamus biasanya menjadi makna pertama dari kata atau entri yang terdaftar dalam kamus tersebut[5].
Berdasarkan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa makna leksikal, adalah arti dasar yaitu makna yang menjadi substansi kebahasaan yang menjadi akar dari segala derivasi yang digunakan dalam struktur kalimat. Seperti kata “ قرأ ” berarti aktifitas menghimpun informasi, membaca, meneliti, mencermati, menelaah, dan sebagainya[6].
Dalam bahasa Arab, misalnya kata “رأس (kepala)” makna leksikalnya adalah “bagian tubuh dari leher keatas untuk manusia dan dari leher kedepan untuk binatang”, sedang makna “awal” atau “permulaan” bukanlah makna leksikal, sebab untuk menyatakan makna “awal” atau “permulaan”, kata “رأس” itu harus bergabung dengan unsur lain, seperti dalam frase “رأس الشهر (awal bulan)” atau “رأس العام (awal tahun)”.
2. Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai hasil suatu proses gramatikal. Dan dalam bahasa Arab dikenal dua bentuk gramatikal yaitu Sintaksis (Nahw) dan Morfologi (Sharf).
Dalam sintaksis Arab dikenal sebuah istilah yang disebut dengan i‘râb. Kedudukan i‘râb mempunyai peranan penting dalam menentukan kejelasan suatu makna. Seperti kalimat أكرم محمد عليا mempunyai makna khusus, ketika kedudukan i‘râbnya dirubah -dengan merubah fa‘il menjadi maf‘ul dan maf‘ul menjadi fa‘il- maka makna yang dikandung oleh kalimat tersebut juga bisa berubah.
Kaidah-kaidah sintaksis telah memberikan peranan yang penting untuk menjelaskan makna dalam bahasa Arab, oleh karena itulah al-Suyûthî mengatakan bahwa penggunaan i‘râb dalam bahasa Arab adalah untuk menghilangkan kekaburan makna[7].
Dalam morfologi Arab, cara pembentukan struktur dan bentuk derivasi kebahasaan juga mempunyai peranan penting dalam pembentukan suatu makna. Semua bentuk kata kerja (mâdhî, mudhâri‘, dan amar) adalah untuk menunjukkan suatu kejadian dan waktunya. Dan segala bentuk penambahan huruf (afiksasi; bentuk prefiks/al-sâbiqah, infiks/al-dâkhilah, sufiks/al-lâhiqah, dan superfiks/al-‘aliyah), reduplikasi (tadh‘îf), emphasis (taukîd) dan lain-lain yang terkait dengan kata kerja mempunyai pengaruh penting dalam memberikan makna[8].
3. Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna yang diperoleh dari lingkungan kebahasaan yang melingkupi sebuah kata, ungkapan atau kalimat. Makna kontekstual ini juga berlandaskan pada kondisi sosial, situasi atau tempat serta keadaan dan kesempatan dimana kata atau kalimat itu diucapkan dengan segala unsurnya, baik dari pembicara ataupun pendengar[9]. Karena itulah banyak pakar mengatakan bahwa sebuah kata baru dapat ditentukan maknanya, apabila kata itu telah berada dalam konteks kalimatnya.
Makna sebuah kalimat sering tidak tergantung pada sistem gramatikal leksikal saja, tetapi bergantung pada kaidah wacana. Makna sebuah kalimat yang baik pilihan katanya dan susunannya sering tidak dapat dipahami tanpa memperhatikan hubungannya dengan kalimat lain dalam sebuah wacana. Contoh pemahaman ekspresi “terima kasih” bermakna “tidak mau” dalam situasi jamuan makan[10].
Misalnya lagi kata امرأة atau kata perempuan, selain bermakna denotative kata itu mempunyai makna-makna lain sesuai latar budaya penuturnya.. misalnya “dasar perempuan” bisa bermakna cengeng, cerewet, dan lain-lain. Begitu juga makna kata ‘يهودي’, kata ini selain bermakna denotative juga bermakna “tamak, rakus, bakhil, suka makar dan menipu”[11]. Karena itulah konteks kalimat terbagi menjadi empat, yaitu:
a. Konteks kebahasaan (linguistic context/al-siyâq al-lughawî)
Yang dimaksud konteks kebahasaan adalah kumpulan suara, kata-kata, dan kalimat yang dapat mengantarkan pada suatu makna tertentu, atau seluruh keadaan, kondisi, dan unsur-unsur kebahasaan yang melingkupi sebuah kata.
Hal ini bisa dicontohkan dengan kata “حسن” dalam bahasa Arab yang berada dalam berbagai macam konteks kebahasaan dapat mempunyai berbagai macam makna. Apabila kata “حسن” berada dalam konteks kebahasaan yang beriringan dengan kata “رجل (seorang laki-laki)”, maka makna yang dimaksud adalah dari sisi keagungan akhlaknya. Jika kata “حسن” berada dalam konteks sebagai sifat dari “طبيب (seorang dokter)”, maka makna yang dimaksud adalah prestasi kerjanya (bukan keagungan akhlaknya). Atau jika kata “حسن” ini menjadi sifat dari “هواء (udara)”, maka makna yang dimaksud adalah kebersihan dan kesegarannya[12].
b. Konteks emosional (emotional context/al-siyâq al-‘âthifî)
Yang dimaksud konteks emosional adalah kumpulan perasaan dan interaksi yang kandung oleh makna kata-kata, dan hal ini terkait dengan sikap pembicara dan situasi pembicaraan[13]. Sementara makna emosional yang dikandung oleh kata-kata itu berbeda-beda kadar kekuatannya, ada yang lemah, ada yang sedang, dan ada yang kuat. Seperti emosi yang dibawa oleh kata يكره berbeda dengan emosi yang dibawa oleh kata يبغض walaupun sama-sama bermakna membenci, akan tetapi perasaan benci yang dikandung oleh kata يكره lebih kuat dari pada perasaan benci yang dikandung oleh kata يبغض . Demikian juga kataاغتال dan قتل yang sama-sama bermakna membunuh, akan tetapi kata اغتال lebih merupakan sebuah ungkapan kekerasan dan keganasan dalam membunuh, dan biasanya lebih bersifat politis[14].
c. Konteks situasional (situational context/siyâq al-mauqif)
Yang dimaksud dengan konteks situasional adalah situasi eksternal yang mungkin bisa dikandung oleh makna sebuah kata, dan hal itu menuntut untuk mempunyai makna tertentu. Seperti penggunaan kata يرحم yang diungkapkan ketika ada orang yang bersin, maka ungkapan yang digunakan adalah يرحمك الله , yaitu dimulai dengan fi‘il (kata kerja). Sementara ketika berada dalam situasi mengucapkan bela sungkawa, maka ungkapan yang diucapkan adalah الله يرحمه , yaitu dimulai dengan isim (kata benda). Ungkapan yang pertama adalah bermakna memohon rahmat di dunia, sementara ungkapan yang kedua adalah bermakna memohon rahmat di akhirat. Dan yang menunjukkan munculnya kedua macam makna di atas adalah konteks situasi[15].
d. Konteks kultural (cultural contex/al-siyâq al-tsaqâfî)
Yang dimaksud konteks kultural adalah nilai-nilai kultural dan sosial yang kandung oleh sebuah kata atau kalimat, hal ini terkait dengan kebudayaan dan masyarakat tertentu. Karena itulah, perbedaan lingkungan budaya pada suatu masyarakat akan mengakibatkan perbedaan makna kalimat pada lingkungan budaya masyarakat yang lain[16]. Seperti kata الجذر yang dipakai oleh ahli bahasa bermakna akar kata/pokok kata, sementara menurut para petani bermakna akar tumbuhan, sedangkan menurut ahli matematika adalah bermakna akar bilangan/tanda akar. Makna yang seperti ini juga bisa dijumpai pada pribahasa, seperti: قبل الرماء تملأ الكنائن yang dalam bahasa Indonesia dapat bermakna “sedia payung sebelum hujan” bukan “sebelum pergi memanah tempat panah diisi penuh”. Perbedaan makna seperti ini disebabkan oleh perbedaan budaya Arab dengan budaya Indonesia.
Berdasarkan pada pembahasan tentang makna di atas dapat dikatakan bahwa tugas penerjemah adalah mencari padanan makna yang tepat dan sesuai dengan tuntutan, bukan sekedar mengambil makna begitu saja dari kamus. Akan tetapi ia harus merupakan hasil pilihan yang tepat dan sepadan dengan struktur gramatikal, situasi pembicaraan dan konteks budayanya[17].


Problematika Penerjemahan
Seorang penerjemah pasti akan menghadapi problematika dalam mencari padanan makna dari suatu kata. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari karena tidak mungkin terdapat kesesuaian antara dua bahasa dalam aspek kebahasaan dan non-kebahasaan.[18] Dengan artian bahwa problematika makna yang dihadapi seorang penerjemah muncul akibat perbedaan sistem, baik sistem morfologis, sintaksis dan semantik yang terdapat antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Dan untuk memperjelas problematika makna yang dihadapi oleh seorang penerjemah tentang perbedaan -baik dari aspek kebahasaan ataupun non kebahasaan- antara bahasa sumber dan bahasa sasaran, maka perlu kiranya dijelaskan beberapa hal, yaitu:
1. Perbedaan Cakupan Makna
Perbedaan ini disebabkan karena satu kata dalam suatu bahasa memiliki lebih dari satu makna, sementara padanannya dalam bahasa yang lain hanya memiliki satu makna. Dalam tingkatan kata semacam ini, kata-kata tersebut mencakup beberapa padanan yang dianggap potensial.[19] Contoh:
- Kata ( طويل ) dalam bahasa Arab, dapat diartikan dalam bahasa Indonesia dengan kata panjang, seperti: طويل الأجل – panjang masanya. Juga dapat diartikan dengan tinggi, seperti: الرجل طويل – Orang itu tinggi.
- Kata (مكتبة ) dapat diartikan Perpustakaan, Toko Buku atau Koleksi buku.
2. Perbedaan Penggunaan
Perbedaan ini karena dua kata yang dianggap sepadan dalam dua bahasa ternyata berbaeda dalam berbagai macam penggunaannya. Seperti:
- kata poor padanannya dalam bahasa Arab (فقير )
Kata poor bisa digunakan untuk: poor man, poor boy, poor box, poor opinion, atau poor health, akan tetapi kata (فقير ) sebagai padanannya dalam bahasa Arab hanya dapat digunakan dalam konteks pertama رجل فقير, sementara pada konteks lain kita tidak mungkin menggunakan kata (فقير ).
- Kata cut padananya dalam bahawa Arab (يقطع )
Kata cut juga bisa digunakan untuk finger, speech, cheese, hair, atau flowers. Sementara padanannya (يقطع ) tidak dapat digunakan pada semua konteks tadi. Akan tetapi, جرح إصبعه، قطع حديثه، قطع الجبن، قص الشعر، قطف الأزهار .
3. Perbedaan dalam Penggunaan Majas
Setiap bahasa tidak sama dalam penggunaan majas, karena itulah jika ada majas dalam suatu kaliamat maka tidak dapat diterjemahkan secara harfiah, contoh:
- Dalam bahasa Inggris, evening of life adalah majas yang berarti usia tua (masa senja), jika kita terjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa Arab dengan (مساء العمر) tentu salah dalam pandangan orang Arab. Karena mereka mengungkapkannya dengan (خريف العمر).
- Kata soup sepadan dengan (حساء) dalam bahasa Arab. Namun ungkapan in the soup adalah majas yang berarti berada dalam kesusahan (masalah), jika kita terjemahkan secara harfiah ke bahasa Arab dengan (في حساء) tentunya sangat lucu, karena akan jauh dari makna yang dimaksud yaitu (في مأزق، في مشكلة).
Ungkapan-ungkapan majas dalam suatu bahasa biasanya sangat terkait dengan kultur sosial dan budayanya, oleh karena itu terkadang sangat sulit untuk dipahami dan diterjemahkan ke bahasa yang lain.
4. Perbedaan Medan Makna (semantic field)
Medan makna (semantic field) adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya, nama-nama warna, dingin, panas, perabot rumah tangga, atau perkerabatan[20]. Namun banyaknya unsur leksikal dalam satu medan makna antara bahasa yang satu dengan bahasa lain tidak sama besarnya, karena hal itu sangat berkaitan dengan sistem budaya masyarakat pemilik bahasa tersebut. Contoh:
- Perbedaan dalam medan makna warna, dalam bahasa Inggris terdapat sepuluh warna dasar, yaitu white, red, green, yellow, blue, brown, purple, pink, orange, dan grey[21]. Sedangkan bahasa lain hanya mengenal warna cerah dan warna gelap, atau hanya mengenal empat warna, yaitu merah, kuning, hijau, dan biru[22].
Perbedaan dalam hal ini menimbulkan permasalahan bagi seorang penerjemah dalam mencari padanan. Hal ini bisa karena padanan suatu kata tidak dapat memberikan makna yang tepat dari kata dalam bahasa sumber, atau tidak terdapat padanan kata pada bahasa sasaran.
5. Perbedaan kultur sosial dan budaya
. Bahasa berkaitan erat dengan adat, budaya, dan lingkungan sosialnya. Keterkaitan ini menimbulkan beragam makna yang sulit ditemukan padanannya dalam bahasa sasaran, karena perbedaan kultur sosial dan budaya antara dua bahasa. Umpamanya, karena masyarakat Indonesia berbudaya makan nasi, maka dalam bahasa Indonesia ada kata yang menyatakan padi, gabah, beras, dan nasi. Sementara di Inggris atau Arab tidak terdapat keempat konsep tadi, karena orang Inggris atau Arab tidak berbudaya makan nasi, mereka hanya mempunyai kata rice atau الرز . Begitu juga sebaliknya, karena masyarakat Arab berbudaya makan kurma, dalam bahasa Arab ada kata البلح, الرطب, dan التمر. Sementara di Indonesia tidak terdapat keempat konsep tadi, karena orang Indonesia tidak berbudaya makan kurma.
Pengaruh kultur sosial dan budaya terhadap bahasa dapat kita lihat juga melalui medan makna yang terdapat dalam suatu bahasa, contoh kata-kata yang berarti tempat duduk (bahasa Inggris), kata-kata yang berarti unta (bahasa Arab)[23]. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam bahasa inggris terdapat: chair, bench, stool, sofa, love seat, atau pew. Setiap kata ini memiliki makna berbeda dengan yang lain. Hal ini mustahil dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Begitu juga dalam bahasa Arab ada kata جمل, إبل, جذعة, حقة, بنت لبون dan بنت مخاض. Dan hal ini juga mustahil dicari padanannya dalam bahasa Inggris atau Indonesia.
Makna-makna seperti ini sangat sulit dicarikan padanannya, karena setiap masing-masing bahasa memiliki kultur sosial dan budaya yang berbeda. Jika terdapat kesamaan atau kedekatan kultur sosial dan budaya antara dua bahasa, makna-makna tadi mungkin dapat diterjemahkan. Namun apabila kedua bahasa berlainan kultur sosial dan budaya, makna-makna tersebut pasti akan menimbulkan permasalahan bagi seorang penerjemah.


Penutup
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa problematika-problematika yang dihadapi seorang penerjemah terjadi karena perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa sasaran baik dalam aspek kebahasaan maupun non-kebahasaan.
Untuk menyikapi permasalahan ini, seorang penerjemah diharapkan bisa memahami perbedaan karakteristik bahasa sumber dan bahasa sasaran. Disamping itu seorang penerjemah dituntut memiliki kemampuan dasar tentang ragam dan cara penerjemahan, juga memahami berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Hal itu diperlukan agar hasil terjemahannya tepat, tidak menyimpang dari tujuan teks asli, dan bermanfaat bagi pembaca.

Daftar Pustaka
Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta: PT Rineka Cipta, cet. 2, 2003.
--------, Psikolinguistik Kajian Teoritik, Jakarta: Rineka Cipta,cet. I, 2003.
al-Dâyah, Fâyiz, ‘Ilm al-Dalâlah al-‘Arabi, Beirût: Dâr al-Fikr al-Mu’âshir, 1996.
al-Suyûthî, Jalâl al-Dîn, Kitâb al-Asybâh wa al-Nazhâir fî al-Nahw, Beirût: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, 1996.
Djajasudarma, T. Fatimah, Semantik 1 Pengantar ke Arah Ilmu Makna, Bandung: Eresco, 1993.
--------, Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur, Bandung: Refika Aditama, 2006.
Haidar, Farîd ‘Audh, ‘Ilm al-Dalâlah Dirâsah Nazhariyah wa Tathbîqiyyah, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1999.
Hanafi, Nurachman, Teori dan Seni Menerjemahkan, Flores-NTT: Penerbit Nusa Indah, 1986.
Hilâl, ‘Abd al-Ghaffâr Hâmid, ‘Ilm al-Dalâlah al-Lughawiyah, Kairo: Jâmi‘ah al-Azhar, tt.
Larson, Mildred L. Meaning-based Translation: A Guide to Cross-language Equivalence, University Press of America Inc., 1984.
Mansyur, Moh. dan Kustiawan, Dalîl al-Kâtib Wa al-Mutarjim, Jakarta: PT. Moyo Segoro Agung, 2002.
Matsna, Moh. HS, Orientasi Semantik al-Zamakhsyari, Jakarta: Anglo Media, 2006.
Mujâhid, ‘Abd al-Karîm, al-Dilâlah al-Lughawiyah ‘Inda al-‘Arab, Omman: Dâr Al-Dhiya', tt.
Newmark, Peter, A textbook of Translation, New York: Prentice Hall Inc., 1988.
--------, Aproaches to Translation, Oxford: Pergamon Press, 1981.
‘Umar, Ahmad Mukhtâr, 'Ilm al-Dilalah, Kuwait: Maktabah Dâr al-'Urubah,1982.
[1]Makalah dipresentasikan pada TOT Comunitas Penulis yang diadakan oleh E-Learning Community PP Nurul Jadid tanggal 29-31 Desember 2008
[2]Moh. Mansyur dan Kustiawan, Dalîl al-Kâtib Wa al-Mutarjim (Jakarta: PT. Moyo Segoro Agung, 2002), h. 20.
[3]Peter Newmark, Aproaches to Translation (Oxford: Pergamon Press, 1981), h. 7. dan Peter Newmark, A textbook of Translation (New York: Prentice Hall Inc., 1988), h. 5.
[4]Ahmad Mukhtâr ‘Umar, 'Ilm al-Dilalah (Kuwait: Maktabah Dâr al-'Urubah,1982),h. 251.
[5]Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik, (Jakarta: Rineka Cipta,cet. I, 2003), h 269.
[6]Fâyiz al-Dâyah, ‘Ilm al-Dalâlah al-‘Arabi (Beirût: Dâr al-Fikr al-Mu’âshir, 1996), h. 20-21. dan Moh. Matsna HS, Orientasi Semantik al-Zamakhsyari, (Jakarta: Anglo Media, 2006), h. 27.
[7]Jalâl al-Dîn al-Suyûthî, Kitâb al-Asybâh wa al-Nazhâir fî al-Nahw (Beirût: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, 1996), h. 335.
[8]‘Abd al-Ghaffâr Hâmid Hilâl, ‘Ilm al-Dalâlah al-Lughawiyah (Kairo: Jâmi‘ah al-Azhar, tt), h. 32-33.
[9]Farîd ‘Audh Haidar, ‘Ilm al-Dalâlah Dirâsah Nazhariyah wa Tathbîqiyyah, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1999), h. 56.
[10]T. Fatimah Djajasudarma,Semantik 1 Pengantar ke Arah Ilmu Makna (Bandung: Eresco, 1993 ), hal. 6
[11]Ahmad Mukhtâr ‘Umar, 'Ilm al-Dilalah, h. 37.
[12]Ahmad Mukhtâr ‘Umar, ‘Ilm al-Dalâlah, h. 69-70.
[13]T. Fatimah Djajasudarma, Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur (Bandung: Refika Aditama, 2006), h. 36.
[14]Moh Matsna HS, Orientasi Semantik al-Zamakhsyari, h. 22.
[15]Ahmad Mukhtâr ‘Umar, ‘Ilm al-Dalâlah, h. 71.
[16]Farîd ‘Audh Haidar, ‘Ilm al-Dalâlah Dirâsah Nazhariyah wa Tathbîqiyyah, h. 162.
[17]Lihat Mildred L. Larson, Meaning-based Translation: A Guide to Cross-language Equivalence, (University Press of America Inc., 1984), h. 3.
[18]Ahmad Mukhtâr ‘Umar, ‘Ilm al-Dalâlah, h. 251.
[19]Nurachman Hanafi, Teori dan Seni Menerjemahkan (Flores-NTT: Penerbit Nusa Indah, 1986), h. 46.
[20]Abdul Chaer, Linguistik Umum (Jakarta: PT Rineka Cipta, cet. 2, 2003), h. 315.
[21]Abdul Chaer, Linguistik Umum, h. 316.
[22]Ahmad Mukhtâr ‘Umar, ‘Ilm al-Dalâlah, h. 262.
[23]‘Abd al-Karîm Mujâhid, al-Dilâlah al-Lughawiyah ‘Inda al-‘Arab (Omman: Dâr Al-Dhiya', tt ) h. 106.

Thursday, August 6, 2020

Materi 05 – Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah (4) – Perkataan Salaf “Dahulu kami menuntut ilmu karena dunia, tapi ilmu itu memalingkan kami kepada akhirat”

Materi 05 – Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah (4) – Perkataan Salaf “Dahulu kami menuntut ilmu karena dunia, tapi ilmu itu memalingkan kami kepada akhirat”


Tarbiyah Sunnah Learning
 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkata Abdullah bin Mubarok rahimahullahuta’ala, ilmu itu pertama awalnya adalah niat. Niatnya harus benar, harus lurus, niat itu sebuah pondasi, jikalau pondasinya salah maka bangunan yang dibangun diatasnya juga akan runtuh. Kemudian kedua istima’ bukan sami’a. Istima’ dengan sami’a berbeda, istima’ itu mendengar dengan niat benar ingin menyimak, kalau sami’a hanya mendengar saja. Kemudian ketiga memahami, keempat menghafal, lalu kelimanya mengamalkan untuk diri sendiri, lalu yang terakhir an-nasr yakni menyebarkan, mengajarkan, mendakwahkan. 6 point yang berkaitan dengan ilmu.

Ada hal yang harus diperhatikan yaitu ada sekelompok ulama-ulama salaf terdahulu berkata, ungkapan petama kami dahulu mencari ilmu karena dunia (ini dialami juga oleh imam ahli hadits yakni imam al-Baihaqi) maknanya apa ? pertama mungkin ingin dipuji karena agung, terhormat, mulia dan dipujinya para ulama zaman itu, lalu setelah belajar dengan niat yang salah akhirnya ilmu itu menyeret kami menarik kami kepada akhirat. Barulah ditengah jalan terluruskan niatnya, maka barokah ilmunya yang masuk kedalam hati dia menuntun kepada niat yang benar. Ungkapan kedua kami pun mempelajari ilmu ini dan tidak memiliki niat apa-apa yang penting hobi untuk mempelajari sesuatu al-ilmu lil ‘ilmi (ilmu sekedar pengetahuan) bukan untuk diamalkan, bukan untuk diyakini lalu niat itu datang setelah mempelajarinya. Ini adalah pengalaman para ulama terdahulu. Kemudian ungkapan ketiga siapa orang yang mencari ilmu bukan karena Allah maka ilmu itu enggan untuk mendatanginya. Tidak sampai kepada esensi ilmu itu sehingga ilmu itu yang mengarahkan dia untuk ikhlas karena Allah.

Jadi betapa banyak orang yang diawal pencarian ilmu membawa niat yang keliru tetapi ketika ilmu itu didapat ilmu itu kemudian memperbaiki niatnya, meluruskan niatnya, dan menjadi orang yang ikhlas karena Allah سبحانه و تعالى. Wejangan-wejangan ini dinukil dari kitab Jami’ bayani al-ilmi wa fadhlihi susunan imam Ibnu ‘Abdil barr.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Materi 04 – Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah (3) – Pentingnya ketakwaan dalam menuntut ilmu

Materi 04 – Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah (3) – Pentingnya ketakwaan dalam menuntut ilmu


Tarbiyah Sunnah Learning
 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkata Sahnun rahimahullah “Ibnu Qasim ketika mengajar selalu menyelipkan perkataan yang luar biasa yaitu “ittaqullah” bertaqwalah kalian kepada Allah. Karena sedikitnya ilmu ini bila disertai dengan ketaqwaan maka akan menjadi banyak. Sebaliknya banyaknya ilmu ini bila tidak disertai dengan ketaqwaan akan menjadi sedikit.” (dikutip oleh imam ad-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala)

Berkata Yusuf bin Al-Husain rahimahullah “Aku mendengar Dzunnun Al mishri berkata, ‘Dahulu para ulama suka saling memberi wejangan dengan tiga perkara ini dan saling surat menyurati memberi tiga wejangan dengan isi berikut ini. Wejangan pertama siapa orang yang memperbagus sarirohnya maka Allah akan memperbagus alaniyahnya. Apa itu sarariroh dan alaniyah ? Sariroh ialah perkara-perkara yang sifatnya sirih yakni batin kita, hati kita, jiwa kita ini yang tersembunyi dari pandangan manusia hanya pemiliknya saja dan Allah yang mengetahui serta ada malaikat pencatat dan juga tau isi hati manusia. Kata para ulama wejangan pertama ini yakni siapa yang memperbagus aspek batinnya, hati ini keikhlasannya, khaufnya, mahabbahnya, rodjanya, tawakalnya kepada Allah, muroqobahnya diperbagus maka Allah akan memperbagus alaniyahnya (sebaliknya dari yang batin yakni lahiriahnya). Alaniyah ini ada 2 yang pertama memperbagus amalan-amalannya yang dzahir yang terlihat oleh manusia, ucapan dan amalan yang akan Allah baguskan. Kedua, kondisi fisikis yaitu penilaian dan pandangan orang kepada dia itu menganggap secara fisik bagus karena keindahan akhlaq, karena kebersihan hati orang itu, kebagusan hati dan jiwa orang itu dan orang itu menjadi sumber simpati bagi semua orang dan orang menjadi senang terhadapnya. Wejangan yang kedua siapa orang yang memperbaiki hubungan diantara dia dengan Allah, sholatnya dia perbaiki, niatnya keikhlasannya dia perbaiki, dan semua yang berkaitan antara dia dengan Allah secara langsung, do’anya lebih intensif atau sering berdo’a. Allah makin sering diminta maka semakin senang, Allah berfirman :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

(Berdo’alah kepadaku niscaya akan kuperkankan bagimu /al-mukmin :60)

Dan itulah salah satu diantara makna ar-rahman dan ar-rahim. Sebagian ulama seperti imam ibnu katsir rahimahullah ketika menafsirkan makna ar-rahman dan ar-rahim, makna ar-rahman adalah apabila Dia diminta maka Dia akan mencintai hambanya dan ar-rahim adalah apabila Dia tidak diminta maka Dia marah. Allah itu kalau tidak diminta akan marah kepada orang yang tidak meminta kepada-Nya. Maka sering-seringlah kita meminta kepada Allah baik secara langsung atau dengan berdoa saja itu sudah bernilai ibadah, menggugurkan dosa, menambah pahala, dan meninggikan derajat. Orang yang memperbaiki hubungan dengan Allah maka Allah akan memperbaiki hubungan dia dengan sesama manusia. Coba kalau umpamanya sesama kita ada yang memiliki hubungan yang jelek dengan seseorang siapapun orang itu baik sodara, tetangga, sahabat, kerabat, atau malah siapa yang mengatur kurang bagusnya hubungan kita dengan orang lain yakni Allah azza wajalla. Siapa yang memperbaiki hubungannya tadi maka Allah yang memperbaikinya. Bagaimana caranya ? ada dua vertikal dan horizontal. Vertikalnya semakin berdo’a kepada Allah “Ya Allah satukan kembali hati saya dengan dia”, sering berdo’a seperti itu dan perbaiki hubungan kita dengan Allah maka Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia. Wejangan ketiga siapa orang yang memperbaiki urusan akhiratnya maka Allah akan memperbaiki urusan dunianya. Maka cobalah memperbaiki urusan akhirat kita, perbaiki sholat kita, ibadah kita, shaum kita, tholabul ilmi kita lebih sungguh-sungguh lagi dan semua urusan akhirat kita perbaiki maka Allah akan perbaiki urusan dunia kita. (wejangan atau riwayat diatas dinukil oleh imam ad-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
 Materi 03 – Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah (2) – Hinanya niat menuntut ilmu karena dunia dan balasannya

Materi 03 – Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah (2) – Hinanya niat menuntut ilmu karena dunia dan balasannya


Tarbiyah Sunnah Learning
 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim رَحِمَهُ اللهُ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Salah satu syarat diterimanya amal itu ikhlas. Allah berfirman :

..وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus ..” (QS: Al-Bayyinah: 5)

Ibadah yang teragung adalah ilmu termasuk ilmu mempelajarinya dan mengajarkannya adalah ibadah yang sangat agung kepada Allah azza wajalla wajib dilandasi secara ikhlas baik ketika mempelajarinya, mengamalkannya ataupun mengajarkannya. Maka ketika seseorang mencari ilmu, mengajarkan ilmu terlibat didalam pengajaran ilmu dan belajar ilmu lalu niatnya tidak ikhlas karena Allah berarti dia telah bermaksiat kepada Allah سبحانه و تعالى.

Berkata Al-Hasan Al-Basri rahimahullah “siapa orang yang mencari ilmu karena mencari akhirat maka dia akan memperolehnya, tetapi siapa mencari ilmu karena dunia maka itulah bagian yang dia dapatkan“. Dan yang lebih detil dan tegas yang semakna dengan itu adalah apa yang diucapkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh imam Ahmad, imam Abu Dawud, imam Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa orang yang mempelajari satu ilmu dari ilmu-ilmu yang mesti dipelajari karena Allah azza wajalla seperti ilmu syar’i tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali hanya untuk memperoleh keuntungan duniawi maka dia tidak akan bisa mencium baunya surga pada hari kiamat”

Berkata Ibnu Atha rahimahullah ketika menjelaskan orang yang berniat selain karena Allah ketika mencari ilmu “Allah menjadikan ilmu yang diberikan kepada orang yang niatnya tidak ikhlas, Allah akan jadikan itu sebagai alasan untuk membinasakan dia. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang-orang yang hadir dan mengambil manfaat dari ilmunya umpamanya orang ini ketika belajar ilmu dan mengajarkan ilmunya tidak ikhlas karena Allah dia ingin keuntungan duniawi, banyak orang yang mengambil manfaat dari ilmu-ilmunya benar tetapi ketika dia menyampaikan ilmunya atau ketika dahulu dia belajar ilmu itu tidak ikhlas karena Allah azza wajalla, maka kata ibnu Atha jangan kamu tertipu dengan banyaknya orang yang mengambil manfaat”

Sabda Nabi ﷺ ,

وَأَنَّ اللهَ يُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

“Allah itu menolong agama ini dengan orang yang fajir/pelaku maksiat” (Riwayat Bukhari Muslim)

Contohnya orang yang belajar ilmu untuk mencari keuntungan dunia dan untuk mencari kedudukan, popularitas, untuk mencari pujian manusia maka dia fajir dia orang yang durhaka bukan karena amal dan ilmunya tetapi karena niatnya. Jangankan mencari ilmu dan mengajarkannya, sholat sebagai ibadah yang super agung ketika niatnya salah maka akan menjadi maksiat. Kenapa menjadi maksiat ? karena Allah mengancam kecelakaan bagi seseorang yang lalai dalam sholatnya dan orang yang riya didalam sholatnya. Orang yang belajar ilmu dan mengajarkan ilmu niatnya tidak ikhlas maka itu maksiat pelakunya fajir walaupun ada manfaat untuk dakwah, orang banyak mengambil manfaat dari dakwahnya, apalagi dakwah sekarang ini tidak sekedar melibatkan seorang alim dan muta’alim, tidak hanya melibatkan guru dan murid tetapi melibatkan banyak pihak, seluruh bagian punya andil ada pahala sesuai dengan kadar keterlibatan dia, wajib semuanya ikhlas karena Allah azza wajalla. Kalo ada orang yang tidak ikhlas belajar mengajar bermanfaat bagi umat taubahnya seperti orang-orang yang menggotong tanggung yang berisi putri yang cantik jelita dengan memakai aneka perhiasan dari yakut dan mutiara yang dibawanya begitu berharga dan mulia yang membawanya dianggap sebagai orang-orang yang hina. Karena budak biasanya atau hamba sahaya yang status sosialnya rendah tugasnya yang begitu dan tidak dibayar dan digaji yang memikulnya dianggap hina yang dibawanya sesuatu yang luar biasa berharga. Maka para penuntut ilmu, penyebar ilmu yang tidak ikhlas karena Allah ibarat hamba sahaya-hamba sahaya yang memikul tandu yang berisikan putri yang cantik tadi dan ilmu yang disebarkannya itu diibaratkan putri yang cantik tadi. Ini penjelasan dikutip dari hasiyah musnad Abu Ya’la juz ke-11.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Materi 02 – Penghalang Pertama: Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah (1)

Materi 02 – Penghalang Pertama: Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah (1)

Tarbiyah Sunnah Learning
 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim رَحِمَهُ اللهُ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Apa saja kendala-kendala di dalam menuntut ilmu :

Pertama Thalibul Ilmi Lighoiri wajillahi ta’ala, mencari ilmu bukan karena Allah Azza wa jalla. Mungkin karena dunia termasuk pujian, popularitas, ingin dinilai orang, ingin disebut orang maka ini termasuk kendala fital yang menghapus sejak awal keberkahan dari ilmu bahkan yang lebih berbahaya orang ini akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Sebuah hadits dari amirul mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu Rasululullah ﷺ bersabda, :

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Ketika membahas hadits ini para ulama menjelaskan ketika hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya disebut terang-terangan orang itu hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi ketika menyebut siapa yang hijrahnya kepada dunia atau untuk wanita maka hijrahnya itu sesuai dengan niat hijrahnya itu kesana, disebut kesana tidak disebut maka hijrahnya kepada dunia dan kepada wanita. Maka hal tersebut menunjukan hinanya hal itu sehingga Nabi ﷺ tidak mau menyebutkannya. Berkata Abdullah bin Nasr radhiyallahu’anhu “Aku mendengar nabi kalian berkata, ‘siapa orang yang menjadikan cita-citanya seluruhnya hanya satu cita-cita yaitu cita-cita akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada dia terhadap seluruh kepentingan dunianya, tetapi siapa orang yang menjadikan cita-cita itu beragam dan seluruhnya itu cita-cita duniawi hidupnya itu tidak ada untuk mencita-citakan bahagia diakhirat, ingin bahagia diakhirat tetapi ikhtiar kesana sangat minim, Allah tidak akan peduli dilembah mana dia akan binasa. (Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ibn Majah dalam kitab sunannya. Juga imam Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak dari ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma dan hadits ini kata imam Hakim shahih sanadnya dan disepakati oleh imam ad-Dzahabi)

Berdasarkan hal ini, maka hal yang paling layak untuk diperhatikan bagi para penuntut ilmu adalah memperbaiki niat senantiasa berupaya meluruskan niat dan menjaga niat ini dari kerusakan. Kenapa ? disebutkan oleh muallif (penulis) karena ilmu itu keutamannya baru bisa diraih kalau diniatkan secara ikhlas hanya untuk meraih wajah Allah. Adapun kalau diniatkan untuk selain itu maka tidak ada lagi keutaman dalam ilmu tersebut bahkan itu akan menjadi fitnah maknanya akan menjadi adzab dan akan menjadikan kesengsaraan yang memberikan akibat buruk.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Thursday, July 30, 2020

Materi 01 - Pentingnya Mengetahui Penghalang-Penghalang dalam Menuntut Ilmu

Materi 01 - Pentingnya Mengetahui Penghalang-Penghalang dalam Menuntut Ilmu

Tarbiyah Sunnah Learning
 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim رَحِمَهُ اللهُ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Awaiq itu artinya kendala, halangan, rintangan. Ath-Thallab artinya thalabul ilmu/mencari ilmu. Jadi Awaiq Ath-thalab yaitu beberapa kendala yang sering dialami oleh para pencari ilmu.

Kita tahu bahwa sarana dan parasana para ulama zaman dahulu sangat minim. Tetapi kita lihat kitab-kitab karangan para ulama luar biasa dahsyatnya, tidak ada seorangpun para ulama zaman sekarang yang bisa menandingi hasil karya ulama-ulama zaman terdahulu. Satu ulama dengan usia hanya puluhan tahun bisa menghasilkan hasil karya tulis lebih dari 500 judul. Bisa dibayangkan umpanya Ibnu Taimiyah kitab karangan yang sudah ditemukan sekitar 500 judul. Satu judulnya entah berapa puluh jilid dan satu jilidnya ratusan halaman. Majmu Fatawa susunan syaikhul Islam 37 jilid dan itupun belum seluruhnya. Imam Ibnu Hajar rahimahullahuta’ala kitab karangan yang sudah ditemukan baru sekitar 80 judul kitab, salah satu kitab yang fenomenal yaitu Fathul Bari syarah shahih Bukhari sebanyak 13 jilid yang satu jilidnya lebih dari 500 halaman. Kalau umpanya usia syaikhul Islam hanya sekitar 50 tahun-an, tetapi bisa menghasilkan lebih dari 500 judul karangan berarti dalam satu bulan berapa karya yang beliau hasilkan, dan padahal beliau adalah orang yang super sibuk berdakwah, sibuk mengajar, sibuk berperang dan seterusnya, bahkan sibuk juga dipenjara.

Kenapa para ulama-ulama zaman dahulu dengan sarana prasarana yang super minim menghasilkan karya tulis ilmiah yang luar biasa sementara manusia-manusia zaman sekarang tidak ada yang menyamai karya ulama-ulama yang terdahulu salah satunya adalah keberkahan ilmu. Ulama-ulama terdahulu ilmunya berkah sedangkan orang-orang zaman sekarang ilmunya tidak berkah.

Salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu adalah banyaknya Awaiqoh atau kendala-kendala yang menghalangi keberkahan ilmu. Akibatnya ilmu yang diperoleh hanya sedikit. Ilmu yang sedikit ini dipahaminya juga sedikit dan kadang-kadang keliru dalam memahaminya. Untuk itulah maka sebagai para penuntut ilmu wajib kita mengetahui kendala-kendala dalam mencari ilmu untuk kita hindarkan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Asal SEO

Kisah Muslim

[Kisah Muslim][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification


لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kalian bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmat pada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat Allah, maka pasti azab Allah sangat pedih

(QS. Ibrahim Ayat 7)

Done